Di sebilik aorta jantung ini
Mengalir merah
Sebenar-benar nyata.
Lindap di tiap ketukan kalbu
Suaramu adalah bisik Isa
Tetes awal kehidupan
Kubaca percik cemburu
Perlukah kurajut tali kata teruntuk satu
Aku luluh rebah di selimut wangi kasturi
Taman kekwa, kerahasiaan langit
Bahkan diri seutuh tubuh bintang
Warna putih hitampun sama
Buta mata telah menancap
Khuldi rindu laila menetes madu perjamuan
Perih adalah nikmat keghoiban cinta
Kita hanya pejalan fakir
( Sidorjo,16 Juni 2012 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar