Sabtu, 20 Oktober 2012

Imajinasi Biru


Percakapan rembulan tembikar
Membuka kelopak rekahan notasi rindu
Segaris senyum cakrawala tersibak di langit
Membawa pada kenangan di Arce de Triomphe
Di bukit Chaillot, sepanjang12 avenue des champs

Segelas red wine , membakar kerinduan purba
Kata katapun runtuh
Ciumanmu begitu purnama
Kupandangi gurat kota dan gapura
Prasasti keabadian lekat wajahmu
Di sepanjang Arche de Triomphe

….. bonne nuit, Paris … un beau rĂªve ….. 

( Sidoarjo, Oktober 2012 )

Episode Gerhana Di Atap Rumah

Mencuri  kenaifan pagi
Saat  gerhana tepat di atap rumah
Malam datang  terbata,  mengusung  basah  air mata
Langit growong , awan gelap
Melukisi  warna  buram,  kanvas senja

Perempuan selalu lelah meniup unggun
Menunggu huma
Menyalakan dupa

Lelaki  tak berhenti membakar atap rumbia
Memburu malam
Menunda terang

Pergilah !
Bagimu  pertemuan hanyalah ektase luka

Pergilah !
Bila  angin tak mau berdamai

Pagi belum beranjak  dari gelap
Gerhana setia bertengger di atap growong
Dan kaupun belum kembali

Sidoarjo,  Oktober 2012

Khuldi Puisi

Lama  mencumbuimu dalam bahasa ghalib
Percintaan majnun nyaris tanpa akal
Sungguh betapa  magnit  begitu kuat
Merapalkan setiap nama aksara, oh puisi
Dan kujatuh bersimpuh misteri hujanmu

Sepetember berlalu menceraikan mimpi awan
Cinta hilang  ranggas terbakar  bagaskara

Oktober tak berdaun
Tangkai yang tanggal dari tubuh bulan
Samadi pohon luruh  buncah rindu
Tak tahan melupakan kekasih
Kembali  ke beranda hampa

 (Menemumu apakah  dosa ?, mencintaimu apakah kutukan )

Sidoarjo,  Oktober 2012

Pelukanmu Yang Telaga

Kita saling diam dalam bahasa kabut
Yang terwakilkan hanya lewat kakimu
Ya kakimu, rapat kupeluk, serupa selimut.

 Menopang batang tubuhku
Berayun menuju rumah kolam
Tempat  paling  hijau , meleburkan  makna kelam
 Diantara ikan-ikan ,  memandang biru matamu
Berloncatan gundah  sedari tadi menggunung di degup dada
Lalu kurebah dipelukanmu

( Selalu muncul kerinduan pada pelukanmu yang paling telaga )

( Sidoarjo, Okt ober 2012

Elegi Bintang

Di Bejana April kandas
Menderas cahaya gumintang, di antara ujung pedang
Setelah cawan kemabukan menjadi candu
Cerita Laila dan Qais
Tertawan kerahasiaan langit

Mei berukir harap
Luluh di sudut bintang


Juni , rindu tembikar
Berkilat asah
Menyatu ku -mu pada cahaya

Juli, angin mengaburkan cuaca

Agustus, kesetiaan bumerang
Mengubur cinta , mencoba
Kembali kepada pintu

September, kelabu
menghablur hampa

Oktober, Sunar temaram
Awan kenangan
Siluhet hitam masih terenda manis
Lekat pada lubuk paling biru

( Masih adakah taman itu ? )
 
Sidoarjo, Oktober 2012

Untukmu

: Perempuan yang suka menulis indah

Di atas kain blacu putih
Kita melukis jiwa
Padamu perempuan perempuan peramu mantera
Kita titipkan ruh melati dan harum mawar

Tuhan, menyiramkan berkat hujan
Menuntun gaibNya di selembar kanvas lukisan
Danau yang menghamparkan ranum cahaya


( Sidoarjo, Oktober 2012 )

Melayat Rindu

Pada harum tanah makam
Kutulis sajak tentang engkau
Yang mengamini segala hening

Tahukah rindu yang kutitipkan tepi malam
Begitu rahasia dari segala keabadian


( Sidoarjo, Oktober 2012 )