selesailah bila ambang waktu
mesin hanyalah penyambung nafas
dari penundan batas maut
cinta dan kepedihan tak akan lama
singgah menjadi cerita
berakhirnya segala harapan
Sidoarjo, Agustus 2014
Sabtu, 20 September 2014
Kembali ke Kota
lama meninggalkan kota
berderet kenangan terjuntai dari pinggir trotoar
patahan sajak tercecer
berjatuhan dari pohon bungkam
berderet kenangan terjuntai dari pinggir trotoar
patahan sajak tercecer
berjatuhan dari pohon bungkam
di ujung jalan lengang
seorang perempuan buta
meraba-raba dengan tongkatnya
menghitung berapa kelelahan lagi
waktu yang ditempuhnya
sampai di mataair abadi
Sidoarjo Agustus 2014
seorang perempuan buta
meraba-raba dengan tongkatnya
menghitung berapa kelelahan lagi
waktu yang ditempuhnya
sampai di mataair abadi
Sidoarjo Agustus 2014
Taman
tinggal kenangan
bunga bunga semai di taman
kelopak berkilau
mengusir langit kemurungan
bunga bunga semai di taman
kelopak berkilau
mengusir langit kemurungan
suatu hari di taman
matahari terpenggal merah
membawa garang kemarau
helaian fana berguguran
rebah di atas tanah diam
kurindu malam duduk di taman
bulan biru menerangi sudut dekat jendela
bagai kota yang dibordir
dengan kembang warna-warni
Sidoarjo Agustus 2014
matahari terpenggal merah
membawa garang kemarau
helaian fana berguguran
rebah di atas tanah diam
kurindu malam duduk di taman
bulan biru menerangi sudut dekat jendela
bagai kota yang dibordir
dengan kembang warna-warni
Sidoarjo Agustus 2014
Doa Sebelum Malam
sebelum malam menguban
aku ingin menyisir helai demi helai
rambut rambut kecemasan
agar tak kusut
bila ku menjumpaiMu
Jika kelak pertemuan subuh
masih bisa dikenangkan
sebelum datang bayang bayang ufuk
maka kutangkupkan tubuh
mendekapMu!
sebagai isyarat
ritual penghabisan
sebelum datang bencana
Sidoarjo, Agustus 2014
masih bisa dikenangkan
sebelum datang bayang bayang ufuk
maka kutangkupkan tubuh
mendekapMu!
sebagai isyarat
ritual penghabisan
sebelum datang bencana
Sidoarjo, Agustus 2014
Pekuburan
tinggal dingin menusuk tulang
pelan pelan singgah
menyusuri dataran hening
angin beku
tak menggerakkan dahan
runtuhan kamboja
melepaskan guguran kembang
dari ruang ruang ketiadaan
keabadian tak pernah kekal
seperti perahu
suatu saat pergi
meninggalkan pantai
berlayar jauh
ke tengah samudra
dan
sayup sayup terdengar
lengkingan peluit memanggil
dari corong berduka
bagi suatu pagi yang pergi
Sidoarjo, September 2014
tak menggerakkan dahan
runtuhan kamboja
melepaskan guguran kembang
dari ruang ruang ketiadaan
keabadian tak pernah kekal
seperti perahu
suatu saat pergi
meninggalkan pantai
berlayar jauh
ke tengah samudra
dan
sayup sayup terdengar
lengkingan peluit memanggil
dari corong berduka
bagi suatu pagi yang pergi
Sidoarjo, September 2014
Usai Pesta
seusai pesta
hanya aroma anggur tertinggal
reremahan keriuhan pelan pelan menjauh
menyekat dinding dinding kesunyian
lalu para pelayat pesta
menaburkan bunga di atas tubuh tubuh limbung
gadis pelayan terdiam
memunguti pecahan botol
yang dilempar pemabuk gila, malam tadi
dari retak lantai ia menyusun mozaik menjadi penggalan cerita novel
yang tak pernah berujung indah
seusai pesta
Adakah yang bisa dikenangkan?
selain lambai kesepian dan luka luka
mengiringi upacara kesedihan
tanpa dengung doa doa
Sidoarjo, September 2014
menaburkan bunga di atas tubuh tubuh limbung
gadis pelayan terdiam
memunguti pecahan botol
yang dilempar pemabuk gila, malam tadi
dari retak lantai ia menyusun mozaik menjadi penggalan cerita novel
yang tak pernah berujung indah
seusai pesta
Adakah yang bisa dikenangkan?
selain lambai kesepian dan luka luka
mengiringi upacara kesedihan
tanpa dengung doa doa
Sidoarjo, September 2014
Langganan:
Postingan (Atom)