Rabu, 25 Desember 2013

Memadamkan Kabut

kaukah lesatan suar?
yang turun di balik lembah 
menghardik kelam
dengan gema genta

selongsong anak-anak kabut
berlarian di padang hujan
memutar jam takdir
dengan detik terbalik

bangunlah, sayup suara
menggugah mimpi

guguran daun berserak
meninggalkan aroma kefanaan


Sidoarjo. desember 2013

Sabtu, 02 November 2013

Tiga Centi Dari Pelupuk dengan Tangan

aku pernah mengeluhkan jarak
yang menebaskan keinginan
untuk sampai ke pelukanmu

aku datang dan berjanji
menerka esok 
membaca penerbangan pagi
dengan bibir yakin

ampuni diriku
selalu keluh dan berjanji
melupakan nafas tanganNya

pertemuan  mimpi kesabaran
rahasia sang empuNya Waktu


Sidoarjo Oktober 2013

Kebun Tubuh

Di kebunku mengalir sungai
menyusuri kedalaman tubuhku

sepanjang tepinya 
berbunga batu

ia tumbuh 
dari biji bulan yang cantik

bila malam tanpa kunang
bunga batuku bercahaya

melagukan sajak
" lihat kebunku"
di ruang ruang belukar


Sidoarjo, 29.10.2013

Isyarat Sunyi

pagi sepi merayapi
bisu lukisan
embun wajah

Siang nihil kata
tanpa gurau 
angin kemarau
melindap risau

Benang- benang malam
merajut kecemasan
bulan kelam

dari mata terjaga
dari kelelapan
sunyi itu tandang

di mana engkau?


Sidoarjo 30 Oktober 2013

Angin

sepulang angin
tak ada yang ditunggu
selain luruh daun
di jendela rumah

Sidoarjo, 1/11/2013

Sabtu, 19 Oktober 2013

Balon

aku menggengam erat
utas balon biru yang kita isi
dengan udara kepercayaan

awas, angin peragu
ia bisa menerbangkan balonku

atau jarum prasangka
yang menusuk halus
meletuskan balonku

tak ada tukang tambal balon keliling
seperti tukang jahit keliling

jadi biarkan
Aku menggengam
utas balonku erat-erat

Sidoarjo, 20/10/2014

Telaga

telaga itu tak mampu
menampung kemarau
dari musim yang mencekik sengit

rimbun pohon telah berlalu
menyisakan ranggas dahan

guguran daun
berserak atas tubuhnya

pada laci langit ia mentipkan pesan
sebelum surut air kenangan

Hujan yang pergi
takkan membawa gundul batin

telaga tetaplah telaga
ia sedekapkan segalanya kepada sang waktu

Cacing

Biarkan aku berkalang tanah
menggemburkan cinta dengan igauan

pesta telah usai
musim sembilan akan berujung


di pekur sesal
tak sudah-sudah

Sidoarjo 22/9/2013

Tak Ada yang Lebih Hujan dari September

tak ada yang lebih hujan dari September
ia menggugurkan semua daun

barisan awan hitam
menggulung langit kota

tanpa obor sehangat langit bolong
dan kerinduan ciuman purnama
bercerita di bawah bayang bulan bengkok

dan jejak kakimu terhapus hujan
aku mencari sepanjang jalan
barangkali masih menyisakan satu
tak kutemu

hanya bangku taman
kehilangan sepasang kakinya

burung-burung tercabut helai bulunya
menggigil di tepi waktu

tiada yang lebih pedih
selain kehilangan cinta September
tubuh pohon pun rubuh

lambaian daun perpisahan
kematian yang maha panjang

dahan rapuh
tak menampung banjir sungai air mata

tak ada yang lebih hujan
dari september

Sidoarjo, 19/9/2013

puisi

Padepokan Puisi

Padepokan Puisi

Engkau tak pernah karnavalkan abjad-abjad
cukup jurus pendekar akrobatik kata
berjumpalitan di udara semesta

menapak kuat kuda-kuda kaki
menyentuh tanah bumi

lalu kau tempa dalam kitab langit
titah Sang Maha
guru yang tak usai untuk di puisikan

agar kelak kita mendarat selamat
sampai tiba ke tujuan

Sidoarjo. 6/9/2013

Puisi-Lumut

Lumut

dari samadi hening
Lumut tak hendak 
lepaskan tangannya dari batu
.
pancuran menumbuhkan spora
merimbunkankan hijau hati
kekalkan rumah jiwa

Sda 18/10/2013



lumut

Pada kolam kering itu
batu melepaskan tangan lumut
mata langit tak lagi menampung
di jernih bayangan


Sda 2013

Jumat, 23 Agustus 2013

Duri Landak

atas kehendak dahan
duri dibiarkan tegak

sebagaimana seekor landak
yang berhias duri
di atas daging sendiri

 Sida 22/08/2013

Sajak Biru

gending gamelan
suara rebab
gesekan mandolin
tembang kinanthi 
sudut syahdu malam pantaimu

pada pasiir diam
laut tenang
berlarian sajak biru

seutas senyumku
tertawan di pipi bulan
lalu angan menapaki langit ungu


Sidoarjo 21/8/2013

Minggu, 18 Agustus 2013

Pohon Rindu

Langit menampung
pohon kata-kata
sebagai puisi
yang kita simpan di batang jiwa

kelak kita petik
sebagai anggur syurga
 yang tak usai untuk di puisikan

dan acap kurindukan
menyentuh daun-daun tubuhmu
sebelum kuning berguguran 
diterpa matahari cemburu

Sidoarjo,05/08/2013

Firasat

aku ingin menuliskan kesunyian
di atas laut mati 
tanpa gelombang 
menyapu riak
mengampungkan risau

aku lihat dari pantai nun jauh
perahumu senoktah titik
berlayar di samudra sepi

Dan aku setia menunggui musim
bersama kenangan imaji
yang kau tinggalkan di jejak pasir


( ** Akupun sadari engkaulah firasat hati )

** cuplikan syair firasat by marcell

Sidoarjo  Agustus 2013


Pahatan Puisi Ida

bahasamu menyimpan batu
di setiap akhir puisi-puisimu 
ada sesuatu yang terkunci
jauh di dasar jurang hati

saat kutengok dari bibir tebing
kabut menebar di bawah sana
aku harus turun
atau kutunggu muncul gema
dari mulutmu yang sederhana

Puisi Soni Farid Maulana

Bulan Biru

KASIDAH HENDRAYANI


Begitu berat aku meninggalkan dirimu
meski sehari. Tidak, bahkan meski
sedetik jauh dari sisimu. Kau tahu, hatiku
sungguh rapuh dijerat nafsu hitam kota besar,
digoda tujuh dara hijau toska.
            Sungguh semua itu cintaku adalah wajah maut
yang lain. Dan aku tak ingin mati di atas ranjang
yang itu. Yang menjauhkan ruhku dari cahaya alif,
dari kilau ayat-ayat suciNya yang kau daras
di gelap subuh di sisiku yang fana.
            Ketahuilah cintaku aku kendi kosong
dan engkau adalah anggur yang diperas
Yang Maha Kekal untukku. Bila kendiku pecah
oleh sebab kurang ajarku; sungguh celaka aku
terpelanting ke dalam jurang kegelapan.
            Cintaku, esok ajalku tiba, tuangkan
bismillah juga kalimah suci ke dalamnya.
Sungguh engkau anggur yang menyegarkan
ingatanku ke arahNya yang bebas
dari kehancuran.


2010

Pulang Kepada Kitab

Pada akhirnya semua harus pulang
menutupkan segala almanak
menghatamkan cerita
di lapang jiwa

matahari angslup di wajah senja
membenamkan sisa kenang memasung 
dari balik bayang cakrawala

pada akhirnya semua harus kembali
dan begitulah garis sungai

Sidoarjo 18/8/2013

Jumat, 26 Juli 2013

Puisi-Puisi Juli 2013

Begitulah Engkau Masuk

Begitulah engkau masuk
dari pintu yang lama tertutup
menusuk pagi benderang
dengan selimut embun

aku membiarkanmu
menjelajahi segala peta
yang kau sebut dengan rindu

pernah kutahan gelombang 
agar tak meleburkan
seluruh ketakutanku
akan gempa

merubuhkan tiang jiwa
hingga membunuh kesadaran

sampailah ketaklukanku
yang kian menghendaki kekal
atas segala  kenangan yang punah

begitulah engkau masuk
dari ufuk menepis ragu
ketika keyakinan mengaburkan tanya
segala menjadi jawaban

menjelma mula
di antara kabar datang dan yang pergi

Begitulah kusiapkan
satu pintu keluar
dengan bendera warna  terang 
tergantung di balik daun pintunya
bila engkau menghendak

Sidoarjo 19/7/2013


Pigura Sepasang Kaki di Cakrawala

Usai perjamuan
malam mandi cahaya
masih tersisa puncak rembulan

menerjuni lembah
rimbun cemara

gema igaumu
adalah gerak langit yang pecah
mendekap sukma

Dan selembar tubuhmu
tumbuh sepasang kaki
yang mengapit cakrawala

Sidoarjo, 7 Juli 2013


Konstruksi September

Kubangun narasi
dari iga beton Juli.
batu-batu grafiti bersimbul tegak
menepiskan segala kesangsian

kubangun sungguh sungguh
konstruksi September
dari dzikir alif mim dan nun

segala namaMu,
kuseru dalam tasbih yang paling hening
doa yang paling langit
menegakkan surau rindu

Kun Fayakun!

