Hampa
Pada pagi beku
Tak lagi kutemui wangi embun
Antara fajar suraumu
Dinding
udara, gigil waktu yang diam
Lindap
saat menepis bayang samun
Kekasih
Ingin
kuciumi harum tubuh tanahmu
Sebelum
kurampungkan rangkain sesal
Diantara
riuh kereta
Yang
bergegas mengangkuti gerbong dosa !
Sidoarjo,3
November 2012
Labirin
Rindu
Siangku garang
Kau lelehkan sebait puisi
Kerinduan berbondong barisan pinguin dari kutub
Menerjuni pantai yang menghampar di kelopak mata
Bias matahari
Menyepuh karang terbungkus salju
Pertemuan beku
Siangku garang
Kau lelehkan sebait puisi
Kerinduan berbondong barisan pinguin dari kutub
Menerjuni pantai yang menghampar di kelopak mata
Bias matahari
Menyepuh karang terbungkus salju
Pertemuan beku
Yang cair
oleh tawamu
Dan tahukah engkau
Barisan awan putih mengarak rindu
Camar bertengger di puncak karang
Menyanyikan dongeng
Tentang biru langit
Nun jauh
Genta tawa itu tetap bergema
Di lonceng kuil mungil
Cahaya telah menepis dingin udara
Memaknai kesadaran tentang ujung suatu kesabaran
( Sidoarjo, 30 Otober 2012 )
Dan tahukah engkau
Barisan awan putih mengarak rindu
Camar bertengger di puncak karang
Menyanyikan dongeng
Tentang biru langit
Nun jauh
Genta tawa itu tetap bergema
Di lonceng kuil mungil
Cahaya telah menepis dingin udara
Memaknai kesadaran tentang ujung suatu kesabaran
( Sidoarjo, 30 Otober 2012 )
Suatu
Tanda
Ada pagi bening
Kutemui hutan batinmu yang rimbun
“ Tuhan mengirim bahasa yang paling puisi “,
“ Lihatlah, bayam tumbuh diatas batu cadas “ katamu
Sebuah potret sederhana, pigura abadi
Tanda yang terbaca alam
( segala kehendak, mutlak milikNya )
: Oleh-oleh cangkru ‘an nang pinggir kali
Ada pagi bening
Kutemui hutan batinmu yang rimbun
“ Tuhan mengirim bahasa yang paling puisi “,
“ Lihatlah, bayam tumbuh diatas batu cadas “ katamu
Sebuah potret sederhana, pigura abadi
Tanda yang terbaca alam
( segala kehendak, mutlak milikNya )
: Oleh-oleh cangkru ‘an nang pinggir kali
Sidoarjo November 2012
Menghitung Rindu
Melewati
sewindu senja
Bilangan detik yang tak terhingga
Tanpa mampu melupakan satu titik yang semakin jauh
Rimbun menghampar
Diantara putih awan
Bilangan detik yang tak terhingga
Tanpa mampu melupakan satu titik yang semakin jauh
Rimbun menghampar
Diantara putih awan
( Sidoarjo, Okober 2012
)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar