Jumat, 31 Agustus 2012

Rumah Telur

Pernah ku bertanya pada tuhan
Mengapa takdir tinggal di rumah telur ?
Piatu jendela

Piatu pintu
Dunia sebatas cangkang

Cemburui kupu kupu
Terbang kibas sayap cantiknya
Mengangkasa hinggap satu ke lain bunga

Cemburui juga siput
Pelan dan pasti bergerak membawa rumah cangkangnya semau hati

Sampai suatu hari
Ada suara halus mengetuk dinding dinding bisu

" Hai kau punya sesuatu di tempurung kepalamu "
Masukilah!
Masukilah!

Bertualanglah!
Berualanglah !

Tambahkan ramuan imajinasi
Kau akan menjadi kekupu kembara

Ya, ya, ya
Betapa kulupa
Bahagian tubuh adalah komponen
Paling sempurna
Piranti sang Maha

( Sidoarjo, 2012)

Potret Keabadian

Sepasang mata rembulan muram di langit, aku ingin menjelmakan cahaya diwajahnya, Dan kita menjadi potret keabadian karang, laut, ikan dan cahaya rembulan di hamparan semesta

Tulus

Berikan sebagian air matamu, yundaku
Kurenangi sepanjang sirip papaku

Biarkan dwiwangkara menyaput awan muram
Menjadi pelangi abadi

Berikan sekuntum kambojamu, yundaku
Akan kurapal menjadi keajaiban doa mengubahnya menjadi melati

Rekahkan senyummu yunda

Biarkan kupunguti kuntumkuntum kelopakmu sebagai sesaji kebahagiaan

Maknai setiap cintaku ialah ketulusan
 
( Sidoarjo, 30/8/2012 )
 

Abstraksi Cinta Di Pohon Randu

Ia cinta, kutemukan di juram jurang
Ketika tak ada harapan
Membawa ke pendakian
Menuju Maha Puncak

Padanya kubelajar mencintai dengan luka
Padanya kubelajar melihat dengan gelap

Padanya kubelajar memahami hantam badai

Ialah cinta yang kutemukan di juram jurang
Yang tak selalu utuh
Berai merupa kapuk
Berterbangan di kesiur angin

Saat ujung waktu menjadi mata panah
Batas takdir
Ia, merubahku menjadi kuntilanak
Mendiami wingit randu

( Sidoarjo, 30/8/12 )

Senin, 27 Agustus 2012

Laut

Kusebut dirimu laut
Membiru refleksikan langit
Balutan awan selalu menggelisahkan getar
Tatapan sehijau lumut
Menghablur warna mata batin
Intuisi selalu menujumu

Kusebut dirimu laut
Saat kaki cakrawala menyentuh ujung batas
Garis fajar dan garis senja
Dimana menemu persuaan
Kekasih puisi abadi

Kusebut dirimu laut
Menyelami dasar adalah kerahasian
Keghaliban Sang Maha
Kusandarkan segala tumpah rindu dan cinta
Padamu laut
 
( Sidoarjo 2012 )

Jarum


Jarum kata
Menusuk perih intra vaskuler

Seampul arsenikum
Cukup halus
Mengalir ke nadi
Sebar merah sebilik jantung
Melelapkan fana

(Bukankah virus kasih sudah mendiami jagat trombosit darahku, menjadi imunisasi damai ?)

Sidoarjo 25/8/12

Mudik


Pinjam pintu Doraemon
Aku ingin kembali
Pada harum cemara
Saat embun mengerling pagi

Rerumputan yang rebah
Selalu mengundang kantung rindu
Senyum perawan
Rekah dalam damai

Alam  menyediakan kulkas hidup
Tak usah jauh mencari ke swalayan

Symponi jangkerik malam hari
Menjadi pelengkap kidung pengantar tidur

Pinjami pintu Doraemon
Tak perlu menunggu lebaran
Pulang ke rahim bunda

Sidoarjo, 26/8/12

Rabu, 22 Agustus 2012

Cerpen Cerita Kehidupan

  Kehidupan perkawinan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.Kami tidak pernah bertengkar hebat. Kalau marah ia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi dan mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit makannyapun sedikit. Aku pikir dia workaholik
     Dia menciumku maksimal sehari dua kali. Pagi menjelang kerja dan saat pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran ia tidak romantis. Aku pikir dia memang tidak romantis dan tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, Kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan dimeja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu.
     Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar atau main dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam aku menyangka dia tidak suka tertawa lepas.
     Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama delapan tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika di suatu hari yang terik, saat suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan sering jajan di kantornya dibandingkan makan di rumah. Dia kena typhoid dan harus di rawat di RS karena sampai terjadi perforasi diususnya. Pada saat dia masih di ICU seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri bernama Meisha, teman Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta. Ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona.Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan serangga yang akan lewat akan jatuh cinta begitu mendengar ia bercerita.
     Meisha tidak perna kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu. Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. Lima bulan lalu mereka bertemu. Karena ada pekerjaan kantor yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertaising akhirnya bertemu Mario yang membuat iklan untuk tempat perusahaannya bekerja.
    Aku mulai mengingat-ingat, 5 bulan yang lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi bekerja dia tersenyum manis kepadaku dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia membelikan aku parfum baru dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain ia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang ponselnya. Kalau aku tanya ada pekerjaan yang membingungkan.
      Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal.Karena Mario tidak mau aku suapi. Meisha masuk kamar dan menyapa dengan suara riangnya.
     „ Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomer satu ini ?. Tidak mau makan juga? .Uhff...dasar anak nakal. Sini piringnya“. Lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapinya. Tiba-tiba sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan……aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku. Seperti siang itu. Tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya. Tidak pernah sedetikpun!.
      Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi saecar untuk melahirkan anak pertamanya. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia tidak mau makan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit dari pada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah ketika ulang tahun perkawinan kami. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih asyik mencumbu komputernya dibanding aku.
      Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis. Dia bisa hadir membawakan donat buat anak-anak atau memawakan eggrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. Suatu kali dia datang bersama suami dan kedua anaknya yang lucu-lucu. Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu. Karena tanpa bertanya aku sudah tahu apa yang bergejolak dihatinya.
      Suatu sore mendung begitu menyelimuti Surabaya. Hatikupun akan mendung bahkan gerimis kemudian.  Anak sulungku yang cantik berusia 7 tahun. Rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email papanya dan memanggilku.
      “ mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ? “
       Aku tertegun dan membaca surat elektronik itu.
       Dear Meisha,
      Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh ruang hatiku. Aku tidak pernah merasa jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya. Ketika aku menikahinya, aku tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya.Tidak ada perasaan bergetar ketika aku memandangmu. Tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik ketika kami pacaran dulu aku sebenarnya kecewa. Tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku selama ini. Hatiku tetap terasa hampa walaupun aku menikahinya. 
       Aku tidak tahu bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya. Seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami. Seperti pohon-pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pohon-pohon dihutan belantara yang tidak pernah minta untuk disirami. Namun tumbuh lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak bisa memilikimu karena kamu sudah jadi milik orang lain. Dan aku laki-laki yang selalu memegang komitmen perkawinan kami. Meskipun hatiku hampa, tidaklah mengapa asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa. Dia bisa mendapatkan segala yang diinginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh harta dan tubuhku, tapi tidak jiwa dan cintaku. Yang aku berikan hanya untukmu. Aku berharap bahwa engkau mengerti. You are in only my heart

Yours Mario 

         Mataku terasa panas, Jelita anak sulungku memelukku erat-erat. Meskipun baru berusia 7 tahun dia adalah malaikat yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak bisa bahagiabersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku.
         Sejak saat itu aku menulis surat, hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop dan kutaruh di bawah lemari. Surat itu tidak pernah aku berikan untuknya.
        Mobil yang ia berikan kepadaku aku kembalikan. Aku mengumpulkan tabungan dari sisa-sisa uang belanjaku. Aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku sekolah. Mario merasa heran karena aku tidak pernah bermanja dan minta dibelikan berbagai merk tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku terlalu lama pacaran. Sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia tidak pernah menginginkanku jadi isterinya. Betapa tidak berharganya aku !. Tidakkah dia tahu aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Kenapa dia tidak mengatakan saja dia tidak mencintai aku dan menginginkan aku? Itu lebih aku hargai dari pada dia Cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku....
      Mario terus sakit-sakitan dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia terus mencintai perempuan itu dan aku pura-pura tak mengetahuinya. Aku sudah mebuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan mario adalah kebahagianku juga. Karena aku selalu mencintainya.
******************
           Setahun kemudian......................................................................................
Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah, merah dan dipenuhi bunga-bunga.
         ” Mario suamiku,........
         Aku tidak menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan dingin. Betapa senangnya aku ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah ketika kamu asyik bekerja dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin ketika kamu hanya diam dan menuruti kemauanku. Aku pikir aku ’ Si Puteri Cantik ”, yang banyak diimpikan pria telah memenuhi ruang hatimu. Dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku....
         Ternyata aku keliru....Aku menyadarinya tepet sehari setelah pernikahan kita. Aku membanting hadiha jam tangan dari teman kantormu yang dulu sangat mencintaimu. Aku melihat matamu begitu terluka.>
       ” Kenapa Rima?, Kenapa kamu mesti cemburu, Dia sudah menikah. Dan aku telah memilihmu sebagai isteriku "’ katamu
        Aku tidak perduli dan berlalu dihadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia hidup bersamaku. Aku adalah hal yang terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita sempurna yang engkau inginkan sebagai isterimu.


       Isterimu
        Rima

       Di surat yang lain
........Kehadiran perempuan itu membuat hidupmu berubah. Engkau tidak lagi sedingin es, engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta  itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha

         Di surat yang kesekian....
          .........Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah Mario. Engkau  lihatkan aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu buatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros dan suka menabung. Aku tidak suka lagi bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku menelponmu untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini ?.Aku merawatmu jika engkau sakit. Aku tidak kesal kita kau tak mau aku suapi. Aku menungguimu sampai kau tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau di rawat. Karena penyakit pencernan mu yang selalu bermasalah. Meskipun belum terbit sinar cinta dimatamu aku akan tetap berusaha menantinya.’
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya...Dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya. Di surat terakhir, pagi ini...........
        ......Hari ini adalah hari ulang tahunpernikahan kami yang ke 9 tahun. Tahun lalu engkau tidak pulang  ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang. Karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak di dunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah bude Tati sampai kehujanan dan basah kuyub. Karena waktu pulang hujan turun deras. Dan aku hanya mengendarai motor. Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku dan menyuruhku ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau suamiku, selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun pacaran dan 9 tahun menikah baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran dari matamu. Inikah tanda cinta mulai bersemi dihatimu??


       Jelita menatap Meisha dan bercerita.
        “ Siang itu mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat keceriaan di wajah Mama. Ia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah mama bersinar seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan. Tapi ketika mama menyebrang jalan, tiba-tiba mobil lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…..Aku tidak sanggup….melihat mama terlontar. Tante…..aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak bergerak lagi…….”Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit dihatinya. Tapi dia sangat dewasa.

        Meisha mengeluarkan selembar surat yang diprint tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam. Dan tadinya ingin Rima membacanya.

        Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah-marah dan berusahai menyenangkan hatiku. Dan tadi dia pulang dengan tubuh basah kuyub karena kehujanan.Aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.......Inikah tanda-tanda aku mulai mencintainya?. Aku berusaha mencintainya seperti yang kau sarankanMeisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya. Aku akan membelikan mobil mungil untuknya supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku...............


    Meisha menatap Mario yang semakin ringkih, yang tetap masih terduduk di nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam
      Semuanya sudah terjadi Mario....Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang. Ketika seseorang itu telah pergi meninggalkannya........


Randu


Rimbun sebatang randu
Teduh naungi mata air kecil

Akarnya kuat melilit batu batu cadas
mencari hara menuju lesap tanah

Kehidupan tidaklah harus julang dan tegadah
Mulailah dari akar yang menguatkan batang
Berkambium tumbuh semakin kokoh
Beranak pinak menjadi perdu reranting
Dan ranting bertunas, tumbuhlah nafas nafas daun
Ya nafas, sebatang randu nafas kehidupan
Menjadi payung semesta

Sebatang randu
Tumbuh rimbun di gunung
Akarnya melilit kuat batubatu cadas
Julur ujungnya sentuh  mata air

Sebatang randu dan mata air
Kesatuan ekosistim
Harmoni alam
Mengeja semesta

Sidoarjo, 17/8/12

Hijab syawal

Bulan terbasuh dingin air baskom
Luruh noktha daki panca indera, serikan sinar wajah
Di senandung takbir tahlil dan tahmid
Hijab syawal putih
Menghias cahaya mahkotanya
............
( Sidoarjo 19/8/2012 )

Jumat, 10 Agustus 2012

Orkestra Kuaci

Sering kumengunyah biji kuaci
Dari savana bunga matahari
Dengan bahasa yang paling laut

Musim mengelir warna,
Mengirim aneka rasa kuaci
Asin, gurih, manis, kecut
Lidah lidas, kusantap tandas
Memacu adrenalin
Mengikuti riap irama notasi puitik

Ada yang belum tergenapi , puitik tanpa resonansi
Kuaci biji matahari tak bernyanyi
Orchestra gagu, musik bisu
Savanahku hanya hampar rumput kering,
Bukan, bukan bunga matahari
Ingin anginku tak beriring

Duhai, kupinta Maha Orchestra
Kapan tiba waktu
Kunyah kuaci dengan irama puitik

( Sidoarjo, 9/7/12 )

* ingin melihat baca puisi.... *

Ladang Semangka

Jagad Kata


: Mas Dedet Setiadi ( Miladz )

 Kata adalah rimba yang luas
Tempat tersunyi segala keghaiban
Membuka tabir tiap belukarnya
Sampai menemukan padang cahaya

Tak perlu julang gunung
Tebingpun bisa jadi kata

Tak harus jauh menyeru keriuhan
Cukup di keheningan

Tak usah menunggu musim
Jagad jiwa selalu lebih musim

Tak harus belenggu jeruji sangkar
Biarkan lahir, tanpa kebiri

Kata sebenar debar rindu
Bersidekap keabadian
Sampai waktu
Menguluk salam paling kembara
Pada satu

" Aku rindu rumah”

( Sidoarjo, 12/7/12 )

Api


Aku melihatmu menjadi api
Dengusmu api,
Lidahmu api
Matamu api

Dimana dulu api yang menghangat
Di pijar dekap gadis korek api
Gigil hujan rutuki dia yang beku di beranda
Air mata adalah kenangan keindahan
Dari beribu malam yang luka

Kaulah api
Dengusmu api
Lidahmu api
Kau pernah menjadi naga
Membawa amanah mutiara syurga
Bersemayam di langit , tuhan
Kini kau bukan,
Aku tak mengenali


Sidoarjo, 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

Misteri Aksara

Dalam diang yang paling bara
Rindu itu mengabu
Memang seharusnyakah, atau
Seharusnya memang
Bila misteri abjad hanya sampai di bilangan kini
Kenanglah di genang bayang yang paling tergelap

Sidoarjo , 4 07 12

Laci

Titip kunci laci ketiga, bulan
Rahasiakan pada langit malam
Rindu ini basah

Senja masih bergayut setia
Rona merah jambu, lengkung awan

Ah !
Tak sabar tunggu sua petang
Saat bintang tandang

Sidoarjo, 14072012

Rumah Telur

Masuklah kekasih
Kusediakan rumah telur
Jangan kata, dunia sebatas cangkang
Piatu pintu, piatu jendela
Kenapa tak kau buka gerbang pintu
Di tempurung kepala
Sedikit ramuan imajinasi
Kau menjadi kekupu kelana

Untuk Maya

Kepulangan adalah bagian akhir episode
Tetirah melintasi ranah fana persinggahan
Kita sesiapa bukan
Segala muara kesana
Begitupun keberangkatan

Juli ini memang berat
Ujian dari Sang Maha uji
Mencintai haqulNya
Lepaskan seperti udara, sebab
Awalnya kita hanya balon setiupan
Tanpa daya cinta

Saat kekasih kembali
Ingatlah ia memeluk Kekasih sejati
Ia tidak mendekap kematian
Ia mendekap keabadian
BersamaNya ia baka

Kehidupan bukan segalanya
Ia akan berai di musim semi
gelap saat di terang
Hidup saling menggenapi
Ada duka ada tawa
Apakah engkau pahami rencanaNya ?

( Sidoarjo, 26/7/ 2012 )

Episode Cermin Buram

Di puncak gletser tertinggi
Api matahari melelehkan beku
Yang tercium bau busuk
seperti luka nanah mengaliri
Sungai dan anak anak sungai

Sidoarjo 29/09/2012

Usai

Dalam biasan waktu, di gelung bisu
Sebait kata telah usai

Tak harus luka,tak harus duka
Bila restu langit
Belum mengamini
Gerbang sudah tertutup

Pada wadah jiwa kuikhlaskan segalanya


Sidoarjo ,030812

Bayang Hujan

Denting hujan
Mengembunkan kenangan
Sebentuk morfosa wajah yang lindap
Di rindu paling biru

Pigura waktu begitu kental
Senyummu terpahat lipatan kelam
Rindu ini semakin jelaga
Hujan dan bayangmu
Menari nari, berkecipakan
Diantara rinai

Sidoarjo,070812

Aku Tetap Perempuan

Pada suatu pagi
Kuciumi harum basah rambutmu
Pada daun mengabarkan cerita
Percintaan dibawah rumah bambu
Kita duduk berdua, di atas meja batu
Dibawah kolam ditemani dua ikan
Bermain dakon dengan biji asam jawa

Seputaran giliranmu mengisi lumbungnya
Irisan gula jawa sudah kuselipkan disaku, bekalmu

Saat kau tarik pedati dengan kerbaumu
Kayuh jauh kekasih, penuhi lumbung kita

Suara kodok mengiringi percintaan
Adakah yang lebih indah
Selain menatap bayangan
Aku tetap perempuan,

( Sidoarjo 2012 )

Puisi kolaborasi di Kusas

MASIH ADAKAH CINTA UNTUKMU, INDONESIAKU?
Oleh: Joseph Harsawijaya, Chuppy Afiani, Ayano Rosie, Onald Anold, Mawar Jingga Rindukan Damai, Fevi Machuriyati, Dedet Setiadi, Akar Hujan, Driya Widiana M.S. dan Kang Riboet Gondrong
Di keriput renta wajahmu
masih kukenali binar sayu matamu
biaskan sisa sisa kejelitaan Ibu
sosokmu nan cantik menggoda
bak rona dewi kayangan Suprabawati
berabad lamanya kobarkan birahi
dan hasrat hati bangsa bangsa manca
'tuk mempersunting memilikimu
Binaran birahimu yang memancar
terjual oleh tangan tangan kotor penuh keserakahan
tak peduli tubuhmu koyak terobek kejam
bersebab rupiah yang menggiurkan
Kau lara di parasmu yang rupawan
sedang tangan tangan jahil
makin rakus menguliti
tubuh mungilmu
Ah, luka meradang pada darah matamu
Ibu
Ibu
Ibu
Selalu senyum sungging di bibirmu
peluk hangat menjaga anak-anakmu
doa-doa panjang dan panjang di binar matamu
Walau air mata sering tumpah tak terarah
akibat gerayangan tangan tak bertanggung jawabkan
membuat ibu menjadi kering kerontang
tapi ibu tetap bertahan dalam penderitaan
Merah langit
membekas prasasti
Tentang darah pejuang
Tertumpah bumi merah
Dongeng kemenangan negeri gemah ripah
dan kini menjelma bayang buram
atas peradaban negeri tergadai
Susu ibu menjadi kisut
Tubuhnya tak semenawan silam
Lihatlah, tali pusar katulistiwamu dulu
yang membentang bagai selendang sakti itu
kini penuh luka bacokan pedang
tak henti mengucurkan darah ketuban zaman
Dan dari rahim sucimu
berlahiran anak-anak yang mengaji kitab pecundang
melupakan kuburan nenek moyang
lupa jalan pulang
Sampai langit tua merenta dan bisu
kau tetap IndonesiaKu
Sampai tanah membakar darah
maka di sinilah kita
IndonesiANUS
Ah, Ibu
Usah kau larakan anakmu
itu hasrat penindasan
semakin nyata dalam matamu
merah semerah darah yang mengalirkan luka
putih tak seputih cinta
yang kau sisipkan di tulang
pembelamu
sambil menantikan lahirnya
Gunawan Wibisana, Kumbakarna, Hanoman dan Raden Jaya Wijaya
anganku mengembara
menjelajahi Nusantara
di bawah umbul-umbul gula kelapa,dan
Sumpah Amukti Palapa
sambil berharap turunnya Sang Gajah Mada
yang mampu merangkul Negeri Loh Jinawi
Di keriput renta wajahmu
masih kutemukan kesetiaan
mengantar pagi
menjemput senja
menyelimuti malam
dengan segenggam mimpi
tentang esok pagi.
2 Agustus 2012

Puisi-puisi kolaborasi di KuSas

PENARI HUJAN
Oleh: Kang Riboet Gondrong, Puteri Salju Rahysta, Among Raga, Fevi Machuriyati,
Ayano Rosie, dan Neny Isharyanti
Pada sebaris gugus hujan,
aku menemuimu dalam riuh
dedaunan yang disapu angin
melantunkan tembang kasmaran
kerinduan pada dahan dan akar
bermekaran bebunga di taman
bersama kumbang kelana
menanti embun di fajar hari
bersama ceria mentari menyinari
batang-batang pohon cemara
ranting ranting kelana
--- aku terpesona
kaki-kaki hujan yang lincah
mengukir percik, mengikuti irama
hujan yang cantik,
rindu menggelitik
mengusik bisik yang berisik
menabur rindu dalam hitungan detik-detik
yang terlewati,
menyusun waktu
menyimak gerak jemari
hentikan geriap
pada akhir derap
Denting hujan
Mengembunkan kenangan
Sebentuk morfosa wajah yang lindap
Di rindu paling biru
Pigura waktu begitu kental
Senyummu terpahat lipatan kelam
Rindu ini semakin jelaga
Hujan dan bayangmu
menari nari, berkecipakan
di antara rinai derai hujan
mengecup cemara
mengembunkan harap
dan nyanyian sendu sang daun hujan
menyelimuti dalam kenangan
membuyarkan indah damai
saat kenangan menari di pelataran hati
bersama indah sampur merah hati
gemulai lincah
membangunkan gundah
Dan engkau, penari hujan itu, terhempas dalam gericih gerimis gigil hati
Oh, perih!
Pekalongan-Hong Kong-Malang-Sidoarjo-Makassar-Salatiga
6-8 Agustus 2012