Sidoarjo 9 Juli 2013


Amnesia

kau lupa terakhir kali
tukang sulap menampar pipimu
dengan dongeng yang kau sulam
dari negeri angin yang jauh

Sidiarjo 18 Juli 2013

Melodius Suatu Siang Puasa

Siang melelehkan batu kata-kata
begitu manis sihir awan
tercekat pesona selarik siang yang puisi

angin menghembuskan sepoi
matahari di atas langit kuning muda 

Duhai
sebentar lagi datang
simpuh senja gemulai
kepada sang pemilik semesta

memahami gerak alam
sebagai isyarat jiwa
kembali ke ranah pulang

Sidoarjo 13 Juli 2013


Duh!

Senyummu menambal cacat bulan
malam di matamu retak
padahal langit masih menjanjikan biru
mengusap datar telaga

tak ada kepergian
bukan sekedar singgah
melainkan sudah rumah 

Sidaarjo, 22 Juli  2013


Pita Romadhlon

simpul pita warna pucat,
bibir tergantung di pintu

maghrib telah dingin,sayang.
dan tarawih beranak ibu saja:piatu engkau

sudah kau hitung detik-detik yang hilang
romadhlon pertama 

(di meja menyisakan tudung warna kelabu )

Sidoarjo Juli 2013

Semoga Tapenya Manis

menyimpan senyum pada cangkir teh semalam
yang tertinggal di beranda, 

seperti musim yang tak pasti
tapi kita telah sepakat
memastikan kelak yang mesti

rindu matang september
yang kita peram
dari ragi juli

( Jari-jari tengadah menyusun mohon )

Sidoarjo, Juli 2013

Selasa, 02 Juli 2013

Puisi Puisi Juni 2013

Bing

Bing
aku mendengar lagu hujan
ia menitipkan siluet kenangan
tentang rindu yang basah

hujan begitu murah hati
Ia berkatkan suasana sepenuhnya milik sepi

Petik rintiknya, menghembuskan kesyahduan abadi
dan dingin yang menyamun gigil malam

Bing
bila kau mencariku suatu hari
aku ada di antara jantung hujan

Sda 6/6/13


Tunggulah, di Tibet

pada matamu chuan han
dingin yang abadi, mount everest

kening seribu pagoda
jubah para dalai yang selalu mengatupkan salam " Amitabha"

Ah, kapan aku bisa sampai ke negerimu
berkendara liama, yang lucu
bila marah ia menyembur ludahnya

Tahukah engkau Chuan Han,
kotaku penuh semburan lumpur
tapi kami tak marah,
sebab air mata telah mengimpaskan segala duka

kemarahan suatu yang sia-sia bukan?

Suatu kali aku akan sampai ke kotamu
negeri ditangkai awan
segala keteduhan adalah pelabuhan duka
tunggulah!

Akan kubawakan setangkup lumpurdan
kita abadi di atas everest,
di puncak salju sebagai conello
Ice cream kesukaanku

Sidoarjo, 12 Juni 2013


Suluk Sepasang Beringin Kembar

Dulu tumbuh sepasang pohon beringin kembar depan pendopo
daunnya yang payung menjulurkan teduh jiwa

ia bahagia menjadi bagian duka rakyat
kesah tentang paceklik yang tak kunjung usai

Demang pendengar yang arief
bergegas ia menadah segala ratap wong alit
depan pendopo,tebar senyum tulus
tersungging di atas kumisnya yang melintang
beringin bagian sejarahmata hati rakyat

Usai suluk zaman bedoyo ,
berkibarlah lagu demokrasi
pesta baliho dan umbul-umbul di tegakkan
atas nama wakil rakyat
berjuta janji
berjuta mimpi
berjuta buih-buih dan jari mengangkat" Demi Tuhan, kamilah pundak rakyat"
nama demang hanya tinggal kenangan

Lantas apa yang terjadi?
sihir politik
bius buih-buih janji
ambisi pribadi
melupa khittoh semula

pundak rakyat yang di embannya
menjadi pundi rakyat yang di gembolnya

budaya baru mulai ditegakkan
budaya anti malu
budaya pencuri
budaya kedok dalam baju badut-badut berdasi

dalam igauan yang panjang
sepasang beringin tua depan pendapa
memandang hampa

bendera setengah pancang berkibar di langit nusantara
menunggu detik kematiannya

Sidoarjo 12 Juni 2013

Epos Ramayana

Sejarah adalah patahan kenangan
15 tahun dari mesin waktu
Drama ramayana, tergelar di pentas hidup

ia ada
mengetuk pintu jendela
pada lipatan yang tertutup rapatd
ari segala biru hitam
dari peraman luka-luka

" Apa khabarmu rahwana ?
"pernahkah dalam benakmu
Shinta memutar takdir

Sidoarjo 24 JUNI 2013

Meninggalkan Juni

Perahu masih terbata mengeja juni
terdampar di karang batu
menenggelamkan awan gulita 
di sisa kanal usia

masihkah jauh sampai kepulauMu
pantaiku ingin menujuMu
mendekap suar
membuka jalan pada cahayaMu
menggelar wudlu ampunku


Sidoarjo 30 JUNI 2013