Rabu, 25 April 2012

Senyum Ibu untuk Halimah

 Senyum ibuku, yang termanis untuk Halimah
Perempuan  setenang kolam, Setangguh gunung karang
Sanggup bersembunyi  atas prahara ombak
Musim demi musim adalah waktu yang hilang berbilang
Perompak  membawa  penunggang kapal cintanya, piatu hati

Saat kebaya  robek, hanya pertanda
Betapa  perempuan, saling  meruncingkan mata panah
Menikung, menikam,  menusuk  tanpa naluri
Beralibi atas segala nadir takdir
Toh, baginya
 Tumbal adalah sesaji pengorbanan

 Senyum ibuku yang termanis untuk Halimah
Perjuangan panjang atas kehormatan perempuan
Kemenangan menjahit kembali, kebaya
Adalah  kemenangan emas  di dada ibu

( Sidoarjo, 21 April 2012 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar