Rabu, 25 April 2012

Senyum Ibu untuk Halimah

 Senyum ibuku, yang termanis untuk Halimah
Perempuan  setenang kolam, Setangguh gunung karang
Sanggup bersembunyi  atas prahara ombak
Musim demi musim adalah waktu yang hilang berbilang
Perompak  membawa  penunggang kapal cintanya, piatu hati

Saat kebaya  robek, hanya pertanda
Betapa  perempuan, saling  meruncingkan mata panah
Menikung, menikam,  menusuk  tanpa naluri
Beralibi atas segala nadir takdir
Toh, baginya
 Tumbal adalah sesaji pengorbanan

 Senyum ibuku yang termanis untuk Halimah
Perjuangan panjang atas kehormatan perempuan
Kemenangan menjahit kembali, kebaya
Adalah  kemenangan emas  di dada ibu

( Sidoarjo, 21 April 2012 )

Puisi- Puisi Cantik Dina Octaviani

Ciuman Judas
 
kau mungkin hafal rasanya dikhianati
tapi tak pernah tahu pedihnya membagi
mengutuk jarak dan tak percaya waktu
ditikam dingin, dibunuh naluri menebar tubuh
aku merindukan dadamu berkeringat
meski hujan tak menepati janji
ingkar seperti hati atau kematian
tapi tentulah kau telah beku
telah yakin oleh kebenaranmu dan cacatku
sedang aku runtuh-luluh
menyangka api cumalah mainan lusuh
kau mungkin tak pernah mencampakkan angin
apalagi berpaling dari matahari
mencium semua jiwa dan rumputan
membiarkan cerminmu dipenuhi judas
aku juga merindukan ketololan sendiri
menyerahkan seluruh tubuh seutuh ruh
sementara samudera butuh tumbal dan sesaji


MIMPI BURUK

maut, aku tak mampu lagi
berlari dalam pengejaran ini
langkahmu membuatku gila
nafasmu menyakitiku

ini sungguh kekanak-kanakan!

di tengah kesunyian antara kau dan aku
pulangkan cinta yang butuh
kembalikan waktu yang lumpuh
dan begitulah kau mengalah
pada usia mudaku

KETIKA IBUMU TAKUT

aku tak bisa meninggalkanmu sekarang
tidurmu mengikat kegelisahanku
dengan matanya yang awas

tak ada siapa-siapa, tak ada lagi waktu

aku tak bisa mengajakmu serta
cuaca demikian buruk di luar sana
dan kau punya mimpimu sendiri

SEMESTAKU

di alam semestaku
kamu dingin
dan gelap adalah tuhan
jika kita bertemu
cinta harus membantuku bernafas
pelan-pelan
cinta
harus membantuku bunuh diri

MY FAVORITE PATH

lorong gelap, lorong impianku
tempat seluruh rasa takut tumbuh bebas
tempat setiap bayangan demikian nyata
di atas hujan yang belum pernah berhenti
sejak kutinggalkan pekarangan
di atas tangis anakku yang belum kering
ketika kututup pintu kamarnya yang jauh
di atas punggungku yang remuk
dan tak ada cukup uang selain pada rencana
di atas mimpiku yang jauh, tinggi, dan ditinggalkan
di atas segalanya, aku seorang seniman
maka kumasuki kamu dari malam ini

LORONG

dalam hidupku
aku akan menangisi bagian ini
ketika datang cinta yang baik
dan masih aku merasa berjalan-jalan
di lorong yang gelap
sendirian
menatap segala ihwal yang muncul di pikiranku
seperti pintu-pintu
yang tak akan menyelamatkanku
dari apa pun
tuhanku, musuh yang paling setia
apakah kau akan menghukumku karena cinta ini atau masa laluku

Rabu, 18 April 2012

Suatu Penebusan


Apa muara dari semua ini, Lang
Saat menyadari ujung sebuah mimpi
Tentang gaharu yang tak lagi wangi

Kita sudah meniti tangga waktu
Melingkar, berputar dan membentuk spiral
Sampai tiba diujung yang mengerucut, terdengar
Bunyi weker serupa serenade  tentang kematian

Ku ingin memulai  suatu penebusan

( Sidoarjo,18/4/12 )


Sabtu, 14 April 2012

Perjalanan

Elang .........
Kita adalah peziarah
Berjalan di labirin waktu  yang tak mengenal musin

Kadang jatuh bangun menjadi makanan keseharian
Kita telan intisari kehidupan,
Jadikan nutrisi jiwa
Kita buang sampah ampas kotoran
Lewat eksresi, sekresi, dari sembilan lubang tubuh

Elang
Kita adalah peziarah
Tertatih mencari warna putih setiap jengkal langkah
Terlalu banyak warna yang menapaki  perjalanan
Hitam
Merah
Biru
Kuning
Abu-abu
Apa harus menunggu semua warna kita biaskan
Untuk bisa mengurai warna putih

( Sidoarjo, 14/4/2012 )

Puisi Rindu

Rindu 1
Rindu, renjana
Pahat cinta pada batu yang diam
Ilalang cintaku, sampaikan sulurku
Dijemari akar melati
Wartakan padanya, langit masih jelaga
Kesepian ini begitu hitam
Sda/ April 2012

Rindu 2
Ada rindu meranum
Diantara kelabu warna langit
Telah kusisir mataair, airmata
Genang rindu mengetuk, pintu-mu

Sda/Apri 2012

Belajar Pada Batu

Bintang, baitmu terang hilang
Sepenggal  larik   tertiup angin kembara
Jatuh di pucuk cemara

Tungku rindu telah terlanjur menjadi serpih abu
Bila memang sajak sudah bisu
Kubelajar lagi pada diam batu

( Sidoarjo,12/4/12 )

Belenggu

Kuat melilit pusar raga
Tak bisa samsara lepaskan destinasi
 Bulan diawang selalu lindap wajah ibu

( Sesal selalu di ujung )

( Sidoarjo, 3/4/2012 )