aku menggengam erat
utas balon biru yang kita isi
dengan udara kepercayaan
awas, angin peragu
ia bisa menerbangkan balonku
atau jarum prasangka
yang menusuk halus
meletuskan balonku
tak ada tukang tambal balon keliling
seperti tukang jahit keliling
jadi biarkan
Aku menggengam
utas balonku erat-erat
Sidoarjo, 20/10/2014
Sabtu, 19 Oktober 2013
Telaga
telaga itu tak mampu
menampung kemarau
dari musim yang mencekik sengit
rimbun pohon telah berlalu
menyisakan ranggas dahan
guguran daun
berserak atas tubuhnya
pada laci langit ia mentipkan pesan
sebelum surut air kenangan
Hujan yang pergi
takkan membawa gundul batin
telaga tetaplah telaga
ia sedekapkan segalanya kepada sang waktu
menampung kemarau
dari musim yang mencekik sengit
rimbun pohon telah berlalu
menyisakan ranggas dahan
guguran daun
berserak atas tubuhnya
pada laci langit ia mentipkan pesan
sebelum surut air kenangan
Hujan yang pergi
takkan membawa gundul batin
telaga tetaplah telaga
ia sedekapkan segalanya kepada sang waktu
Cacing
Biarkan aku berkalang tanah
menggemburkan cinta dengan igauan
pesta telah usai
musim sembilan akan berujung
di pekur sesal
tak sudah-sudah
Sidoarjo 22/9/2013
menggemburkan cinta dengan igauan
pesta telah usai
musim sembilan akan berujung
di pekur sesal
tak sudah-sudah
Sidoarjo 22/9/2013
Tak Ada yang Lebih Hujan dari September
tak ada yang lebih hujan dari September
ia menggugurkan semua daun
barisan awan hitam
menggulung langit kota
tanpa obor sehangat langit bolong
dan kerinduan ciuman purnama
bercerita di bawah bayang bulan bengkok
dan jejak kakimu terhapus hujan
aku mencari sepanjang jalan
barangkali masih menyisakan satu
tak kutemu
hanya bangku taman
kehilangan sepasang kakinya
burung-burung tercabut helai bulunya
menggigil di tepi waktu
tiada yang lebih pedih
selain kehilangan cinta September
tubuh pohon pun rubuh
lambaian daun perpisahan
kematian yang maha panjang
dahan rapuh
tak menampung banjir sungai air mata
tak ada yang lebih hujan
dari september
Sidoarjo, 19/9/2013
ia menggugurkan semua daun
barisan awan hitam
menggulung langit kota
tanpa obor sehangat langit bolong
dan kerinduan ciuman purnama
bercerita di bawah bayang bulan bengkok
dan jejak kakimu terhapus hujan
aku mencari sepanjang jalan
barangkali masih menyisakan satu
tak kutemu
hanya bangku taman
kehilangan sepasang kakinya
burung-burung tercabut helai bulunya
menggigil di tepi waktu
tiada yang lebih pedih
selain kehilangan cinta September
tubuh pohon pun rubuh
lambaian daun perpisahan
kematian yang maha panjang
dahan rapuh
tak menampung banjir sungai air mata
tak ada yang lebih hujan
dari september
Sidoarjo, 19/9/2013
puisi
Padepokan Puisi
Padepokan Puisi
Engkau tak pernah karnavalkan abjad-abjad
cukup jurus pendekar akrobatik kata
berjumpalitan di udara semesta
menapak kuat kuda-kuda kaki
menyentuh tanah bumi
lalu kau tempa dalam kitab langit
titah Sang Maha
guru yang tak usai untuk di puisikan
agar kelak kita mendarat selamat
sampai tiba ke tujuan
Sidoarjo. 6/9/2013
Padepokan Puisi
Engkau tak pernah karnavalkan abjad-abjad
cukup jurus pendekar akrobatik kata
berjumpalitan di udara semesta
menapak kuat kuda-kuda kaki
menyentuh tanah bumi
lalu kau tempa dalam kitab langit
titah Sang Maha
guru yang tak usai untuk di puisikan
agar kelak kita mendarat selamat
sampai tiba ke tujuan
Sidoarjo. 6/9/2013
Puisi-Lumut
Lumut
dari samadi hening
Lumut tak hendak
lepaskan tangannya dari batu
.
pancuran menumbuhkan spora
merimbunkankan hijau hati
kekalkan rumah jiwa
Sda 18/10/2013
lumut
Pada kolam kering itu
batu melepaskan tangan lumut
mata langit tak lagi menampung
di jernih bayangan
Sda 2013
dari samadi hening
Lumut tak hendak
lepaskan tangannya dari batu
.
pancuran menumbuhkan spora
merimbunkankan hijau hati
kekalkan rumah jiwa
Sda 18/10/2013
lumut
Pada kolam kering itu
batu melepaskan tangan lumut
mata langit tak lagi menampung
di jernih bayangan
Sda 2013
Langganan:
Postingan (Atom)