Begitulah Engkau Masuk
Begitulah engkau masuk
dari pintu yang lama tertutup
menusuk pagi benderang
dengan selimut embun
aku membiarkanmu
menjelajahi segala peta
yang kau sebut dengan rindu
pernah kutahan gelombang
agar tak meleburkan
seluruh ketakutanku
akan gempa
merubuhkan tiang jiwa
hingga membunuh kesadaran
sampailah ketaklukanku
yang kian menghendaki kekal
atas segala kenangan yang punah
begitulah engkau masuk
dari ufuk menepis ragu
ketika keyakinan mengaburkan tanya
segala menjadi jawaban
menjelma mula
di antara kabar datang dan yang pergi
Begitulah kusiapkan
satu pintu keluar
dengan bendera warna terang
tergantung di balik daun pintunya
bila engkau menghendak
Sidoarjo 19/7/2013
Pigura Sepasang Kaki di Cakrawala
Usai perjamuan
malam mandi cahaya
masih tersisa puncak rembulan
menerjuni lembah
rimbun cemara
gema igaumu
adalah gerak langit yang pecah
mendekap sukma
Dan selembar tubuhmu
tumbuh sepasang kaki
yang mengapit cakrawala
Sidoarjo, 7 Juli 2013
Konstruksi September
Kubangun narasi
dari iga beton Juli.
batu-batu grafiti bersimbul tegak
menepiskan segala kesangsian
kubangun sungguh sungguh
konstruksi September
dari dzikir alif mim dan nun
segala namaMu,
kuseru dalam tasbih yang paling hening
doa yang paling langit
menegakkan surau rindu
Kun Fayakun!
Sidoarjo 9 Juli 2013
Amnesia
kau lupa terakhir kali
tukang sulap menampar pipimu
dengan dongeng yang kau sulam
dari negeri angin yang jauh
Sidiarjo 18 Juli 2013
Melodius Suatu Siang Puasa
Siang melelehkan batu kata-kata
begitu manis sihir awan
tercekat pesona selarik siang yang puisi
angin menghembuskan sepoi
matahari di atas langit kuning muda
Duhai
sebentar lagi datang
simpuh senja gemulai
kepada sang pemilik semesta
memahami gerak alam
sebagai isyarat jiwa
kembali ke ranah pulang
Sidoarjo 13 Juli 2013
Duh!
Senyummu menambal cacat bulan
malam di matamu retak
padahal langit masih menjanjikan biru
mengusap datar telaga
tak ada kepergian
bukan sekedar singgah
melainkan sudah rumah
Sidaarjo, 22 Juli 2013
Pita Romadhlon
simpul pita warna pucat,
bibir tergantung di pintu
maghrib telah dingin,sayang.
dan tarawih beranak ibu saja:piatu engkau
sudah kau hitung detik-detik yang hilang
romadhlon pertama
(di meja menyisakan tudung warna kelabu )
Sidoarjo Juli 2013
Semoga Tapenya Manis
menyimpan senyum pada cangkir teh semalam
yang tertinggal di beranda,
seperti musim yang tak pasti
tapi kita telah sepakat
memastikan kelak yang mesti
rindu matang september
yang kita peram
dari ragi juli
( Jari-jari tengadah menyusun mohon )
Sidoarjo, Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar