Sabtu, 17 September 2011

Cerpen Cerita Kehidupan

     Kehidupan perkawinan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.Kami tidak pernah bertengkar hebat. Kalau marah ia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi dan mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit makannyapun sedikit. Aku pikir dia workaholik
     Dia menciumku maksimal sehari dua kali. Pagi menjelang kerja dan saat pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran ia tidak romantis. Aku pikir dia memang tidak romantis dan tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, Kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan dimeja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu.
     Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar atau main dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam aku menyangka dia tidak suka tertawa lepas.
     Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama delapan tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika di suatu hari yang terik, saat suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan sering jajan di kantornya dibandingkan makan di rumah. Dia kena typhoid dan harus di rawat di RS karena sampai terjadi perforasi diususnya. Pada saat dia masih di ICU seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri bernama Meisha, teman Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta. Ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona.Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan serangga yang akan lewat akan jatuh cinta begitu mendengar ia bercerita.
     Meisha tidak perna kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu. Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. Lima bulan lalu mereka bertemu. Karena ada pekerjaan kantor yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertaising akhirnya bertemu Mario yang membuat iklan untuk tempat perusahaannya bekerja.
    Aku mulai mengingat-ingat, 5 bulan yang lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi bekerja dia tersenyum manis kepadaku dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia membelikan aku parfum baru dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain ia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang ponselnya. Kalau aku tanya ada pekerjaan yang membingungkan.
      Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal.Karena Mario tidak mau aku suapi. Meisha masuk kamar dan menyapa dengan suara riangnya.
     „ Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomer satu ini ?. Tidak mau makan juga? .Uhff...dasar anak nakal. Sini piringnya“. Lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapinya. Tiba-tiba sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan……aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku. Seperti siang itu. Tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya. Tidak pernah sedetikpun!.
      Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi saecar untuk melahirkan anak pertamanya. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia tidak mau makan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit dari pada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah ketika ulang tahun perkawinan kami. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih asyik mencumbu komputernya dibanding aku.
      Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis. Dia bisa hadir membawakan donat buat anak-anak atau memawakan eggrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. Suatu kali dia datang bersama suami dan kedua anaknya yang lucu-lucu. Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu. Karena tanpa bertanya aku sudah tahu apa yang bergejolak dihatinya.
      Suatu sore mendung begitu menyelimuti Surabaya. Hatikupun akan mendung bahkan gerimis kemudian.  Anak sulungku yang cantik berusia 7 tahun. Rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email papanya dan memanggilku.
      “ mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ? “
       Aku tertegun dan membaca surat elektronik itu.
       Dear Meisha,
      Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh ruang hatiku. Aku tidak pernah merasa jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya. Ketika aku menikahinya, aku tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya.Tidak ada perasaan bergetar ketika aku memandangmu. Tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik ketika kami pacaran dulu aku sebenarnya kecewa. Tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku selama ini. Hatiku tetap terasa hampa walaupun aku menikahinya. 
       Aku tidak tahu bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya. Seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami. Seperti pohon-pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pohon-pohon dihutan belantara yang tidak pernah minta untuk disirami. Namun tumbuh lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak bisa memilikimu karena kamu sudah jadi milik orang lain. Dan aku laki-laki yang selalu memegang komitmen perkawinan kami. Meskipun hatiku hampa, tidaklah mengapa asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa. Dia bisa mendapatkan segala yang diinginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh harta dan tubuhku, tapi tidak jiwa dan cintaku. Yang aku berikan hanya untukmu. Aku berharap bahwa engkau mengerti. You are in only my heart

Yours Mario 

         Mataku terasa panas, Jelita anak sulungku memelukku erat-erat. Meskipun baru berusia 7 tahun dia adalah malaikat yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak bisa bahagiabersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku.
         Sejak saat itu aku menulis surat, hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop dan kutaruh di bawah lemari. Surat itu tidak pernah aku berikan untuknya.
        Mobil yang ia berikan kepadaku aku kembalikan. Aku mengumpulkan tabungan dari sisa-sisa uang belanjaku. Aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku sekolah. Mario merasa heran karena aku tidak pernah bermanja dan minta dibelikan berbagai merk tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku terlalu lama pacaran. Sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia tidak pernah menginginkanku jadi isterinya. Betapa tidak berharganya aku !. Tidakkah dia tahu aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Kenapa dia tidak mengatakan saja dia tidak mencintai aku dan menginginkan aku? Itu lebih aku hargai dari pada dia Cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku....
      Mario terus sakit-sakitan dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia terus mencintai perempuan itu dan aku pura-pura tak mengetahuinya. Aku sudah mebuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan mario adalah kebahagianku juga. Karena aku selalu mencintainya.
******************
           Setahun kemudian......................................................................................
Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah, merah dan dipenuhi bunga-bunga.
         ” Mario suamiku,........
         Aku tidak menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan dingin. Betapa senangnya aku ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah ketika kamu asyik bekerja dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin ketika kamu hanya diam dan menuruti kemauanku. Aku pikir aku ’ Si Puteri Cantik ”, yang banyak diimpikan pria telah memenuhi ruang hatimu. Dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku....
         Ternyata aku keliru....Aku menyadarinya tepet sehari setelah pernikahan kita. Aku membanting hadiha jam tangan dari teman kantormu yang dulu sangat mencintaimu. Aku melihat matamu begitu terluka.>
       ” Kenapa Rima?, Kenapa kamu mesti cemburu, Dia sudah menikah. Dan aku telah memilihmu sebagai isteriku "’ katamu
        Aku tidak perduli dan berlalu dihadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia hidup bersamaku. Aku adalah hal yang terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita sempurna yang engkau inginkan sebagai isterimu.


       Isterimu
        Rima

       Di surat yang lain
........Kehadiran perempuan itu membuat hidupmu berubah. Engkau tidak lagi sedingin es, engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta  itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha

         Di surat yang kesekian....
          .........Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah Mario. Engkau  lihatkan aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu buatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros dan suka menabung. Aku tidak suka lagi bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku menelponmu untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini ?.Aku merawatmu jika engkau sakit. Aku tidak kesal kita kau tak mau aku suapi. Aku menungguimu sampai kau tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau di rawat. Karena penyakit pencernan mu yang selalu bermasalah. Meskipun belum terbit sinar cinta dimatamu aku akan tetap berusaha menantinya.’
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya...Dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya. Di surat terakhir, pagi ini...........
        ......Hari ini adalah hari ulang tahunpernikahan kami yang ke 9 tahun. Tahun lalu engkau tidak pulang  ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang. Karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak di dunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah bude Tati sampai kehujanan dan basah kuyub. Karena waktu pulang hujan turun deras. Dan aku hanya mengendarai motor. Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku dan menyuruhku ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau suamiku, selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun pacaran dan 9 tahun menikah baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran dari matamu. Inikah tanda cinta mulai bersemi dihatimu??


       Jelita menatap Meisha dan bercerita.
        “ Siang itu mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat keceriaan di wajah Mama. Ia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah mama bersinar seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan. Tapi ketika mama menyebrang jalan, tiba-tiba mobil lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…..Aku tidak sanggup….melihat mama terlontar. Tante…..aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak bergerak lagi…….”Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit dihatinya. Tapi dia sangat dewasa.

        Meisha mengeluarkan selembar surat yang diprint tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam. Dan tadinya ingin Rima membacanya.

        Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah-marah dan berusahai menyenangkan hatiku. Dan tadi dia pulang dengan tubuh basah kuyub karena kehujanan.Aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.......Inikah tanda-tanda aku mulai mencintainya?. Aku berusaha mencintainya seperti yang kau sarankanMeisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya. Aku akan membelikan mobil mungil untuknya supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku...............


    Meisha menatap Mario yang semakin ringkih, yang tetap masih terduduk di nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam
      Semuanya sudah terjadi Mario....Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang. Ketika seseorang itu telah pergi meninggalkannya........


TAHUKAH KAMU MANFAAT TERTAWA DARI SEGI MEDIS ? ( Non Fiksi )


  Sering kita menganggap tertawa itu suatu hal yang biasa. Suatu luapan ekspresi dari bahasa tubuh kita untuk mengungkapkan suatu kegembiraan, atau reaksi spontan melihat hal yang lucu. Padahal setiap kita tertawa lepas 15 otot wajah bekontraksi. Bahkan dengan tertawa dapat merangsang  bagian otak depan, tengah sampai hipotalamasus. Tertawa juga bisa mempercepat penyembuhan penyakit.  Tertawa juga dapat menghambat aliran kortisol, hormon stres yang dapat menyebabkan peningkatan darah dan menurunkan sistim kekebalan tubuh. Artinya tertawa dapat meningkatkan sel-sel pembunuh alamiah seperti gamma interferon, sel T dan sel B yang membuat antibodi pembunuh kuman penyakit. Tertawa juga bisa merangsang batuk dan yang membantu membersihkan saluran napas. Saat tertawa terjadi peningkatan kosentrasi IgA yang terdapat pada air ludahyang melindungi tubuh dari organisme yang masuk melalui saluran pernapasan.
     Tertawa 1 menit ternyata sebanding dengan bersepeda 15 menit. Tekanan darah menurun terjadi peningkatan oksigen pada darah, otot, dada berkontraksi juga kaki dan punggung. Setelah banyak tertawa kita kadang merasa lelah, seakan baru saja melakukan aktivitas aerobik.
     Selain aktifitas fisik yang kita rasakan dari manfaat tertawa. Kita juga merasakan aktivitas jasmani. Setelah tertawa  perasaan sedih, marah dan takut akan menurun bahkan hilang. Sehingga tubuh merasakan pengaruh positiv.
     Tertawa bukan hanya bisa sebagai reaksi biologis. Tertawa bermanfaat juga sebagai reaksi sosial. Dengan tertawa akan semakin mempererat hubungan antar kelompok. Tertawa membuat rileks dan pertemanan menjadi terasa lebih indah.  Jadi tertawa juga bisa menjadi ibadah.
     Sekarang marilah kita belajar tertawa dengan jujur.    SEPERTI PESAN SPONGEBOP " TERTAWALAH SEBELUM PITA TERTAWAMU RUSAK ".

HA...HA....HA....HA....HA....

Sidoarjo, 3 Mei 2011

Minggu, 11 September 2011

Unicorn ( Cerpen )

~~~~~~~
Kupandang wajah diatas air telaga, Astaga naga! Cermin air itu membiaskan bayangan  sesosok makhluk berkaki empat mirip kuda putih dengan satu tanduk dikepala dengan sepasang sayap. Aku coba cubit tanganku merasakan apa ini semua mimpi ?????  Tapi....hah....rasa terkejut yang luar biasa karena tanganku berubah jadi kaki semua. Tersadar kalau aku sekarang di dunia berbeda. Sekelilingku pepohonan teduh dan rumpun bunga aneka warna disekitar telaga. Suara gemericik air yang keluar dari celah batu diantara belukar. Suasana hutan gunung yang masih perawan. Dan mengapa aku harus jadi kuda bertanduk??. Aku berubah wujud menjadi seekor UNICORN.

Belum hilang rasa heranku dan menemukan jawaban  dengan semua ini tiba-tiba muncul sosok jelita didepanku. Harum tubuhnya tercium dihidungku. Bibirnya ranum merakah merah tanpa lipstik. Kulitnya putih mulus berkilau diterpa sinar matahari membuat mataku sedikit buram oleh pantulannya. Rambutnya panjang diurai dengan hiasan mahkota kecil dikepala. Wow.....tubuh itu sintal berlekuk menggelorakan syahwat makhluk Adam. Terbalut kemben jarik parang. Duh gusti aku yang berubah wujud menjadi unicorn saja sampai meneguk ludah..Membuatku tak bisa berpikir dengan akal warasku lagi. Ah persetan amat biar aku berubah menjadi unicorn bahkan kambing congekpun aku tak perduli, asalkan aku bisa mendekati makhluk tuhan paling seksi didepanku itu.

" Kirrin, kemari......", suara lembut dan merdu keluar dari bibir mungilnya. Suara itu menyihirku untuk melangkahkan kaki empatku mendekatinya.
Oh......namaku di sini berubah menjadi lebih keren " KIRIN ", padahal kalau diduniaku dulu waktu aku manusia namaku " KIRUN "...gak beda jauh sih sebenarnya.

Tangan halus itu mengelus punggung tubuhku, ada rasa nikmat dibelai gadis secantik itu. Aku curi-curi kesempatan dengan mengeluskan kepalaku di pipinya. Diapun tertawa kecil...mungkin setengah geli. he..he...Jarang aku di belai gadis semolek ini. Dulu fatimah saja hitam dekil pembantu warung sebelah menolak cintaku. Nasibku di dunia selalu tak beruntung dalam soal asmara. Kirun...kirun.... pikirku  dalam hati.

" Kirin., rebahkan kepalamu dipangkuanku, ", suara itu merdu bagaikan nyanyian orkhestra. Akupun menurut saja. ia elus tandukku yang keras.......ehmm aku merasa PW nih...alias Posisi Wuenak. Tiba-tiba imajinasiku melalang buana seandainya saja aku berubah wujud lagi menjadi Pangeran tampan dan aku akan monyongkan bibirku menyentuh bibir merah basah itu....Pendar-pendar cahaya berkejap diotakku nakalku.....Sebelum fantasiku terlalu jauh tiba-tiba...

GUBRAK!!!

Seluruh wajahku basah tersiram air ember. Sebelum aku menyadari kalau aku berubah jadi manusia kembali. Kupingku mendengar suara ribut dan serapah.
" Dasar, satpam semprul !!! kerjanya molor saja.! Itu.....rumahku  baru saja kemalingan", teriakan keras Pak Deny, majikanku menyadarkanku dengan tangan menenteng timba yang sudah kosong
" keluar kamu, hari ini kamu aku pecat !!!!!,   ", Bagai disamber geledek, suara itu membuat seluruh tubuhku lemas.
Terbayang dipelupuk mata satu minggu pekerjaanku menjadi satpam rumah gak di gaji
Nasib...nasib....Unicorn.........

( Sidoarjo, 10.9,2011 )

DASAMUKA ( PUISI )

Kelam, pekat ......
Hujan sembilu lampirkan jejak pupus
Pintumu terkunci
Ketukanku tak berjawab

Kau tak bisa sembunyikan dibalik mata
Rahasia yang tak ingin tersibak

Kenapa tak tangkap saja isyarat kata
nurani kebenaran atas nama cinta
Kenapa berlari-lari dari rasa bersalah
Kelorong topeng yang berganti roman
Sejauh apapun langkahmu
memburumu dari pelarian waktu tersiakan

Tetap dalam topeng DASAMUKAMU !


( in memori dasa tahun   )

( Sidoarjo, 10/9/2011 )

Senin, 05 September 2011

Cerpen DILEMA SATRIA ( Kisah seorang ODHA )

     Jarum jam menunjukkan angka 12 tepat. Hawa dingin menyelimuti bangsal kamar no 14. Terlihat wajah kuyu dengan wajah dan bibir menghitam. Satria, pasien ruangan mawar merah, sendiri diruang itu hanya ditemani Sri isterinya. Jarum infus masih menancap dilengannya yang tinggal tulang. Selang 0ksigen masih menghias diwajah kuyunya. Nafasnya berat tapi lebih berat beban yang dipikulnya. Terlihat matanya yang gelisah tidak bisa terpejam sama sekali

      Diliriknya Sri, wanita soleha yang sedari kecil hidup di lingkungan pesantren , dinikahi 4 tahun yang lalu setelah petualangannya yang panjang dengan banyak perempuan. Sri tertidur disisi tempat tidurnya dengam posisi duduk dan kepala terbaring di kasur. Sepuluh hari ia sudah setia menunggu satria opname di bangsal kelas III ini. Tidur Sri tampak lelap sesekali ia berganti posisi kepala direbahkan kesamping kiri. Matanya tetap terpejam. Satria mengusap kepala isterinya. Rasa iba dan sayang berkecamuk didadanya.

     "Ya Allah, ampuni hamba....“, Satria bergumam lirih. Hampir mirip sebuah desah saja
     ” Sebenarnya bukan beban sakit ini yang hampir tak kuat hamba tanggung. Tapi menyatakan dengan jujur apa sakit hamba kepada isteriku “ Seraya mengusap kepala isterinya sekali lagi. Sri tetap tak bergeming mungkin karena rasa lelahnya menunggu suaminya selama 10 hari di rumah sakit. Satria menepis bayangan masa lalunya. Ketika wajah tampannya menebar pesona kesemua wanita. Ditunjang dengan kantongnya yang tebal buat merayu wanita. Karena dia anak tunggal seorang pengusaha tahu. Kedua orang tuanya terlalu memanjakan dia. Sehingga apa yang dia mau selalu ia dapat. Dan semua selalu benar dimata orang tuanya. Tidak ada yang salah walaupun kenakalannya dia sudah diluar kewajaran. Sampai ia bertemu dengan teman-teman yang menunjang kenakalannya menjadi lebih hebat. Tiap malam selalu begadang dengan pesta miras, narkoba dan astaghfirullah wanita. SMA ia habiskan dengan sia-sia. Petualangan cintanya dengan beragam wanita dari usia ABG sampai ke tante girang, dari kelas perek, mahasiswa, pelajar sampai wanita pengusaha sudah dikecapnya. Setelah selesai SMA ia tidak mau kuliah kerjaannya hanya nongkrong dengan teman segegnya. Pesta sabu, ganja, miras setiap malam ia gelar.

      Sampai suatu ketika ia overdosis di kost-kostan temannya. Orang tuanya baru tahu kalau dia sudah "SALAH ASUHAN". Syok dan kecewa membuat kedua orang tuanya mengalami serangan jantung. Yang akhirnya ketika Satria sedang berjuang dengan sakratul maut karena overdosis. Ayahnya berjuang dengan serangan jantung yang akhirnya berujung pada kematiannya. Disusul dengan kematian ibunya pula.

     Ketika satria pulih dan berangsur membaik, pecahlah tangisnya. Ketika diberitahu kalau kedua orang tuanya telah meninggal. Sesal yang mendalam yang tidak bisa ia gambarkan. Hampir ia mengakhiri hidupnya. Kalau saja teman ayahnya seorang ustad memberitahukan kalau ia diberikan nyawa kedua untuk memberikan kesempatan kalau ia bisa menebus semua kesalahannya.
      “ Tiga amalan manusia yang tidak terputus sampai ia meninggal itu ada 3 perkara: 1. Amal jariyah 2. Ilmu yang diamalkan 3. Doa anak yang soleh. “ Suara lantang H Ibrahim membuat pikirannya terbuka.
      " Satria, engkau diberi Allah kesempatan hidup kedua oleh Allah SWT, tetapi sebagai manusia yang berbeda. Dulu kamu hidup di jaman jahiliyah dan kini pergunakan kesempatan hidup keduamu untuk menjadi manusia yang lebih istiqomah. Doakan kedua orang tuamu agar diterima disisi Allah. Jadilah anak yang soleh. “, suara H Ibrahim pelan dan lembut membuka pikiran sehatnya.
      “ Ya Allah, ampuni hambamu ini. Terimakasih Abah Ibrahim telah memberiku siraman rohani . Setelah ini insyaAllah aku akan menjadi anak soleh yang selalu mendoakan ayah dan bunda. Semoga kau tempatkan kedua orang tua hamba di syurga. Amin...“ Diciumnya tangan H ibrahim sambil berurai air mata.

        Setelah itu Satria lahir sebagai manusia baru. Ia pergi jauh dari rumahnya mendalami agama disuatu pondok pesantren. Tiap malam ia menangis menyesali dosa-dosanya yang sudah diuntainya. Pondok pesantren Al Hidayahnya membawanya pada suatu pencerahan hidup. Disini ia telah menemukan ketenangan. Seperti aliran suara air ditengah oase. Batin dan jiwanya telah menemukan hakiki kehidupan. Sampai suatu ketika ia dipertemukan Sri. Salah satu santriwati di Pondok itu. Wajah yang manis dengan tatapan teduh mampu menyita seluruh hatinya. Pesona Sri terletak pada hakikat wanita muslimah sejati. Hidup Sri dinafaskan dengan apa yang sudah di aqidahkan oleh Qur,an dan Hadist

      Sri tahu gundah di hati Satria. Ia hanya menitipkan doa-doa yang harus di baca Satria untuk ketenangan hatinya.
Satria merasa tenang ketika hanya bertatap dengan Sri. Dan Sri selalu matanya tunduk tak berani menatap Satria. Akhirnya Satria memutuskan untuk melamar Sri dan Sri menerimanya.

      Dari perkawinan mereka lahir Putri yang berusia 2 tahun. Satria memilih hidup di lingkungan pondok. Ia berwirasawata membuka bengkel. Rejekinya mengalir bengkelnya mulai ramai. Hidup Satria seperti lengkap suda. Kebahagiaan dan ketenangan hidup ia nikmati. Setiap hari ia bersyukur atas limpahan rakhmatNya.

      Sampai suatu ketika dia sering merasa kurang enak badan. Flu gampang menyerangnya. Dipikirnya karena kelelahan bekerja dibengkel. Pada akhirnya dia mengalami demam hebat, disertai diare dan muntah-muntah. Kondisi badanya mengalami penurunan ketika batuk tak kunjung sembuh sampai mengeluarkan darah. Nafasnya sering sesak. Sampai serangan rasa sakit di dada yang membuatnya tak bisa bernafas. Batuk darah tak berhenti dari mulutnya, Akhirnya sampai ia dirawat di bangsal ini.

       Pagi tadi setelah visite dr Rizal menghampirinya ditemani seorang suster
      “ Bapak Satria, selain bapak dan isteri bapak apa ada keluarga lain yang bisa saya ajak bicara “, Suara pelan dr Rizal keluar sambil membolak-balik statusnya
      “ Tidak ada dok, saya tinggal hanya dengan isteri dan anak saya yang berumur 2 tahun. Kalau bicara tentang sakit saya biar sama saya saja dok. Karena isteri saya juga gak paham. Maklum kami orang desa “, jawab satria sambil menepiskan persaan cemasnya. Karena ia punya firasat. Pagi ini suster yang biasanya menyuntik dia. Mulai menjaga jarak. Handscoen mereka kenakan yang sebelumnya tidak mereka perlukan. Dua suster mulai berbisik ketika mulai menyuntik lengannya. Meski suaranya tak jelas tapi satria tahu dari matanya kalau ada sesuatu yang ganjil mengenai dirinya.
     “ Baiklah kalau begitu, tapi ini saya mohon bapak lebih tegar. Dari serangkaian pemeriksaan penunjang. Tes darah atau laborat bapak menderita sakit HIV “, suara dokter Rizal yang pelan tapi seperti halilintar di telinga Satria.
      “ Apa dok?….HIV, AIDS ya dok ? “, suara Satria tercekat serak rasanya.
       “ Benar Pak dan infeksinya sampai keparu-paru. Bapak terkena pneumoni kronis. Atau radang paru-paru “. Dokter Rizal berhenti sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya.
       " maaf Pak Satria sebelumnya saya ingin bertanya. Apa pak Satria pernah menjadi pengguna obat-obat terlarang? Atau pola hidup sexual bapak yang sering berganti pasangan?"
        Satria hanya mengangguk. Ia hampir tidak percaya dengan ucapan dokter Rozal tadi. 
       “ Bapak juga fahamkan, kalau bapak bisa menularkan penyakit ini pada keluarga bapak ? “. Tegas dokter Rizal. Satria hanya tercenung sampai tak bisa harus bicara apa.
        “ Pak Satria, tidak etis sebenarnya berbicara masalah diagnosa kepada bapak. Tapi karena kita tidak tahu harus bicara pada siapa lagi, tapi bapak harus tetap semangat melawan penyakit ini . Karena itulah yang bisa melawan penyakit ini. Saya tinggal visite pasien yang lain dulu P Satria”, Sambil menyerahkan status ke suster, dokter Rizal berlalu meninggalkan Satria.

       “ Bapak Satria infusnya mau saya ganti dulu pak, mau habis “, Suara suster Maya membuyarkan lamunan Satria. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul dua. Sri terbangun dari tidurnya. Dan bergegas berdiri.
         Setelah suster Maya meninggalkan bangsal Satria. Sri duduk menghampiri suaminya.
       “Maaf mas, saya tadi ketiduran. “, kata Sri dengan rasa bersalah.
        Satria tersenyum getir dan menggeleng.

       ” SRI MAS YANG HARUS MINTA MAAF, SAMPAI KAPAN MAS HARUS MENYIMPAN RAHASIA INI.....“ Satria hanya bisa berteriak dalam hati karena suaranya tercekat oleh bebannya yang berat….Berganti bayangan Putri anak semata wayangnya, bayangan Sri isterinya....
      “Sayang aku mau tidur sebentar ya “, bisik Satria dengan suara perih hampir berbisik

      "Lalilahaila anta inni kuntum minadzolimin…………".Satria tak berhenti berdzikir…..
        Mata satria terpejam. Setelah dzikir ia merasa tenang….Dzikir yang di ucapkan nabi Nuh ketika diperut ikan paus. Seperti itu harapan Satria. Pertolongan Allah akan datang ketika hambanya dalam cobaan
       Amiin


( Sidoarjo, 21 Desember 2010 )