Jumat, 26 Juli 2013

Puisi-Puisi Juli 2013

Begitulah Engkau Masuk

Begitulah engkau masuk
dari pintu yang lama tertutup
menusuk pagi benderang
dengan selimut embun

aku membiarkanmu
menjelajahi segala peta
yang kau sebut dengan rindu

pernah kutahan gelombang 
agar tak meleburkan
seluruh ketakutanku
akan gempa

merubuhkan tiang jiwa
hingga membunuh kesadaran

sampailah ketaklukanku
yang kian menghendaki kekal
atas segala  kenangan yang punah

begitulah engkau masuk
dari ufuk menepis ragu
ketika keyakinan mengaburkan tanya
segala menjadi jawaban

menjelma mula
di antara kabar datang dan yang pergi

Begitulah kusiapkan
satu pintu keluar
dengan bendera warna  terang 
tergantung di balik daun pintunya
bila engkau menghendak

Sidoarjo 19/7/2013


Pigura Sepasang Kaki di Cakrawala

Usai perjamuan
malam mandi cahaya
masih tersisa puncak rembulan

menerjuni lembah
rimbun cemara

gema igaumu
adalah gerak langit yang pecah
mendekap sukma

Dan selembar tubuhmu
tumbuh sepasang kaki
yang mengapit cakrawala

Sidoarjo, 7 Juli 2013


Konstruksi September

Kubangun narasi
dari iga beton Juli.
batu-batu grafiti bersimbul tegak
menepiskan segala kesangsian

kubangun sungguh sungguh
konstruksi September
dari dzikir alif mim dan nun

segala namaMu,
kuseru dalam tasbih yang paling hening
doa yang paling langit
menegakkan surau rindu

Kun Fayakun!

Sidoarjo 9 Juli 2013


Amnesia

kau lupa terakhir kali
tukang sulap menampar pipimu
dengan dongeng yang kau sulam
dari negeri angin yang jauh

Sidiarjo 18 Juli 2013

Melodius Suatu Siang Puasa

Siang melelehkan batu kata-kata
begitu manis sihir awan
tercekat pesona selarik siang yang puisi

angin menghembuskan sepoi
matahari di atas langit kuning muda 

Duhai
sebentar lagi datang
simpuh senja gemulai
kepada sang pemilik semesta

memahami gerak alam
sebagai isyarat jiwa
kembali ke ranah pulang

Sidoarjo 13 Juli 2013


Duh!

Senyummu menambal cacat bulan
malam di matamu retak
padahal langit masih menjanjikan biru
mengusap datar telaga

tak ada kepergian
bukan sekedar singgah
melainkan sudah rumah 

Sidaarjo, 22 Juli  2013


Pita Romadhlon

simpul pita warna pucat,
bibir tergantung di pintu

maghrib telah dingin,sayang.
dan tarawih beranak ibu saja:piatu engkau

sudah kau hitung detik-detik yang hilang
romadhlon pertama 

(di meja menyisakan tudung warna kelabu )

Sidoarjo Juli 2013

Semoga Tapenya Manis

menyimpan senyum pada cangkir teh semalam
yang tertinggal di beranda, 

seperti musim yang tak pasti
tapi kita telah sepakat
memastikan kelak yang mesti

rindu matang september
yang kita peram
dari ragi juli

( Jari-jari tengadah menyusun mohon )

Sidoarjo, Juli 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar