: perempuanperempuan yang mengalami KDRT
ku semakin yakin melangkah
tanpa bayang bayang ketakutan
dari sekapan teror teror maujud hantu
di setiap pijakan batu batu runcing
menggelinding bola petir
langit kesumba
yang memuncak kebencian
lautan amarah ladang mataharisekepala
tak putus putus meranggasi jiwamu
letih dalam pasungan takdir
gunung api menyala
berton ton muntahan lahar
membakar kesabaran
seribu luka-luka
kau tanam berabad abad lampau
beranak pinak belatung
di atas segumpal daging
menusuki rusukku
hingga pecah
darah mendidih
kutuk kesumat
kutanam dalam dalam sampai ke urat jantungku
di pusat saraf yang paling sakit
kini tak bisa lagi kubendung
desis ular berlompatan
dari rongga akalmu yang dangkal
wanita, harkat kesetiaan
sementara kau dengan jalang berkeliaran
di taman-taman sedap malam
menuding dari balik bopeng wajah hitam
zakar berlendir
sebuah persembunyian abadi
tabir tabir jahanam palsu
berdiri angkuh di atas ego kelaminmu
aku telah sampai dititik nyali yang tak kau sangka
nyawaku mengapi
dalam kubur air mata
semua mengabu
bersama kematianmu
Ekasda Juli 2015
Selasa, 21 Juli 2015
ASI
bila daun katuk berguguran
ibu kehilangan selendng dadanya
separuh langit ia padamkan
menempuh matahari zaman
lembar lembar kerinduan
menyeruak di kedua mata polos itu
mimpi yang hilang setiap detiknya
tentang dongeng
mataair maha cinta
mengalir dari kedua puting ibunya
esok ia memgigau
diangkut gerobak bersama serombongan sapi sepi
"ibu ibu ibu dimana ?"
Ekasda 2015
ibu kehilangan selendng dadanya
separuh langit ia padamkan
menempuh matahari zaman
lembar lembar kerinduan
menyeruak di kedua mata polos itu
mimpi yang hilang setiap detiknya
tentang dongeng
mataair maha cinta
mengalir dari kedua puting ibunya
esok ia memgigau
diangkut gerobak bersama serombongan sapi sepi
"ibu ibu ibu dimana ?"
Ekasda 2015
BERDIAM DI KOLAM
aku ingin berdiam di kolam
tanpa kecipak di arus tenang
berkawan ikan dan batu-batu lumut
menatap matahari sebebas burung
sesekali angin berkunjung
menampar dingin yang syahdu
aku ingin berdiam di kolam
khusyuk menyimak bahasa musim
berbisik jauh dari riuh
berdiam di bening airnya
segala tanda terbaca pelahan
menyimpan rahasiaNya tanpa kata-kata
ekasda juni 2015
tanpa kecipak di arus tenang
berkawan ikan dan batu-batu lumut
menatap matahari sebebas burung
sesekali angin berkunjung
menampar dingin yang syahdu
aku ingin berdiam di kolam
khusyuk menyimak bahasa musim
berbisik jauh dari riuh
berdiam di bening airnya
segala tanda terbaca pelahan
menyimpan rahasiaNya tanpa kata-kata
ekasda juni 2015
; Noer Miftah
merasa columbus
ia temukan benua baru
peta yang merajah nama nama tuhan di tubuhnya
seikat langit ia rengkuh
dengan tegak ia berkata seraya menuding langit
"aku pernah mengelupas lembaran angkasa dan kutemu syurga"
kau percaya ia tak jauh
sambil memeluk bidadari disampingnya
tapi acap ia terbangun
dalam mimpi yang ia bangun
mengigau dalam keyakinan yang gamang
untuk sesuatu yang ia pastikan
bahwa bidadari tetap disisinya
senantiasa rekah senyum welas asihnya
hujamana ribuan cinta dengan rajahan wangi mawar
karena bidadari tak pernah meminta
bintang sebagai mahar persembahan
ekasda juni 2015
merasa columbus
ia temukan benua baru
peta yang merajah nama nama tuhan di tubuhnya
seikat langit ia rengkuh
dengan tegak ia berkata seraya menuding langit
"aku pernah mengelupas lembaran angkasa dan kutemu syurga"
kau percaya ia tak jauh
sambil memeluk bidadari disampingnya
tapi acap ia terbangun
dalam mimpi yang ia bangun
mengigau dalam keyakinan yang gamang
untuk sesuatu yang ia pastikan
bahwa bidadari tetap disisinya
senantiasa rekah senyum welas asihnya
hujamana ribuan cinta dengan rajahan wangi mawar
karena bidadari tak pernah meminta
bintang sebagai mahar persembahan
ekasda juni 2015
FRAGMEN KAPAL
sudah lama kau meninggalkan pulau
sejak kapal terakhir
tubuhmu ditelan malam
hanya secarik pesan
yang kau tinggal di penghujung bulan
jika laut telah mengkaramkan
segala pintu penantian
Ekasda, 2015
sejak kapal terakhir
tubuhmu ditelan malam
hanya secarik pesan
yang kau tinggal di penghujung bulan
jika laut telah mengkaramkan
segala pintu penantian
Ekasda, 2015
Langganan:
Postingan (Atom)