Senin, 04 Juli 2011

Sebuah catatan Mak yah sang Kuli Batu ( Puisi )


Kutemui wajahmu menggurat
Dihamparan pasir, batu bata dan kapur
Sekop,cangkul, ayak dan sebaskom peluh
Sesekali kau seka dengan handuk yang melingkar bahumu
tatapan keras sekeras hidup yang kau lampoi
Dalam gempita gender yang suaranya  panci rombengan
Entah gaungnya untuk siapa?

kutemui wajahmu
Ketika langit tepat diatas kepala
Mataharipun tega tak bersahabat
Menghentakkan apinya  tanpa perduli
Sementara diluar sana
Perempuan memunguti wajahnya dicermin kepalsuan
Silikon, semakin menggenapi sesempurna Dewi
Kau tak pernah tahu  aphrodhite, Hera ataupun apollo
Waktumu meluruh dalam kerasnya hidup
Besok ada  pengganjal buat sang perut

Kutemui wajahmu diantara laki-laki
Koral yang menyanggah langkahmu
Berbisik lewat suara blower
Bahwa hidup harus ditaklukan !

( Sidoarjo 6 Juni 2011 )

Puisi : Anakku

Risau menyibak kelu
Menatap gundah langit yang hendak kau rajut, nak....
Engkau sudah tunjuk satu bintang
 Bersebrangan dengan mimpi bundamu
Sedang sebayamu  masih bertualang menjaring mimpinya
melintasi cakrawala , mampir dari satu asteroid
Mengendari centaurus sampai nantinya  menuju " ALDEBARAN"

Tapi...engkau bukan tanah liat, anakku
Yang bisa kubentuk seperti mauku
Kosdorkon pemikiranku dan kupaksa mengikutiku
Apa jadinya nanti,
Pualam yang tak selesai
Perih langit yang tak sampai

Engkaulah milik " Sang Hidup ",
Kuasa dan kasih  tanganNya akan menyambut langkahmu
Dan kau berlari bagai bentangan neutron
Di titik  rotasi yang kau pilih
Menapaki fotosfera dan-medan medan penghalang
Memetik bintang yang paling cemerlang
Di seluruh galaksi raya

( Sidoarjo,3 Juli 2011 )