atas kehendak dahan
duri dibiarkan tegak
sebagaimana seekor landak
yang berhias duri
di atas daging sendiri
Sida 22/08/2013
Jumat, 23 Agustus 2013
Sajak Biru
gending gamelan
suara rebab
gesekan mandolin
tembang kinanthi
sudut syahdu malam pantaimu
pada pasiir diam
laut tenang
berlarian sajak biru
seutas senyumku
tertawan di pipi bulan
lalu angan menapaki langit ungu
Sidoarjo 21/8/2013
suara rebab
gesekan mandolin
tembang kinanthi
sudut syahdu malam pantaimu
pada pasiir diam
laut tenang
berlarian sajak biru
seutas senyumku
tertawan di pipi bulan
lalu angan menapaki langit ungu
Sidoarjo 21/8/2013
Minggu, 18 Agustus 2013
Pohon Rindu
Langit menampung
pohon kata-kata
sebagai puisi
yang kita simpan di batang jiwa
kelak kita petik
sebagai anggur syurga
yang tak usai untuk di puisikan
dan acap kurindukan
menyentuh daun-daun tubuhmu
sebelum kuning berguguran
diterpa matahari cemburu
Sidoarjo,05/08/2013
Firasat
aku ingin menuliskan kesunyian
di atas laut mati
tanpa gelombang
menyapu riak
mengampungkan risau
aku lihat dari pantai nun jauh
perahumu senoktah titik
berlayar di samudra sepi
Dan aku setia menunggui musim
bersama kenangan imaji
yang kau tinggalkan di jejak pasir
( ** Akupun sadari engkaulah firasat hati )
** cuplikan syair firasat by marcell
Sidoarjo Agustus 2013
di atas laut mati
tanpa gelombang
menyapu riak
mengampungkan risau
aku lihat dari pantai nun jauh
perahumu senoktah titik
berlayar di samudra sepi
Dan aku setia menunggui musim
bersama kenangan imaji
yang kau tinggalkan di jejak pasir
( ** Akupun sadari engkaulah firasat hati )
** cuplikan syair firasat by marcell
Sidoarjo Agustus 2013
Pahatan Puisi Ida
bahasamu menyimpan batu
di setiap akhir puisi-puisimu
ada sesuatu yang terkunci
jauh di dasar jurang hati
saat kutengok dari bibir tebing
kabut menebar di bawah sana
aku harus turun
atau kutunggu muncul gema
dari mulutmu yang sederhana
di setiap akhir puisi-puisimu
ada sesuatu yang terkunci
jauh di dasar jurang hati
saat kutengok dari bibir tebing
kabut menebar di bawah sana
aku harus turun
atau kutunggu muncul gema
dari mulutmu yang sederhana
Puisi Soni Farid Maulana
Bulan Biru
KASIDAH HENDRAYANI
Begitu berat aku meninggalkan dirimu
meski sehari. Tidak, bahkan meski
sedetik jauh dari sisimu. Kau tahu, hatiku
sungguh rapuh dijerat nafsu hitam kota besar,
digoda tujuh dara hijau toska.
Sungguh semua itu cintaku adalah wajah maut
yang lain. Dan aku tak ingin mati di atas ranjang
yang itu. Yang menjauhkan ruhku dari cahaya alif,
dari kilau ayat-ayat suciNya yang kau daras
di gelap subuh di sisiku yang fana.
Ketahuilah cintaku aku kendi kosong
dan engkau adalah anggur yang diperas
Yang Maha Kekal untukku. Bila kendiku pecah
oleh sebab kurang ajarku; sungguh celaka aku
terpelanting ke dalam jurang kegelapan.
Cintaku, esok ajalku tiba, tuangkan
bismillah juga kalimah suci ke dalamnya.
Sungguh engkau anggur yang menyegarkan
ingatanku ke arahNya yang bebas
dari kehancuran.
2010
Pulang Kepada Kitab
Pada akhirnya semua harus pulang
menutupkan segala almanak
menghatamkan cerita
di lapang jiwa
matahari angslup di wajah senja
membenamkan sisa kenang memasung
dari balik bayang cakrawala
pada akhirnya semua harus kembali
dan begitulah garis sungai
Sidoarjo 18/8/2013
menutupkan segala almanak
menghatamkan cerita
di lapang jiwa
matahari angslup di wajah senja
membenamkan sisa kenang memasung
dari balik bayang cakrawala
pada akhirnya semua harus kembali
dan begitulah garis sungai
Sidoarjo 18/8/2013
Langganan:
Postingan (Atom)