Senin, 26 November 2012

Kubah Masjid Di Keningmu


Aku menemukan kubah masjid di keningmu
Mengendapkan sujud bersama embun beku
Menyembunyikan sepi yang mengkristalkan rinduku
Sebagai tasbih di jemariki

Jika engkau adalah  kekasihku
Akan kulepas alismu dan kupasang di atas pilar surau
Yang dingin dan licin oleh air mataku

Sudah kusujudi hatimu
Sebagai lembaran sajadah yang tergelar
Bintang yang tergenggam  dalam kepal doa doaku

Engkaulah yang kelak kekasih
Sudah kubaca sebagai bahasa asih
Di hari ini, wahai oh wahai

Sidoarjo, 2012

Seusai Percakapan

Setiap percakapan menemui surau di bibirmu
Yang ingin kuseru sebagai rapalan dzikir
Mengendapkan nun yang tasbih

Lalu langit terbuka
Mencurahkan awal hujan datang
Akhir kemarau yang tembikar

Lalu jarak rahasia yang terentang
Begitu dekat memeluk kerinduan yang purnama
Waktu yang diam berdetak, menjadi saksi
Betapa adamu
Menjadi akhir musim kesunyian

Sidoarjo, 22 November 2012

Kabar Lilin

Adakah kabar dari lilin
Lama menjauhi terang
Meleleh di kelambu kelam
Membiarkan gelap
Menyamun baka
Terbunuh sumbu sepi

Tak ada kabar dari lilin

Nyali nyala hilang sinyal
Luluh mengabu
Diantara debu malam
Menggantung gigil sunyi

Hingga suatu kali
Ada kabar dari lilin
Di kertas hari
Lilin menyulut cemburu
menyadari dusta hati
Tak kuakui

Sidoarjo, 17 Nov 2012

Tentang Sajak

Sajak  adalah sulursulur merapat
Biarkan  ia tumbuh dalam jabat  mendekap jiwa
Terumbu  tumbuh terus di batin laut
Biarkan mengasin,  di duka penyair

Tak usah pedang,  tebasan  mengundang  badai
Apalah arti amuk , bila menyulut api
Garami, garami dengan sendawa  perih
Bukankah cecap garam  nyeri  jubah peziarah
Ingat Sebelum magrib datang
Kepung dengan doa doa dan langit istighfar

Sajak  bukan sekedar bunga kanthil
Apalah artinya bunga kanthil
Jika sekedar penabur makam
Hiaskan di kain  cakrawala
Dan bebaskan sebagai merpati
Biarkan menetas sebagai pendulum kata-kata

Sidoarjo, 21 November 2012

Minggu, 04 November 2012

Catatan yang tercecer dari status



Hampa

Pada pagi beku
Tak lagi kutemui  wangi embun

Antara fajar suraumu
Dinding udara,  gigil waktu yang diam
Lindap saat menepis bayang samun

Kekasih
Ingin kuciumi harum tubuh tanahmu
Sebelum kurampungkan rangkain sesal

Diantara riuh  kereta
Yang bergegas mengangkuti gerbong dosa !

Sidoarjo,3 November 2012


Labirin Rindu

Siangku garang
Kau lelehkan sebait puisi
Kerinduan berbondong barisan pinguin dari kutub
Menerjuni pantai yang menghampar di kelopak mata

Bias matahari
Menyepuh karang terbungkus salju
Pertemuan beku
Yang cair oleh tawamu

Dan tahukah engkau
Barisan awan putih mengarak rindu
Camar bertengger di puncak karang
Menyanyikan dongeng
Tentang biru langit

Nun jauh
Genta tawa itu tetap bergema
Di lonceng kuil mungil
Cahaya telah menepis dingin udara
Memaknai kesadaran tentang ujung suatu kesabaran

( Sidoarjo, 30 Otober 2012 )


Suatu Tanda

Ada pagi bening
Kutemui hutan batinmu yang rimbun
“ Tuhan mengirim bahasa yang paling puisi “,
“ Lihatlah, bayam tumbuh diatas batu cadas “ katamu
Sebuah potret sederhana, pigura abadi
Tanda yang terbaca alam

( segala kehendak, mutlak milikNya )

: Oleh-oleh cangkru ‘an nang pinggir kali

 Sidoarjo November 2012

Menghitung Rindu

Melewati sewindu senja
Bilangan detik yang tak terhingga
Tanpa mampu melupakan satu titik yang semakin jauh
Rimbun menghampar
Diantara putih awan

( Sidoarjo, Okober 2012 )