Senin, 30 Januari 2012

Buah Raja Membunuh Raja

Sepanjang jalan KH Mukmin
Berderet penjual durian
Dengan picku up penuh
Durian montong, durian lokal, durian syurga
Terpal digelar pesta di kibar
Siapa berduit, durian rasa selangit

Sepanjang Jalan KH Mukmin
Mobil mewah mampir menepi
Dua pria tambun bersila diterpal
10 durian super dipesan
Penjual siap melayani dua raja berdasi
Dibawah kaki langit tengah hari
Santapan nikmat, jamuan mewah

Sepanjang jalan KH Mukmin
Dua anak jalanan meneguk ludah
Diantara  polusi terbakar sepanjang trotoar
Kaleng ditabuh iringi konsernya
                     “ Itu buah raja kak, ”, nanar adiknya
Melihat lahap pria tambun menyantap tanpa palingkan kepala
                     “  Buah raja , buah beracun kata ibu “.
                     “ Ibu, bilang begitu  karena  tak mampu membeli, dik “  kakaknya berbisik
Menyela percakapan lirih di antara lantunan lagu

Sepanjang jalan KH Mukmin
Pria tambun mengulurkan recehan,
Usai konser anak jalanan
“ Cuma 200 rupiah, kak “, bisik adiknya
Dasar raja pahit, dasar raja pelit “, umpat sang kakak lirih
Siang itu mengudar cerita, buah raja dan sang raja jumawa
Anak langit mengecap fatamorgana

Sepanjang jalan KH Mukmin
Satu dari pria bertambun tiba-tiba terjerembab
Kedua dada dipegang, pupil mata terbeliak
Nafas  setarikan rasa berat
Kalut tumpah, meregang azal
Tubuh terkapar diatas terpal

Dua anak jalanan meneguk ludah
Hilang selera akan buah diraja
Gemuruh sontak menghujam sesal
Abaikan pesan sang Bunda
 “  Benar kata ibu ! “
“ Kata ibu memang benar ! “
“ Buah raja, membunuh raja “
Pekik suara tersumbat di trakhea


( Bersit syukur dihati mungilnya
Di atas  pemilik Penguasa Semesta
Keterbatasan menyelamatkan nyawanya )

( Sidoarjo, 28/1/2012 )

Aku Ingin


Ndaa......
Penjara jiwa begitu sepi
Relung lantun bait-baitku tak lazim
Luruh pada jejak pasir sudut aksaramu

Ndaa......
Karang tak selalu kokoh
Aku tak setegar dalam benakmu
... Menjemput mimpi yang tertunda semata ambigu ambisiku
Kadang gamang akan kegagalan membayang serupa hantu
Nyaliku terlalu kecil untuk kau tahu

Ndaa......
Lantun bait-bait tak lazimku
Tak mau Cuma sekedar abjad-abjad tak bermakna
Yang lusuh berdebu hanya di huma saja
Aku ingin
Tak sekedar dalam lingkaran mimpi

( Sidoarjo. 29/1/2012 )

Selasa, 24 Januari 2012

Cerita Senja Berhujan Untuk Puteri


(Ketika kau berlari menembus gerimis. Dengan buncah amarah mudamu. Perdulikan airmataku yang tertahan oleh  bilur-bilur  sesalku. Meredam duka beranjak senja yang kelam..Aku tak bisa mencegah langkahmu menerjang hujan . Menjauh dengan sisa batin jiwamu yang luka )

Memahami hati remajamu begitu sulitnya
Kristal yang pecah karena wejangku  yang salah kau mengerti
Aku punguti dan coba satukan kembali
Kurekat dengan  cinta kasih yang aku ambil dari sebagian nyawaku
Kau tak mengerti semua ini bunda lakukan karena sayang dirimu

Memahami jiwa remajamu begitu berat
Menggembala di padang yang telah aku cabuti dari duri dan kerikil
Agar kakimu tak luka karena tajamnya
Aku halau segala bayangan gelap yang coba membawa sesat arahmu
Kunyalakan  obor yang terbuat dari semua bahagian dari tulang-tulang tubuhku
Yang ujungnya apinya  abadi dengan mantera doa yang selalu melindungi nyalangnya
Menuntun jalanmu sampai ke cahaya gemerlapan

( Bayangan hujan yang menembus bajumu tanpa mantel. Terus menghantui dengan gelisahku
Aku takut  gigil dingin merutukimu. Diantara pucat bibirmu .Aku ingin memelukmu dengan kehangatan sepenuh jiwaku.  Tiga jam kau sudah diluar berkawan hujan dan senja sudah beranjak kelam  )

Jelang maghrib
Kau berdiri depan pintu dengan tubuh kuyub
Bibir biru, air mata yang  tertelan basah hujan
“ Bunda maafkan aku “,
Luah rasa bahagia yang bisa terwakilkan oleh apapun
Nafas panjang dari kelegaan yang terbalut cemas seketika sirna
Aku peluk dengan segenap kehangatan yang memancar setiap pori tubuhku
Dalam rapalan doa yang kueja lewat bait-bait kalamNya
Mengertilah nak, bunda sayang dirimu

Sidoarjo 16/1/2012
 ( Amarah hanya menyisakan serpihan kesia-sian . Amarah  semakin dalam masuk perangkap  dari jamah solusi )

LAPINDO


Menapaki tanggul menjulang
 Muram kisah Legenda sebuah desa 
Tenggelam oleh amuk lumpur meruah
Sebuah nisan peradaban dari suram negeri hantu
Di Kota mati
Kubur tandus tanpa kamboja yang tak sudi tumbuh ditepinya
Terbakar abu gersang, mewarna langit jelaga

Masih tersisa kenangan  sebelum babak sakratul
Penambang pasir bercanda di bening kali Porong
Melagukan nyanyian asa  esok masih ada matahari
Atau lambaian genit padi di sepanjang tepi sawah
 Menyuguhkan aroma wangi perdu pandan
Sebagai  penyegar netra yang berbinar
 Dan geliat Pasar rakyat
Tak pernah tidur oleh waktu
Meriap garang denyut nadi yang tetap gemuruh
Menuju gapura gemah ripah loh jinawe

Kini  semuanya tinggal remahan berdebu
Di alur kisah  tinggal sejarah
Anyir lumpur antara timbunan kerangka impian musnah
Kutuk kota mati
Terkubur diantara wajah-wajah “ zombie “
Menggapai-gapai diantara satu tangannya yang masih tersisa
Sebelum dilibas oleh peradaban yang dirampas

 Sidoarjo, 18/1/2012

Rabu, 11 Januari 2012

Aku dan Dia Mencintai Puisi Ini ( By KRISNA PATI )


Ya Rabb,,
aku mencintai sebuah puisi...

Tajam matanya menembus halimun, menukik ke ulam jantung di rundung

... Ulas senyum manisnya pesona di patri abadi di buana raya

Dan aku mencintai puisi ini Rabb...

Saat dia menuju ku dan aku menanti nya bagai laksa kunang kunang

Berhamburan menafirikan abjad abjad yang memang
Seharusnya terlisankan antara aku dan dia...

Dekap fajarnya pada ritmis memucat..

Aku mencintai lambai tangannya dan senoktah puisi selamat tinggal

Yang di tulisnya dengan tinta air mata di lazuardi mendungnya

Yang juga diwangkara mendung ku...

Dan dalam diam ku,aku dan dia mencintai puisi ini.....

Cerpen. Dongeng-dongeng Kangmas Pandu

Malam.......
Langit serupa jelaga pekat menghiasi lazuardi tanpa cahaya. Bulanpun angkuh hingga tak menampakkan batang hidungnya. Apalagi bintang yang cahayanya yang hanya dianggap kunang-kunang oleh bulan, mulai ber ego ria dari hedonisme sang Bulan. Bintangpun  tak sudi beriringan dengan bulan. Beginilah kalau alam tidak berharmonisasi pada kodrat garis Illahi. Yang lain merasa lebih tinggi diantara tertinggi di garis cakrawala. Gelap, suram aroma kota mati yang ditinggal mati di ranah leluhur oleh leluhurnya.  Malam yang membaca cuaca hatiku. Menunggu kangmasku, Pandu  pulang untuk mencari sebait dongeng yang ditembangkan untukku tiap malamnya. Seperti rutinitas ritual yang sehari-hari dilakukan. Bak rutunitas untuk buang hajat yang tidak pernah absen mengisi toilet-toilet rumah. Ah, agak sedikit menjijikkan untuk ungkapan malam ini. Barangkali ikut-ikut cuaca malam yang gelap tanpa harmonisasi. Gairah moddy terasa hambar tanpa kangmas Pandu
Ah, kangmasku belum jua pulang. Menunggu detik-detik jam bergerak terasa lamban. Berbanding lurus dengan detak jantungku yang  berpacu cepat  lewat ruang waktu

Aku melihat cicak tertidur setelah kenyang mengisi perutnya dengan nyamuk-nyamuk. Paling tidak aku perlu berterimakasih  kepadanya membantuku mengusir nyamuk-nyamuk nakal yang melahap darahku sebagai santapan makan malamnya . Berterimaksih lagi pada cicak yang menemaniku menunggu malam-malam gelisah.  Ah...mengingatkan kangmas Pandu yang selalu tak rela vampir-vampir  kecil  menghisap darahku saat aku  tertidur. Dengan setia ia melumuri tubuhku dengan minyak serai, sejenis minyak yang baunya dibenci oleh vampir-vampir kecil itu.

“ Kangmas Pandu “, bisikku dalam cemas.  Lewat waktu kau belum jua menampakkan dirimu. Aku menunggu sampai tertidur disofa yang selalu kita duduk berdua. Kau memangku diriku dengan bait-bait cerita yang terlontar dari bibir lengkungmu.  Dari romansa Ramayana. Percintaan yang tak lekang dikoyak waktu. Kau bilang kalau cinta Rama kepada Shinta adalah cinta sejati tapi sering aku protes kalau cinta sejati itu selalu menerima kekurangan Shinta dan mengerti bahwa apa yang terjadi pada Shinta bukan kesalahan Shinta semata. Tapi dari Rahwana yang terpesona pada kecantikan dan kelembutan Shinta. Sampai tak bisa menahan nafsu syahawatnya untuk menodai kesucian Shinta. Seharusnya Rama tak perlu menolak Shinta hingga shinta meleburkan dirinya masuk ke pelukan bumi. Ah..kangmas .....cerita itu meninggalkan luka di hatiku yang tidak bisa menerima akhir cinta yang tak berujung dengan tembang-tembang kebahagiaan. Mengapa harus perempuan yang jadi ego laki-laki. Coba kalau Rama yang melakukan penghianatan terpesona pada cinta....Kendedes. Pasti tak ada karma yang mengharuskan Rama menerjunkan diri kebumi seperti Shinta. Malah Rama akan menawarkan kepada Shinta dimadu apa diceraikan. Oala kangmas... kangmas...nasib perempuan serupa tangkai yang sudah layu lalu dibuang atau dibiarkan mengering begitu dipohon sampai jatuh terkulai menyentuh bumi. Kau cuma tersenyum mendengar cercauanku yang tidak menerima keadilan atas nama perempuan.
“ yayi, mana mungkinlah Rama terpesona pada Kendedes. Mereka hidup didemensi waktu yang berbeda. Ken dedes itu hidup dijaman Ken Arok “, seraya menjentikkan tanganmu dengan lembut sampai menyentuh ujung hidungku.
“ Kangmaaaaasssss, mengapa belum kau dongengkan cerita Kendedes dengan tuntas. Kemarin Cuma sepotong lalu kau mendengkur “, kesal bercampur gemas aku pukuli bahunya yang bidang. Bahu yang selalu menopangku untuk sampai terlelap dimalam-malam yang berurai madu.
“ Yayi...ampun jangan pukul aku, baiklah nanti aku lanjutkan ceritanya...tapi beri aku senyummu lagi ya. Karena wajahmu lebih indah dari seribu Kendedes.”, rayu kangmas Pandu lagi,
Aku tak kuasa kalau sudah kangmasku merayu. Luntur ruah semua amarah. Sampai tak tersisa hingga aku melupakan arti kemarahan.Dan disofa itu cerita Kendedes ia tuturkan dengan tuntas. Sampai kami tertidur dalam pelukan malam beraroma cinta

Bulan mulai mengintip di balik kelam lazuardi. Aku merasa ia mengejekku. Karena detik waktu terus merambah semakin cepat. Sebentar laku bulan hengkang digantikan langit surya. Aku melihat pandangan bulan nyinyir kepadaku . Seperti mengeja jantungku yang tak berhenti berdetak oleh suara membuncah resah, Mengapa kang mas Pandu  belum juga pulang. Tak biasanya untuk mencari bait sebuah dongeng sampai pulang sebegini larut. Aku masih duduk disofa memandang langit dari balik jendela. Dingin merayapi menembus kulitku yang tertutup sweater nilon. Kangmas Pandu....kau selalu memelukku dengan mesra ketika kurasa gigil malam yang menjilati sumsumku. Pelukan kangmas Pandu begitu hangat sampai mengusir gigil yang marah karena tak bisa menyentuhku. Aku tak butuh sweater atau mantel. Tapi kukuh tangan kangmas Pandu yang bisa mengusir rasa anyes itu. Berganti rasa hangat .

Lalu kau dongengkan lagi tentang bandung Bondowos dan Roro Jonggrang. Bandung yang Jumawa, Ambisius dan Berlaku banaspati. Wajahnya rupawan Cuma topeng nya saja, dari dalam dirinya yang berlaku angkara murka menjadi penakluk semua kerajaan. Mentasbihkan diri sebagai raja diraja. Loro Jonggrang putri jelita yang rendah hati. Luhur budi dan membenci laku adigung adiguna. Tak terbersitpun dihatinya untuk mencintai Bandung bandawasa.  Untuk menyiasati penolakan pinangan Roro Jonggrang memberikan satu syarat ia minta dibuatkan candi dengan seribu Arca dalam satu malam. Sebelum matahari terbit. Bandung bandawasa yang merasa jumawa sakti mandraguna menyanggupi persyaratan itu ,ia pun yakin pada kemampuannya.Memang dengan bantuan bala kurawa dari kaum jin Bandung Bandawasa telah menyelsaikan 999 arca sebelum fajar. Roro jonggrang tidak hilang akal muslihatnya. Dibuatlah fajar buatan dengan membakar jerami, seolah-olah fajar telah tiba dan  membangunkan ayam jantan berkokok.. Bandung merasa gagal menyelesaikan tugas itu. Tapi kemudian ia tahu siasat Roro Jonggrang. Dengan amarah yang meluap ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung. Menggenapi seribu patung candi Prambanan.
“ Kangmas, kalau dirimu seperti Bandung Bondowoso aku takkan mencintaimu”, suaraku manja seraya bergelayut dilengan kangmas Pandu.
“ Aku lebih suka kesederhanaan, melakoni hidup dengan legowo. Tresna yang didasari oleh manunggaling sang hayat. Tanpa peduli tahta, harta dan ketampanan “ ujarku kembali.
  “ Yayi, ketahilah aku juga mencintaimu , dan aku akan menyiapkan 1000 dongeng tiap malam untukmu “ 
“ Teruslah kangmas dongengkan aku tiap malam kisah dari babad tanah ini. Sebab dongeng kakangmas menjadi ruh kehidupanku. Tanpa dongengmu kakang aku akan lemas, lunglai dan segera sampa di gerbang azali “
Bulan kala itu mengintip dibalik langit. Seolah ingin melihat kemesraan kami. Aku jengah dibuatnya.
“ kangmas Pandu, kita tutup tirai itu. Rupanya ada yang cemburu melihat kita “, gumanku sedikit gusar.. Lalu kami berdua bermesra di balik tirai yang aman dari pandangan bulan.

 Detak jarum kian cepat berbanding terbalik dengan detak jantungku yang semakin melemah. Waktu sudah menunjukkan angka 3. Sebentar lagi fajar datang. Menapakkan  ujung kakinya diufuk. Tapi kangmas Panduku belum pulang dengan sebait dongengnya. Tubuhku semakin nanar dan bergelung dengan warna-warna yang semakin memudar lalu putaran serupa beliung menghentak mencopoti semua organku yang merapuh. Mataku  , hidungku. , lidah, telinga dan perasaanku. Sebelum wajahku tanpa bentuk dan tanpa rasa aku ingin bertemu dengannya.

 Kakang Pandu.........kau tidak merasa dikedalam jiwamu’, bisikku tertahan
 Tiba-tiba seberkas cahaya muncul didepanku. Cahaya yang bisa kutangkap dari sebelah mataku yang mengabur. Sosok gagah dengan baju beskap pengantin Jawa. Beskap berlengan harja, Kemeja berkerah dan bermanset. Dengan jarik sidomukti. Ia begitu tampan lebih tampan dari seribu Arjuna
“ yayi...yayi aku datang, “, Suara kakangmas Pandu lamat-lamat ditelingaku yang mulai habis indera dengarnya
“ Kakangmas!, .................kakangmas!”, kuhamburkan diriku memeluknya
Tiba-tiba bajuku sudah berganti,  baju kebaya beludu hitam. Jarik dengan motif sidomukti. Sanggul beruntai melati. Serasi dengan kangmasku Pandu, beriringan melangkah mengikuti cahaya itu. Tanpa wajah. Karena wajahku sudah rata !

“ Aku nyanyikan suatu tembang yayi penutup dongeng kita”,  ujarmu yang lamat-lamat dari satu telingaku yang sudah mulai meleleh.  ........

Aja turu sore kaki
Ana Dewa nganglang jagal
Nyangking bokor kancane
Isine donga tetulak
Sandang kelawan pangan
Yoiku bageyanipun
Wong melek sabar nerimo

Aja nganti kebanjur
Barang polah kang nara jujur
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik
Becik ngupaya iku
Pitutur engkang sayektos

Sidoarjo. 7/1/2012




Selasa, 03 Januari 2012

MAAF


Maafkan........
Kalau diriku terlalu jumawa
Diberangus arogansi bagaskara
Laku sengkuni jauh dari nilai  membumi

Sungguh.......................
Bila sudahi tali yang merapuh
Tunduk di pesanggrahan titah
Menanti eksekusi mutilasi seluruh wadagku
Aku rela

Tapi jangan Algojo aku  dengan diammu
 Karena diammu
Menghentikan oksigen langitku !


( Sidoarjo, 1/1/2012)

Cerpen.SURAT BUAT SAHABATKU

             
                        “ Neng. Aku tetap pada keykinanku.  “, suara sahabatku yang biasanya lembut menjadi bernuansa Srikandi.
                “ Walaupun onak dan duri menghalangi. Aku tetap memilih masku, seperti dirimu “, tegas sahabatku lagi

                Sahabatku.........
                Mengingatkan 16 tahun yang lalu. Ketika aku berkeyakinan dengan “ Laki-laki pilihanku “. Sungguh begitu lebar halangan yang aku tempuh. Depanku jurang, sebelah jurang sungai yng deras. Depan lagi ngarai. Coba bayangkan saja, apa kau bisa melewatinya??. Aku paham alasan menentangku
                Sungguh cinta bukan ilmu pasti  yang hasilnya sudah pasti. Teori relativitas einstein ternyata tak berlaku untuk cinta. Matematika cinta 2x2 tidak harus sama dengan empat. Cinta chemistry yang tidak ada penjelasan secara ilmiah. Ketika itu aku percaya pada kata hatiku, menjalani tanpa logika atau bertubi alasan  pertanyaan kenapa? Mengapa? Sebab apa?. Satu fokus bagiku Menuju satu muara “ Takdir “. Keputusan paling dewasa dari seorang AKU yang selalu kekanakan, implusif dan ekspresif.

                Tahukah engkau sahabatku, apa arti keputusan dewasa?. Keputusan yang membuat kau bertanggung jawab pada pilihanmu. Dengn segenap resiko dan konsekwensinya. Suatu kali kita dihadapkan pada keputusan yang tersulit. Bahkan harus menentang keputusan orang -orang tercinta. Sanggupkah kau memikul sendirian semua lakon hidupmu?. karena itu bagian dari arti KONSEKWENSI !

                Berkaca 16 tahun bukan seperti melalui jalan sutera yang segalanya halus dan mulus. Seperti melakoni cerita dengan skenario yang kita pilih. Bahkan kurun rentang waktu sekian tahun melahirkan banyak suluk. Dari suluk kamasutra, ramayana. Mahabarata bahkan suluk Srikandi sampai gatot kaca.  Berpuluh suluk yang lahir dari perjalanan waktu.

                16 tahun menyulam sutra. Semula jentik lalu larva berubah bentuk menjadi kempompong yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Baru,bayi kupu-kupu. Serupa rangkaian episode dari panggung permainan yang kita sulam. Dalam cerita lakon yang kita pilih,

                Sahabatku.........
                Kalau kau melihat penghalang dari orang-orang tercinta. Bukan berarti mereka tidak ingin melihatmu bahagia. Bahkan mereka ingin melihat hari-harimu selalu bertabur bahagia. Dengan orang yang tepat, dimana engkau sandarkan bahumu. Seperti adam yang menemukan rusuknya pada hawa. Begitu sebaliknya. Percayalah kekuatan keyakinanmu akan pilihan hidup harus engkau pertanggung jawabkan. Dihadapan Tuhan, dihadapan ayah bunda dan orang-orang tercinta.

                Ketika keyakinan sudah kau topang tongkatnya. Kau pasti tahu ia akan menuntunmu kejalan yang tak semua bisa indah dalam benakmu. Tak  seindah pada mimpi-mimpimumu. Siapkan jiwa raga untuk mengalami kejutan dari hal yang tak terduga....

                Sahabatku........
                Sekian dulu suratku. Teriring doa semoga hari-harimu bertabur bahagia. Sebentar lagi kau menuju gerbang takdir yang kau jalan. Jika memang dia yang terbaik untukmu semoga dimudahkan......

                                                                                                                Sahabatmu
PUTERI KERANG

Sidoarjo 3/1/2012