Senyum ibuku, yang termanis untuk Halimah
Perempuan setenang kolam, Setangguh gunung karang
Sanggup bersembunyi atas prahara ombak
Musim demi musim adalah waktu yang hilang berbilang
Perompak membawa penunggang kapal cintanya, piatu hati
Saat kebaya robek, hanya pertanda
Betapa perempuan, saling meruncingkan mata panah
Menikung, menikam, menusuk tanpa naluri
Beralibi atas segala nadir takdir
Toh, baginya
Tumbal adalah sesaji pengorbanan
Senyum ibuku yang termanis untuk Halimah
Perjuangan panjang atas kehormatan perempuan
Kemenangan menjahit kembali, kebaya
Adalah kemenangan emas di dada ibu
( Sidoarjo, 21 April 2012 )
Perempuan setenang kolam, Setangguh gunung karang
Sanggup bersembunyi atas prahara ombak
Musim demi musim adalah waktu yang hilang berbilang
Perompak membawa penunggang kapal cintanya, piatu hati
Saat kebaya robek, hanya pertanda
Betapa perempuan, saling meruncingkan mata panah
Menikung, menikam, menusuk tanpa naluri
Beralibi atas segala nadir takdir
Toh, baginya
Tumbal adalah sesaji pengorbanan
Senyum ibuku yang termanis untuk Halimah
Perjuangan panjang atas kehormatan perempuan
Kemenangan menjahit kembali, kebaya
Adalah kemenangan emas di dada ibu
( Sidoarjo, 21 April 2012 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar