MASIH ADAKAH CINTA UNTUKMU, INDONESIAKU?
Oleh: Joseph Harsawijaya, Chuppy Afiani, Ayano Rosie, Onald Anold,
Mawar Jingga Rindukan Damai, Fevi Machuriyati, Dedet Setiadi, Akar
Hujan, Driya Widiana M.S. dan Kang Riboet Gondrong
Di keriput renta wajahmu
masih kukenali binar sayu matamu
biaskan sisa sisa kejelitaan Ibu
sosokmu nan cantik menggoda
bak rona dewi kayangan Suprabawati
berabad lamanya kobarkan birahi
dan hasrat hati bangsa bangsa manca
'tuk mempersunting memilikimu
Binaran birahimu yang memancar
terjual oleh tangan tangan kotor penuh keserakahan
tak peduli tubuhmu koyak terobek kejam
bersebab rupiah yang menggiurkan
Kau lara di parasmu yang rupawan
sedang tangan tangan jahil
makin rakus menguliti
tubuh mungilmu
Ah, luka meradang pada darah matamu
Ibu
Ibu
Ibu
Selalu senyum sungging di bibirmu
peluk hangat menjaga anak-anakmu
doa-doa panjang dan panjang di binar matamu
Walau air mata sering tumpah tak terarah
akibat gerayangan tangan tak bertanggung jawabkan
membuat ibu menjadi kering kerontang
tapi ibu tetap bertahan dalam penderitaan
Merah langit
membekas prasasti
Tentang darah pejuang
Tertumpah bumi merah
Dongeng kemenangan negeri gemah ripah
dan kini menjelma bayang buram
atas peradaban negeri tergadai
Susu ibu menjadi kisut
Tubuhnya tak semenawan silam
Lihatlah, tali pusar katulistiwamu dulu
yang membentang bagai selendang sakti itu
kini penuh luka bacokan pedang
tak henti mengucurkan darah ketuban zaman
Dan dari rahim sucimu
berlahiran anak-anak yang mengaji kitab pecundang
melupakan kuburan nenek moyang
lupa jalan pulang
Sampai langit tua merenta dan bisu
kau tetap IndonesiaKu
Sampai tanah membakar darah
maka di sinilah kita
IndonesiANUS
Ah, Ibu
Usah kau larakan anakmu
itu hasrat penindasan
semakin nyata dalam matamu
merah semerah darah yang mengalirkan luka
putih tak seputih cinta
yang kau sisipkan di tulang
pembelamu
sambil menantikan lahirnya
Gunawan Wibisana, Kumbakarna, Hanoman dan Raden Jaya Wijaya
anganku mengembara
menjelajahi Nusantara
di bawah umbul-umbul gula kelapa,dan
Sumpah Amukti Palapa
sambil berharap turunnya Sang Gajah Mada
yang mampu merangkul Negeri Loh Jinawi
Di keriput renta wajahmu
masih kutemukan kesetiaan
mengantar pagi
menjemput senja
menyelimuti malam
dengan segenggam mimpi
tentang esok pagi.
2 Agustus 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar