Minggu, 23 Desember 2012

Hikayat Waktu


1/
Waktu demikianlah
Yang katamu bisa menjawab semua tanya
Tentang keberangkatan sampai kepulangan
Bukankah hari selalu tanggal pada angka
Sampai hunian 30, bulan yang luntur
Dideret 12 Desember, sederetan mimik wajah menghiasi
Tahun membawa masa
Abad 
Bilangan berganti
Apa waktu itu begitu abadi?

2/
Keberangkatan mulai ditiup nafas ruh
Tanpa kau bisa tahu kapan kedatangan adamu
“ Kunfayakun “, atas ijin Maha abadi
Raga dan jiwa bersinergi
Dan waktu sekedar legitimasi penanda
Apa ia, sebagai segala jawaban ?

3/
Mulai jam pasir bergulir
Mengekor bayang matahari dan bintang
Lagi lagi waktumenghitung usia ranah perjalanan
Padahal bukan lama atau sebentar
Pendek dan panjang episode pengembaraan
Tapi lebih dari sekedar itu
Melukis lembaran kanvas almanak mozaik hitam dan putIh
Mencari gradasi warna yang akan kita usung waktu kembali

Hakikat abadi itu, bukan waktu !

( Sidoarjo, 21 Desember 2012 )

Cobek Ibuku


Seluas pinggan cobek
Dada ibu mengulek sambal
Ulekan menggerus halus
Ramuan pedas cabai
Kecut tomat
Aroma harum sengak terasi

Ah, ibu cecap berulang paduan menjadi harmoni
Seluas laut keikhlasanmu
Berujung nadir nasib
Tanpa merasa hatimu terbelah
Engkau tekun memunguti remahan rasa
Di antara dinding batu diam
Sejarah  Siti Hadjar
Dan wanita wanita perkasa sesudahnya

Ibu
Setiap pagi kunikmati nasi liwet hangat
Bersama sepiring lauk dari biji matamu

Secobek sambal di belah dadamu
Asup kasihmu

Nikmati, nikmati anakku, sekepal nasi tanak tunggku
Tak perlu takut bara arang !

injak, injak kaki ibu
sebagai alas kakimu
Tak usah mengaduh terbakar !

Ah, ibu
merenangi cobek sambal 
Di lautan dadamu
Segala berujung langit keihklasan
Segala berpilar di dengung doa-doamu
Tak menyulutkan nyalang semangatmu
Menyajikan sepinggan cinta tanpa luka

Sidoarjo, 22 Desember 2012

Pengakuan

Bila saja aku padamkan tungku jiwa 
Membuangnya menjauhi keinginan

Begitu sulit memendam dusta
Apakah ia akan sampai kepadamu

Kebisuan ini detik jam yang diam
Sedang namamu lekat di langit batinku
Mengental di aliran darah
Sedang pengingkaran jatuh di sudut atasmu

Angin meniupkan lengang halimun
Embun berai di tangkai daun
Padahal hujan setia menimang musim

Seharusnya kunikmati keajaiban demi keajaiban kasih
Menadahi perasaan bersyukur
Bukan menjadi sebuah penolakan
Mematikan seluruh rasaku

Betapa sulit menjadi kejam

Bayanganmu menari nari
Memberaikan segala kecamuk batinku

Sidoarjo, 15 Desember 2012

Gerimis Desember


Ada yang hilang di tangkai hari
Saat tak kutemui wangi sapamu

Kota kota tua telah kehilangan penghuninya

Gerimis merinai tak henti
Bangku taman yang basah
Bercerita tentang ranah kesepian

Desember begitu hening
Udara dingin menyapukan kepergian

Lalu angin berhembus, jatuh di pias wajahku
Bercampur hangat sisa air mata
Air mata luka dan kepasrahan

Kota kehilangan penghuninya

Barangkali karena namamu yang lekat di jagat batin
Abadi mengalir sepanjang nadi darahku
Tumbuh merimbun semua titik pori

 Kabut begitu abadi
Segala manis reguk khuldi

Dan kulihat
Wajahmu di mana mana


Sidoarjo 11 Desember 2012

Rindu Nuh

Rindu ini rindu danau.
Bah meluap tak terbendung.

Di kejauhan kumelihatmu 
Dengan perahu terkembang sepenuh layar

Seketika ku dengar suara nuh
Membawa menuju cahaya nama, 

Sebagai rumah jiwaku

( Sidoarjo, 15 Desember 2012 )

Jumat, 07 Desember 2012

Di Jendela Wajahmu

Jendela wajahmu
Adalah surau yang mengetuk dinding subuh
menghamparkan sajadah rindu
Ku sujudi sebelum pulang ke pintu-mu

Sidoarjo, 5 Desember 2012

Rendezvous November

Aku menemukan matamu singgah di kelopak malam-malamku
Mengerdipkan mimpi di luar tidur
Menanggalkan yang anggur-anggur

Juga di pagi lain 
Ada tatap di lingkar embun
Kusedekahkan untumu
Si fakir yang tak letih menempuh jalan rindu

Sidoarjo, 2012

Pesan Di Tangan Petir

: R

Selembar pesan bisu
Jatuh di mobil ambulan
Raung sirenenya mengejutkan sesobek hari
Mengundang awan prasangka
Bermuatan petir, kekasih hujan

Pesan seharusnya sampai ke tangan hujan
Rintik air jatuh di dada tanah ,

Dada tanah menumbuhkan humus
Dari humus kelak menjelma tunas

Tunas tumbuh sebagai pohon kedamaian
Dimana segala kata-kata berumah abadi

Sidoarjo, 28/11/2012

Senin, 26 November 2012

Kubah Masjid Di Keningmu


Aku menemukan kubah masjid di keningmu
Mengendapkan sujud bersama embun beku
Menyembunyikan sepi yang mengkristalkan rinduku
Sebagai tasbih di jemariki

Jika engkau adalah  kekasihku
Akan kulepas alismu dan kupasang di atas pilar surau
Yang dingin dan licin oleh air mataku

Sudah kusujudi hatimu
Sebagai lembaran sajadah yang tergelar
Bintang yang tergenggam  dalam kepal doa doaku

Engkaulah yang kelak kekasih
Sudah kubaca sebagai bahasa asih
Di hari ini, wahai oh wahai

Sidoarjo, 2012

Seusai Percakapan

Setiap percakapan menemui surau di bibirmu
Yang ingin kuseru sebagai rapalan dzikir
Mengendapkan nun yang tasbih

Lalu langit terbuka
Mencurahkan awal hujan datang
Akhir kemarau yang tembikar

Lalu jarak rahasia yang terentang
Begitu dekat memeluk kerinduan yang purnama
Waktu yang diam berdetak, menjadi saksi
Betapa adamu
Menjadi akhir musim kesunyian

Sidoarjo, 22 November 2012

Kabar Lilin

Adakah kabar dari lilin
Lama menjauhi terang
Meleleh di kelambu kelam
Membiarkan gelap
Menyamun baka
Terbunuh sumbu sepi

Tak ada kabar dari lilin

Nyali nyala hilang sinyal
Luluh mengabu
Diantara debu malam
Menggantung gigil sunyi

Hingga suatu kali
Ada kabar dari lilin
Di kertas hari
Lilin menyulut cemburu
menyadari dusta hati
Tak kuakui

Sidoarjo, 17 Nov 2012

Tentang Sajak

Sajak  adalah sulursulur merapat
Biarkan  ia tumbuh dalam jabat  mendekap jiwa
Terumbu  tumbuh terus di batin laut
Biarkan mengasin,  di duka penyair

Tak usah pedang,  tebasan  mengundang  badai
Apalah arti amuk , bila menyulut api
Garami, garami dengan sendawa  perih
Bukankah cecap garam  nyeri  jubah peziarah
Ingat Sebelum magrib datang
Kepung dengan doa doa dan langit istighfar

Sajak  bukan sekedar bunga kanthil
Apalah artinya bunga kanthil
Jika sekedar penabur makam
Hiaskan di kain  cakrawala
Dan bebaskan sebagai merpati
Biarkan menetas sebagai pendulum kata-kata

Sidoarjo, 21 November 2012

Minggu, 04 November 2012

Catatan yang tercecer dari status



Hampa

Pada pagi beku
Tak lagi kutemui  wangi embun

Antara fajar suraumu
Dinding udara,  gigil waktu yang diam
Lindap saat menepis bayang samun

Kekasih
Ingin kuciumi harum tubuh tanahmu
Sebelum kurampungkan rangkain sesal

Diantara riuh  kereta
Yang bergegas mengangkuti gerbong dosa !

Sidoarjo,3 November 2012


Labirin Rindu

Siangku garang
Kau lelehkan sebait puisi
Kerinduan berbondong barisan pinguin dari kutub
Menerjuni pantai yang menghampar di kelopak mata

Bias matahari
Menyepuh karang terbungkus salju
Pertemuan beku
Yang cair oleh tawamu

Dan tahukah engkau
Barisan awan putih mengarak rindu
Camar bertengger di puncak karang
Menyanyikan dongeng
Tentang biru langit

Nun jauh
Genta tawa itu tetap bergema
Di lonceng kuil mungil
Cahaya telah menepis dingin udara
Memaknai kesadaran tentang ujung suatu kesabaran

( Sidoarjo, 30 Otober 2012 )


Suatu Tanda

Ada pagi bening
Kutemui hutan batinmu yang rimbun
“ Tuhan mengirim bahasa yang paling puisi “,
“ Lihatlah, bayam tumbuh diatas batu cadas “ katamu
Sebuah potret sederhana, pigura abadi
Tanda yang terbaca alam

( segala kehendak, mutlak milikNya )

: Oleh-oleh cangkru ‘an nang pinggir kali

 Sidoarjo November 2012

Menghitung Rindu

Melewati sewindu senja
Bilangan detik yang tak terhingga
Tanpa mampu melupakan satu titik yang semakin jauh
Rimbun menghampar
Diantara putih awan

( Sidoarjo, Okober 2012 )

Sabtu, 20 Oktober 2012

Imajinasi Biru


Percakapan rembulan tembikar
Membuka kelopak rekahan notasi rindu
Segaris senyum cakrawala tersibak di langit
Membawa pada kenangan di Arce de Triomphe
Di bukit Chaillot, sepanjang12 avenue des champs

Segelas red wine , membakar kerinduan purba
Kata katapun runtuh
Ciumanmu begitu purnama
Kupandangi gurat kota dan gapura
Prasasti keabadian lekat wajahmu
Di sepanjang Arche de Triomphe

….. bonne nuit, Paris … un beau rêve ….. 

( Sidoarjo, Oktober 2012 )

Episode Gerhana Di Atap Rumah

Mencuri  kenaifan pagi
Saat  gerhana tepat di atap rumah
Malam datang  terbata,  mengusung  basah  air mata
Langit growong , awan gelap
Melukisi  warna  buram,  kanvas senja

Perempuan selalu lelah meniup unggun
Menunggu huma
Menyalakan dupa

Lelaki  tak berhenti membakar atap rumbia
Memburu malam
Menunda terang

Pergilah !
Bagimu  pertemuan hanyalah ektase luka

Pergilah !
Bila  angin tak mau berdamai

Pagi belum beranjak  dari gelap
Gerhana setia bertengger di atap growong
Dan kaupun belum kembali

Sidoarjo,  Oktober 2012

Khuldi Puisi

Lama  mencumbuimu dalam bahasa ghalib
Percintaan majnun nyaris tanpa akal
Sungguh betapa  magnit  begitu kuat
Merapalkan setiap nama aksara, oh puisi
Dan kujatuh bersimpuh misteri hujanmu

Sepetember berlalu menceraikan mimpi awan
Cinta hilang  ranggas terbakar  bagaskara

Oktober tak berdaun
Tangkai yang tanggal dari tubuh bulan
Samadi pohon luruh  buncah rindu
Tak tahan melupakan kekasih
Kembali  ke beranda hampa

 (Menemumu apakah  dosa ?, mencintaimu apakah kutukan )

Sidoarjo,  Oktober 2012

Pelukanmu Yang Telaga

Kita saling diam dalam bahasa kabut
Yang terwakilkan hanya lewat kakimu
Ya kakimu, rapat kupeluk, serupa selimut.

 Menopang batang tubuhku
Berayun menuju rumah kolam
Tempat  paling  hijau , meleburkan  makna kelam
 Diantara ikan-ikan ,  memandang biru matamu
Berloncatan gundah  sedari tadi menggunung di degup dada
Lalu kurebah dipelukanmu

( Selalu muncul kerinduan pada pelukanmu yang paling telaga )

( Sidoarjo, Okt ober 2012

Elegi Bintang

Di Bejana April kandas
Menderas cahaya gumintang, di antara ujung pedang
Setelah cawan kemabukan menjadi candu
Cerita Laila dan Qais
Tertawan kerahasiaan langit

Mei berukir harap
Luluh di sudut bintang


Juni , rindu tembikar
Berkilat asah
Menyatu ku -mu pada cahaya

Juli, angin mengaburkan cuaca

Agustus, kesetiaan bumerang
Mengubur cinta , mencoba
Kembali kepada pintu

September, kelabu
menghablur hampa

Oktober, Sunar temaram
Awan kenangan
Siluhet hitam masih terenda manis
Lekat pada lubuk paling biru

( Masih adakah taman itu ? )
 
Sidoarjo, Oktober 2012

Untukmu

: Perempuan yang suka menulis indah

Di atas kain blacu putih
Kita melukis jiwa
Padamu perempuan perempuan peramu mantera
Kita titipkan ruh melati dan harum mawar

Tuhan, menyiramkan berkat hujan
Menuntun gaibNya di selembar kanvas lukisan
Danau yang menghamparkan ranum cahaya


( Sidoarjo, Oktober 2012 )

Melayat Rindu

Pada harum tanah makam
Kutulis sajak tentang engkau
Yang mengamini segala hening

Tahukah rindu yang kutitipkan tepi malam
Begitu rahasia dari segala keabadian


( Sidoarjo, Oktober 2012 )

Kamis, 27 September 2012

Keranda Puisi



Telah kuikhlaskan segala demi waktu
Jika harus kukubur dalam liang                                                              
Pintamu, harus ada yang di tumbalkan

Bila  bisa menghapus  segala syak prasangka
Kusiapkan keranda untuk puisi

Sidoarjo,24/9/12

Bulan Api


Percakapan  selalu di tuntaskan dengan api
 “ Kau bukan matahari ,  kita di bulan didih “, kataku
Dan gaduh angin beruntun menerjang mata  tajammu
Melahap dalam genangan kesumat

Bara jiwa membakar jeruji kelam
Bersilangan oleh nafas nafsu
Adakah nurani menohok setiap lidahmu
Ujungnya  menyilet bersama dengus naga

Terkapar luka darah, terbakar mengabu
Prasangka melantakkan  puing-puing benteng mahligai

Adakah tersisa dari sejarah masa lalu
Kitab  menjadi bekal, mahar cinta kepercayaan

Kini di ujung jalan persimpangan
Kau,  aku adakah  jalan temu ?

( Sidoarjo, 27/9/2012 )