Kamis, 29 Desember 2011

" Nda dimana ? "


Masih tersisa sapa
Di sela gerimis yang menyisakan pelangi
Bau wangi mahoni tercium aroma hujan
Kau cerita sebentuk perih
Luka yang dalam
tapi perbincangan lewat seluler itu
Tak kulihat galaumu
Gelakmu lepas
Tawamu keras
Ditingkahi suara deras hujan........
 " Nda " aku suka riangmu,,,,,

Masih tersisa kerinduan
Saat kau tawarkan teh melati waktu pagi
Kau tangkur dalam cawan
Berenda rasa tulus persaudaraan
Dalam teguk hangat di relung sukma
Telepon dari dara yang menggugahmu
kala lantunan " Bilal " dini hari
mengiringi rentetan cerita celotehmu
" Nda" ingatkah kau moment itu ???

Ah..........
Kini cerita itu berlalu
Dipucuk gelisah yang menghablurkan tanya
Kau menghilang
Ditelan bumi
Ada apa denganmu
menyepikah untuk suatu inspirasi
"Nda" dimana dirimu??

Andai kau bisa melihat
Dikebeningan warna yang tertangkap matamu
Aku hijau... 
Auraku Hijau
Dan menghijau
" Nda " kapan kau kembali ?
---------------------------------------------------------------------------

Sidoarjo 28/12/2011

Senin, 19 Desember 2011

Aku Ingin Pulang


Laki laki langit berjalan ditepian kembara
Mencari ujung dunia yang lama telah hilang
Berjalan tertatih pada sebuah dermaga
Diujung mimpi yang tak mengenal tepi
Kenangan kapal karam yang mengentasnya pada kelimbungan
Lalu langkah tetap terayun pada tubuhnya yang penuh luka
Bergentayangan di pengembaraan yang belum menemukan batas akhir

Laki laki langit berjalan melintasi dimensi waktu
Pada warna keemasan silam yang berubah menjadi tembikar
Pada kebahagiann yang terganti duka nestapa
Pada cinta berubah jadi kesumat
Sampai tak menyisakan secuil asa
Terpuruk  jengkal langkah berelegi kelam
Pada ruh semangat yang berhenti menafasi

Laki laki langit tanpa kapal dan nakhoda
Terus berjalan serangkaian serenade sunyi  menemaninya
Hingga didepan mata ia melihat seberkas cahaya
Menuntun langkahnya pada Sang Mahabba
Bahwa hidup adalah pengembaraan abadi
Masuk pada Maqam yang telah ditorehkan di bentangan takdir
Pencerahan serupa ekor meteor

Laki-laki langit  menemukan jalan qolbu
Seribu semangat kuda pacuan masuki arela dinding semangatnya
Untuk bangkit dari kematian yang ia dongengkan sendiri
Bahwa hidup harus dilanjutkan

Elang itu kini kembali mencari jalan pulangnya
Mengentas mimpi untuk diwujudkan
menemukan bahtera baru untuk kembali pulang
Hudup harus ditaklukan !!

( Sidoarjo, 19/12/2011 )

for NM  sang elang menyongsong masa depan

Nyanyian Peradaban

Serupa siluet
kita ada dibayangan malam
Mengekor pada dimensi waktu
" Pada peradaban yang bolong "
Yang penuh garong
Disumpal  gelambir kelamin kekuasaan
Dari azas Pencabulan yang mengkaparkan
Bertahun-tahun keringat tersiakan
Sedang ode kemiskinan masih di lantunkan

Pemberontakan bisu
Erangan dibawah bayang-bayang singgahsana
Serupa lagu kematian dari sebuah negeri siluman
Burung hantu buta matanya
Dewi Themis amnesia
Kebenaran ada pada rona abu-abu

Duh Gusti......
Ruah air mata tumpah
Mengaliri merah tanah
Satu pertanyaan meruak atas satu jawaban
Peradaban yang berdiri diatas darah pejuang
Inikah arti  kemerdekaan ??

