Rabu, 20 Juni 2012

Segitiga runcing, Pejalan Api, tanda

                      /1/

Segitiga runcing.
Sudut sudutnya pisau
Ujung ujungnya pedang.
Tubuh siapakah yang kau pinjam ?
 Kabut menjauhkan segala pandangan
 ; dimana jalan menuju pulang ?

                     /2/

 Engkaulah yang menari di atas jalan api.
 Kaki telanjang, tubuh bersemu sekam.
 Mari kita tuntaskan pesta. Setelah kenyang menelan bara.
 Air telah kering mata airnya.
 Masih adakah waktu kataku.
 Mengurai hitam menjadi putih.
 Memunguti nokhtah nokhta menjadikannya isyarat langit.
 Sebelum subuh menjelang.

                       /3/

 Tanda seru itu kamu.
 Tanda tanya itu aku.
Titik titik adalah transkrip nilai.
 Dari semua jawaban soal.
 Yang kita cari. Lewat telunjuk~mu.
 telunjuk~ku

( Sidoarjo,13/6/2012 )

Urugan

Kita pernah menghitung kubikasi pasir
Menguruk lahan tanah. 2 m3 x 1 m3.
Rumah masa depan.

Berapa jauh jarak tempuh quarry sampai lokasi pulang pergi
Kita hitung matang
Profit jangan sampai defisit.
Sebagai bekal pulang, begitu katamu

Kamboja masih basah
Tanah belum kita urug
Jantung pisangku
Mati suri



( Sidoarjo, 14/6/2012 )
 

Legenda Nawang

Engkau telah melihat isyarat
Selendang Nawang dicuri Tarub

Di puncak gletser tertinggi
Api matahari melelehkan beku
Yang tercium bau busuk
seperti luka nanah mengaliri
Sungai dan anak anak sungaii

Selembar daun kering
Luruh berkabar
Sebagian jiwa telah pergi
Kehilangan selendang
Segala kosong tak makna

Mengapa terlambat menyadari arti kepulangan


( Sidoarjo, 15/6/2012 )

Bendera Kelanthing

Bendera kelanthing kukibarkan, kakak
Tanda segala maaf
Semoga berkenan menerima panggilan adikmu
Polopendem dari kebun yang kita tanam sudah mengumbi
Ingin kunikmati makan bersamamu
Dalam canda yang paling putih

Sudikah berkenan menerima undangan ?

( Sidoarjo, 15/6/2012 )

Rahasia Aorta

Di sebilik aorta jantung ini
Mengalir merah
Sebenar-benar nyata.
Lindap di tiap ketukan kalbu
Suaramu adalah bisik Isa
Tetes awal kehidupan

Kubaca percik cemburu
Perlukah kurajut tali kata teruntuk satu
Aku luluh rebah di selimut wangi kasturi
Taman kekwa, kerahasiaan langit
Bahkan diri seutuh tubuh bintang

Warna putih hitampun sama
Buta mata telah menancap
Khuldi rindu laila menetes madu perjamuan
Perih adalah nikmat keghoiban cinta

Kita hanya pejalan fakir


( Sidorjo,16 Juni  2012 )