Percakapan selalu di
tuntaskan dengan api
“ Kau bukan matahari ,
kita di bulan didih “, kataku
Dan gaduh angin beruntun menerjang mata tajammu
Melahap dalam genangan kesumat
Bara jiwa membakar jeruji kelam
Bersilangan oleh nafas nafsu
Adakah nurani menohok setiap lidahmu
Ujungnya menyilet bersama
dengus naga
Terkapar luka darah, terbakar mengabu
Prasangka melantakkan puing-puing benteng mahligai
Adakah tersisa dari sejarah masa lalu
Kitab menjadi bekal,
mahar cinta kepercayaan
Kini di ujung jalan persimpangan
Kau, aku adakah jalan temu ?
( Sidoarjo, 27/9/2012 )