Minggu, 04 November 2012

Catatan yang tercecer dari status



Hampa

Pada pagi beku
Tak lagi kutemui  wangi embun

Antara fajar suraumu
Dinding udara,  gigil waktu yang diam
Lindap saat menepis bayang samun

Kekasih
Ingin kuciumi harum tubuh tanahmu
Sebelum kurampungkan rangkain sesal

Diantara riuh  kereta
Yang bergegas mengangkuti gerbong dosa !

Sidoarjo,3 November 2012


Labirin Rindu

Siangku garang
Kau lelehkan sebait puisi
Kerinduan berbondong barisan pinguin dari kutub
Menerjuni pantai yang menghampar di kelopak mata

Bias matahari
Menyepuh karang terbungkus salju
Pertemuan beku
Yang cair oleh tawamu

Dan tahukah engkau
Barisan awan putih mengarak rindu
Camar bertengger di puncak karang
Menyanyikan dongeng
Tentang biru langit

Nun jauh
Genta tawa itu tetap bergema
Di lonceng kuil mungil
Cahaya telah menepis dingin udara
Memaknai kesadaran tentang ujung suatu kesabaran

( Sidoarjo, 30 Otober 2012 )


Suatu Tanda

Ada pagi bening
Kutemui hutan batinmu yang rimbun
“ Tuhan mengirim bahasa yang paling puisi “,
“ Lihatlah, bayam tumbuh diatas batu cadas “ katamu
Sebuah potret sederhana, pigura abadi
Tanda yang terbaca alam

( segala kehendak, mutlak milikNya )

: Oleh-oleh cangkru ‘an nang pinggir kali

 Sidoarjo November 2012

Menghitung Rindu

Melewati sewindu senja
Bilangan detik yang tak terhingga
Tanpa mampu melupakan satu titik yang semakin jauh
Rimbun menghampar
Diantara putih awan

( Sidoarjo, Okober 2012 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar