Jumat, 25 Mei 2012

Lingkaran


Berkubang  renjana rasa      
Merekah bumi terbelah
Langit  hendak ku junjung  namun  tak mampu
Terbakar  hasrat oleh api
 Sedang angin merutuki diam
Persenyawaan bayangan
Menyisakan tanya di kaki senja
Kelambu bintang sutera
Pada akhirnya  merujuk kemana ?
Jawabnya entah 

Ah....!
Lagi dan lagi, kembali pada garis zigzag

 Sidoarjo, 3/5/12

Akhamndulillhairobbilalamin salah satu apresiasi puisi kudapan


HARUS MENCOBA SESUATU YANG BARU,

oleh Begawan Penabur Kasih pada 8 Mei 2012 pukul 23:47 ·
Sebuah karya yang nyentrik dari mbak Fevi Machuriyati dan cukup membuat saya terkesima beberapa saat.
Sekilas membaca judulnya mengantar pembaca ke sebuah sajian kuliner dimeja yang menggoda untuk meneruskan menikmati kudapan yang mendapingi segelas kopi hangat.
 Tetapi tidak demikian halnya ketika mata mulai terpancing oleh tarian diksi pada bait pertama, tersirat berbagai perasaan yang campur aduk dalam sebuah kisah cinta bersama pasanganya, tergambar sebuah kisah romansa pasangan muda remaja yang penuh dilema tetapi tertutup oleh rasa  gairah yang menggelorakan jiwa.

Nyaris senada dan sama kuatnya ketika pembaca dihadapkan dengan hidangan puisinya “ANGIN” dari keseluruhan baitnya. Hanya saja dalam puisi ANGIN, mbak Fevi menggambarkan tentang pasanganya yang cenderung menyimpan “dalam” tentang kisah rahasia.
Puisi dan Kudapan


Suatu ketika aku ingin membuat puisi cinta
Dengan kudapan yang kucampur dengan berbagai rasa
Gurih, manis dan asam yang bercampur dalam satu paduan rasa menawan
Kusisipkan sebagian jiwaku yang kadang gemuruh oleh hantaman beliung
Memercik api cemburu sebagai kembang api pelengkap aksesorisnya

Cobalah cium harum puisi cintaku, dalam kudapan
Dengan wangi rempah-rempah komplit bumi nusantara
Jahe yang sedikit pedas, Kunir yang membuatnya makin cantik
Ditambah ketumbar semakin mebuatnya gurih .
Tak lupa garam dan gula serta sedikit bumbu penyedap rasa
Aku harap seleramu menikmatinya dengan “ ganyeng “

Kekasihku,
Setelah menikmati kudapan puisi cinta ini
Wajahmu bersemu merah oleh rasa yang terbakar
Kemudian kau titipkan belahan hatimu
Dibelahan hatiku
Sebagai penutup kita menikmati buah cinta, buah strowbery merah

( Setelah ini jangan kau bilang puisi cinta cuma sampah, sebab sudah kuramu bersama kudapan )

Sidoarjo, 16/3/2012

Setelah melanjutkan pada bait kedua, pembaca dibawa dalam semangkuk kudapan beraroma gaya jawa yang kaya dengan rasa dan rempah-rempah penghangat,
Dalam bait inilahlah mbak  Fevi Machuriyati memberikan tekanan tentang keindahan dan kenikmatan kisah masa remaja yang berlanjut dalam sebuah kisah romansa cinta yang berbahagia dalam kisah-kisah asmara kehidupan.
Dengan penekanan Gayeng-nya, mbak Fevi berusaha mengajak pasanganya untuk lebih mewarnai kisah asmaranya dengan berbagai tambahan kisah-kisah singkat yang ringan tetapi membawa kesan, sehingga kehidupan lebih kaya warna dan tidak membosankan tanpa fariasi, seharian dari pagi hingga senja menjelang. Dan dengan penuh kepercayaan dan ketetapan hati menitipkanya sebagai belahan hati dan hidup bersama.


“Ya…….. kesan pertama jangan langsung menyimpulkkan sebelum menghabiskan nwaktu bersama dalam kisah penuh gairah asmara.”

Angin

Apa yang kau harap tentang angin
Ia datang melewati lorong hatimu

Kadang hanya singgah sekedar menyapa
Berkabar basi atau sekedar meluangkan percakapan

Kadang bernyanyi serupa orkestra di tanah hatimu
Kesejukan buai syair sampai menghujam ke pusara
Membawamu ke padang musim bunga
Penuh mawar “ si Marwan “

Ah.
Angin kadang bikin ribut
Sekali-kali ia menelikung
Mengipasi api
Menghujami sembilu ke dada

Tapi ia selalu pandai mengunci bibir
Di semua pintu
Hakku, bukan ?

Angin selalu tak berarah
Datang dan pergi di kefanaan
Tak selalu ramah pada cuaca
Biarkan saja ia menyelasaikan inginnya.

( Sidoarjo, 7/5/12 )

tulisan ini adalah sebagai tulisan saya yang pertama mengulas karya puisi sahabat yang selama ini  belum pernah saya coba.
Berharap dengan adanya yang pertama, semoga ada yang ke dua dan seterusnya......mohon dukungan sahabat sekalian..... salam sayang bertaluh sutra penuh harap

Alkhamndulilllah Apresiasi Satu Puisiku


Moh Syahrier Daeng

Oh, angin sampaikanlah salamku....
: bual-bual sejenak dengan pusi " ANGIN ", Fevi Machuriayati.

Perjalanan saya kali ini tanpa bekal rumus yang dibalut dalam kain sutra sastra, kecuali sekedar pengalaman panjang dari menyusuri pematang kehidupan. Mungkin ini kesilapan yang disengaja untuk mengolah puisi tanpa didukung oleh pemahaman tentang semiotik heuristik dan hermeneutik, tetapi saya yakin bahwa puisi untuk semua penikmat dan bukan hanya berkubang dalam kepentingan sastra untuk sastra. Maka izinkanlah saya mengembara bersama " angin " mengikuti geraknya hingga pada persinggahan antah berantah.

Dalam falsafah Timur sering disebut empat sumber (tanah, air, angin dan api) sebagai energi kehidupan. Saya mencoba memilih angin dengan segala ambigunya (penyimpangan arti), sebab angin dapat masuk di setiap gerak kehidupan yang disuatu waktu dapat menjadi sahabat bagi manusia,mahluk, tumbuhan-tumbuhan dan segenap isi alam dan terkadang pula angin menjadi malapetaka yang mengerikan.
Ah, saya jadi latah menginguti jejak Bengawan Penabur Kasih, tetapi apa salahnya mecoba berbagi rasa sebisanya. Tatap dan penamu asah (Ch,Catetan 1946).

ANGIN
oleh :
Fevi Machuriyati

Apa yang kau harap tentang angin
Ia datang melewati lorong hatimu

Kadang hanya singgah sekedar menyapa
Berkabar basi atau sekedar meluangkan percakapan

Kadang bernyanyi serupa orkesta di taman hatimu
Kesejukan buai syair sampai menghujan ke pusara
Membawamu kepada musim bunga
Penuh mawar " Si Marwan "

Ah,
Angin kadang bikin ribut
Sekali-kali ia menikung
Mengipas api
Menghujam sembilu di dada

Tapi ia selalu pandai mengunci bibir
Di semua pintu
Hakku bukan ?

Angin selalu tak berarah
Datang dan pergi di kefanaan
Tak selalu ramah pada cuaca
Biarkan saja ia menyelesaikan inginnya

Sang penyair memulai puisi ini dengan tanya, kemudian dijawabnya sendiri sesuai pemaknaannya tentang "angin" dengan keterbatasan ruang, sebab angin adalah keluasan yang hampir-hampit tidak terhingga. Namun dibatasinya gerak angin itu pada suatu ruang yang disebutnya " hati " (ia datang melewati lorong hatimu).

Ketika angin memasuki rongga dada, maka ia menjelma menjadi ruh, nyawa, jiwa dan sejenisnya. Dan hatilah yang menjadi maha raja menggerakkan angin ke seluruh tubuh menjadi aktivitas. Lantas sejak kapan angin itu memasuki tubuh manusia ?
Pada saat terjadi pertemuan sel dan ovum di rahim ibu, terjadilah 4 proses tahapan yang masing-masing 40 hari = 160 hari hingga berbentuk jazad tanpa gerak. Oleh karena itu, bersama rahmat Illahi menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh. (QS.32:19). Angin/ruh Illahi itulah penggerak kehidupan, sehingga si manusia kecil bisa bermain bola, menendang ke kiri dan ke kanan dalam lingkungan bundar ibunya yang sempit. (hanya si ibu yang merasakannya, sedangkan si bapak hanya mendengar kisahnya dengan penuh harap).

Selanjutnya memasuki perjalanan angin di kefanaan yang hanya menikung pada dua arah, yaitu kefasikan dan ketaqwaan : " Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan " (QS.91:18). Dan jalan itu adalah pilihan, bebas tanpa bersyarat sebagaimana yang dituang dalam akhir puisi " biarkan ia menyelesaikan inginnya ".

Benarkan angin itu " kadang hanya singgah sebentar menyapa ?". Tentu saja, sebab kepergian angin dari jazad (kematian) tak terduga. Sewaktu-sewaktu ia pergi tanpa pamit dan tanpa mampu dicegah. Oleh karena itu, kepergian angin terkadang sangat menakutkan bagi mereka yang tidak siap. Sebaliknya menjadi kecintaan bagi mereka yang menyadari dan mengharapkan.

Agak sulit memang menjelajahi setiap kata/kalimat dalam puisi dan saya memang tidak mampu menelusuri relung-relung. Hanya ada 2 kalimat yang ingin saya garis bawahi. " Angin membawamu kepada musim bunga ", bahwa angin yang terpelihara dalam nafsul mutmainnah akan mendapat tempat khusus di sisi Allah yang penuh bunga (kelezatan dan keindahan). Sebaliknya angin yang liar akan " mengipas api, menghujam sembilu di dadar " (amarah,demdam, benci,iri, sombong dalam segala macam penyakit hati).

Bagi saya puisi ini cukup runut, kecuali ada kata yang belum saya pahami, yaitu makna " Si Marwan " dan " Hakku bukan ? " Apakah ada beda dengan kata HAQ ?

Sudah sampai pada batas, saya bisa bermain dengan angin. Senja semakin menepi untuk membaca angin yang pernah dilewatinya.

Rendezvous


Kemarin kita ziarah
Ke makam mak ,bapa
Sekian lama  tak menjejak, tanah  tempat singgah

Kamboja membingkai kembali kenangan
Bebutiran pasir menyelimuti rindu
Kehangatan pengantin muda
Wajah mak, bapak melukis mentari pagi
 Lelangit doanya
Menyertakan nama kita

Di atas pusara mak,bapak
Aku melihatmu begitu manis, hari ini
Semanis mangga arummanis
Sesekali sendu masih  miris meritmis
Pada kenang dan bebayang
Lama kita berdiam
Dalam kemajemukan cinta
Lupa  awal berikrar, piatu salam
Menghitung keberangkatan demi keberangkatan
Tanpa mengerti arti pulang

Di atas makam mak, bapak
Keabadian dua pusara
Menguatkan kembali janji senja

( Probolinggo,20/5/12 )

           

Sabtu, 19 Mei 2012

SIREP

Ruang tak berjarak
Hampa tak bersuara
Khusuk tak berkhidmat
Sunyi ini bukan syahdu, kanda
Sirepmu membuatku bersalah

Aku rindu saat kau mengajakku ke tanah lapang
Hujan deras
Tak ada tempat berteduh
“ Di mana sejatinya tempat naung ?’ tanyaku
Kau hanya diam
Menunjuk pada langit
Hujan menghujamkan air ke wajah kita
Seraya tengadah

“ Itulah jatisejatinya tempat naung ! “

Kamis, 10 Mei 2012

Kehilangan Kata

Hilang kata berbilang
Terpelanting cintaku, amnesia
Bahkan mencium aroma tubuhmu,
aku kehabisan nafas
Beginilah, bila wangi puisi tak lagi menyentuh
Pulang tanpa pusara nama

( Sidoarjo 6/5/12 )

Angin

Apa yang kau harap tentang angin
Ia datang melewati lorong hatimu

Kadang hanya singgah sekedar menyapa
Berkabar basi atau sekedar meluangkan percakapan

Kadang bernyanyi serupa orkestra di tanah hatimu
Kesejukan buai syair sampai menghujam ke pusara
Membawamu ke padang musim bunga
Penuh mawar “ si Marwan “

Ah.
Angin kadang bikin ribut
Sekali-kali ia menelikung
Mengipasi api
Menghujami sembilu ke dada

Tapi ia selalu pandai mengunci bibir
Di semua pintu
Hakku ? bukan ?

Angin selalu tak berarah
Datang dan pergi di kefanaan
Tak selalu ramah pada cuaca
Biarkan saja ia menyelasaikan inginnya.


( Sidoarjo 7/5.12 )