( Sidoarjo, 10/12/2011 )

Episode Sandek ( sajak pendek )

SUARA                                                         

Telah habis kata
Rindu yang terperam                       
Diantara unggun jerami
Abunya......................
Berserak dibawa angiin

( Sidoarjo,  Juli 2011)


LABIRIN

Kucari dalam keterbatasan semu
menyusuri tepian kelana
Mencari sebentuk sisa hati
Yang masih tinggal untuk dibiakan
Di peladangan gersang
.............................................

( Sidoarjo,June 2011 )


CUMAN

Apa yang kau kejar,..........
Kereta lewat sedari tadi
Jangan paksa mimpi
Engkau gergaji langitmu sendiri !
..........................................
( Sidoarjo, April 2011 )


BERSIT

Menatap gelisahmu adalah
Membaca cuaca yang tak jelas
Dikerumunan hujan,
Romansa jelaga
... Berlari meggapai arah bianglala
Di jingga langit
Semburat apinya
Sembunyikan wajah
Diantara warna langit yang pias


****** A ******
I
Biarlah ilalang menjemput mimpinya menjadi bambu
Tak sekedar rimbun tak berasa
Tapi kayu yang kokoh
buat pilar gubuk kita

II
 Biarlah ilalang menjemput mimpinya menjadi bambu
Tidak sekedar penahan air sesaat kala hujan
Menjadi jalan air sampai rinciknya
Menjadi penghantar kehidupan buat kita

( Sidoarjo 18/8/2011 )

Rabu, 07 Desember 2011

DOA

Seribu mata air mengaliri
Ribuan kilo waktu terlampaui
Hilir menuju muara berseteru himpitan rindu
Pada batu hitam
Di tepi empat  penjuru

Hening menggulung sukma
Nafasku bersetubuh dengan NafasMu
Lalu berpagut jemariku 
Dalam bisik harap
Yang hampa oleh jiwa gelisah
lalu kudekap asa dalam lautan cintaMu
Dan berulang ulang aku sebut namaMu

...................

( Sidoarjo, 3/12/2011)

Puisi Gadis Kecil dan Kereta Permen


Gadis kecil  dengan sorot mata bintang
Di telan tubuh ringkihnya
Sepucat nangka muda
Menunggu bidadari perinya
Mengajaknya pergi
Menaiki tangga istana
Bertahta permen warna warni
Membawa coklat kesukaannya
" Tapi bukan sembarang coklat "
Begitu kata bundanya
Sebab lidahnya terlalu kekal
6 tahun dicerca ARTV
Sampai tak pernah menikmati apa rasa manis itu

' Manis itu seperti petasan yang lumer dilidah
 Membuat senyum tak hilang dari wajahmu "
Begitu kata teman bayangannya
Cuma teman imajinasinya !

Ya....tak pernah ia pahami
Ia tak punya teman sejatinya
Semua yang ia dekati menjauh
Apakah ini kutukan sejak ia dilahirkan
Karmapala simalakama orang tuanya

Selalu sendiri
Beralas lara
Gigil kesepian
Memberangus dunia kecilnya

Sorot gadis kecil kian memudar
Gelisah menunggu kereta permen
Bidadari peri menjemput
Kereta yang penuh teman-teman kecilnya
Celoteh riang dan lambaian ramah
Kesakitan menghilang

Batas waktu tersisa di ujung wadag
Menyentuh dinding sukma
Menyisakan air mata sang langit

Langkah kecilnya bergegas menuju kereta
Dia paham benar
Akan abadi pada waktunya
Seperti kata kedua orang tuanya
Yang sebentar lagi menyusulnya

Matahari menata diufuk
Lengkingan tangis pecah suara bundanya
Disebuah Rumah sakit
Bangsal kelas tiga
Mata kecil itu telah padam sorotnya
Tak paham akan dosa siapa ?
Karma siapa ?

.........................................
( Sidoarjo, 1 Desember 2011 )