Sabtu, 17 September 2011

Cerpen Cerita Kehidupan

     Kehidupan perkawinan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.Kami tidak pernah bertengkar hebat. Kalau marah ia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi dan mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit makannyapun sedikit. Aku pikir dia workaholik
     Dia menciumku maksimal sehari dua kali. Pagi menjelang kerja dan saat pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran ia tidak romantis. Aku pikir dia memang tidak romantis dan tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, Kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan dimeja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu.
     Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar atau main dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam aku menyangka dia tidak suka tertawa lepas.
     Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama delapan tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika di suatu hari yang terik, saat suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan sering jajan di kantornya dibandingkan makan di rumah. Dia kena typhoid dan harus di rawat di RS karena sampai terjadi perforasi diususnya. Pada saat dia masih di ICU seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri bernama Meisha, teman Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta. Ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona.Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan serangga yang akan lewat akan jatuh cinta begitu mendengar ia bercerita.
     Meisha tidak perna kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu. Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. Lima bulan lalu mereka bertemu. Karena ada pekerjaan kantor yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertaising akhirnya bertemu Mario yang membuat iklan untuk tempat perusahaannya bekerja.
    Aku mulai mengingat-ingat, 5 bulan yang lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi bekerja dia tersenyum manis kepadaku dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia membelikan aku parfum baru dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain ia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang ponselnya. Kalau aku tanya ada pekerjaan yang membingungkan.
      Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal.Karena Mario tidak mau aku suapi. Meisha masuk kamar dan menyapa dengan suara riangnya.
     „ Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomer satu ini ?. Tidak mau makan juga? .Uhff...dasar anak nakal. Sini piringnya“. Lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapinya. Tiba-tiba sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan……aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku. Seperti siang itu. Tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya. Tidak pernah sedetikpun!.
      Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi saecar untuk melahirkan anak pertamanya. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia tidak mau makan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit dari pada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah ketika ulang tahun perkawinan kami. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih asyik mencumbu komputernya dibanding aku.
      Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis. Dia bisa hadir membawakan donat buat anak-anak atau memawakan eggrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. Suatu kali dia datang bersama suami dan kedua anaknya yang lucu-lucu. Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu. Karena tanpa bertanya aku sudah tahu apa yang bergejolak dihatinya.
      Suatu sore mendung begitu menyelimuti Surabaya. Hatikupun akan mendung bahkan gerimis kemudian.  Anak sulungku yang cantik berusia 7 tahun. Rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email papanya dan memanggilku.
      “ mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ? “
       Aku tertegun dan membaca surat elektronik itu.
       Dear Meisha,
      Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh ruang hatiku. Aku tidak pernah merasa jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya. Ketika aku menikahinya, aku tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya.Tidak ada perasaan bergetar ketika aku memandangmu. Tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik ketika kami pacaran dulu aku sebenarnya kecewa. Tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku selama ini. Hatiku tetap terasa hampa walaupun aku menikahinya. 
       Aku tidak tahu bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya. Seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami. Seperti pohon-pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pohon-pohon dihutan belantara yang tidak pernah minta untuk disirami. Namun tumbuh lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak bisa memilikimu karena kamu sudah jadi milik orang lain. Dan aku laki-laki yang selalu memegang komitmen perkawinan kami. Meskipun hatiku hampa, tidaklah mengapa asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa. Dia bisa mendapatkan segala yang diinginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh harta dan tubuhku, tapi tidak jiwa dan cintaku. Yang aku berikan hanya untukmu. Aku berharap bahwa engkau mengerti. You are in only my heart

Yours Mario 

         Mataku terasa panas, Jelita anak sulungku memelukku erat-erat. Meskipun baru berusia 7 tahun dia adalah malaikat yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak bisa bahagiabersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku.
         Sejak saat itu aku menulis surat, hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop dan kutaruh di bawah lemari. Surat itu tidak pernah aku berikan untuknya.
        Mobil yang ia berikan kepadaku aku kembalikan. Aku mengumpulkan tabungan dari sisa-sisa uang belanjaku. Aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku sekolah. Mario merasa heran karena aku tidak pernah bermanja dan minta dibelikan berbagai merk tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku terlalu lama pacaran. Sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia tidak pernah menginginkanku jadi isterinya. Betapa tidak berharganya aku !. Tidakkah dia tahu aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Kenapa dia tidak mengatakan saja dia tidak mencintai aku dan menginginkan aku? Itu lebih aku hargai dari pada dia Cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku....
      Mario terus sakit-sakitan dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia terus mencintai perempuan itu dan aku pura-pura tak mengetahuinya. Aku sudah mebuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan mario adalah kebahagianku juga. Karena aku selalu mencintainya.
******************
           Setahun kemudian......................................................................................
Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah, merah dan dipenuhi bunga-bunga.
         ” Mario suamiku,........
         Aku tidak menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan dingin. Betapa senangnya aku ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah ketika kamu asyik bekerja dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin ketika kamu hanya diam dan menuruti kemauanku. Aku pikir aku ’ Si Puteri Cantik ”, yang banyak diimpikan pria telah memenuhi ruang hatimu. Dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku....
         Ternyata aku keliru....Aku menyadarinya tepet sehari setelah pernikahan kita. Aku membanting hadiha jam tangan dari teman kantormu yang dulu sangat mencintaimu. Aku melihat matamu begitu terluka.>
       ” Kenapa Rima?, Kenapa kamu mesti cemburu, Dia sudah menikah. Dan aku telah memilihmu sebagai isteriku "’ katamu
        Aku tidak perduli dan berlalu dihadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia hidup bersamaku. Aku adalah hal yang terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita sempurna yang engkau inginkan sebagai isterimu.


       Isterimu
        Rima

       Di surat yang lain
........Kehadiran perempuan itu membuat hidupmu berubah. Engkau tidak lagi sedingin es, engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta  itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha

         Di surat yang kesekian....
          .........Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah Mario. Engkau  lihatkan aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu buatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros dan suka menabung. Aku tidak suka lagi bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku menelponmu untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini ?.Aku merawatmu jika engkau sakit. Aku tidak kesal kita kau tak mau aku suapi. Aku menungguimu sampai kau tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau di rawat. Karena penyakit pencernan mu yang selalu bermasalah. Meskipun belum terbit sinar cinta dimatamu aku akan tetap berusaha menantinya.’
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya...Dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya. Di surat terakhir, pagi ini...........
        ......Hari ini adalah hari ulang tahunpernikahan kami yang ke 9 tahun. Tahun lalu engkau tidak pulang  ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang. Karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak di dunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah bude Tati sampai kehujanan dan basah kuyub. Karena waktu pulang hujan turun deras. Dan aku hanya mengendarai motor. Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku dan menyuruhku ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau suamiku, selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun pacaran dan 9 tahun menikah baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran dari matamu. Inikah tanda cinta mulai bersemi dihatimu??


       Jelita menatap Meisha dan bercerita.
        “ Siang itu mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat keceriaan di wajah Mama. Ia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah mama bersinar seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan. Tapi ketika mama menyebrang jalan, tiba-tiba mobil lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…..Aku tidak sanggup….melihat mama terlontar. Tante…..aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak bergerak lagi…….”Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit dihatinya. Tapi dia sangat dewasa.

        Meisha mengeluarkan selembar surat yang diprint tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam. Dan tadinya ingin Rima membacanya.

        Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah-marah dan berusahai menyenangkan hatiku. Dan tadi dia pulang dengan tubuh basah kuyub karena kehujanan.Aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.......Inikah tanda-tanda aku mulai mencintainya?. Aku berusaha mencintainya seperti yang kau sarankanMeisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya. Aku akan membelikan mobil mungil untuknya supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku...............


    Meisha menatap Mario yang semakin ringkih, yang tetap masih terduduk di nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam
      Semuanya sudah terjadi Mario....Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang. Ketika seseorang itu telah pergi meninggalkannya........


Tidak ada komentar:

Posting Komentar