Selasa, 02 Juli 2013

Puisi-puisi Mei- Fevi Machuriyati

Melukis Bulan

Aku hendak melukis garis-garis di kanvas malam
membentuk satu sketsa wajah
bulan yang puisi

udara begitu terbakar
hasrat melepuh oleh akan
tanganku menar-menari
di atas kuas cahaya

"ibu"
sontak suara lirih memanggil
dari sebuah bibir kecil

ialah lukisan abadi
yang belum kurampungkan 

Kutinggalkan bulan
kutitipkan selembar pesan singkat
masih ada hari lain, sayang......

iapun faham
aku masih ingin melukis bulan yang puisi

Sidoarjo, 25/5/13


Knight 

Di selembar papan hitam putih
permainan di mainkan
di antar deru kepungan dua benteng 
Ratu hitam melangkah
mengapit langkah
Schak mat!
pada raja putih

Pion maju satu depa
membangun pertahanan
tameng pertaruhan nyawa raja

kuda putih melangkah gesit
langkah el,
:pion terselematkan
dan kuda putihpun terguling
sebagai tumbal

Sidoarjo, 24 Mei 2013


Pulang

Apa yang kau cari prasasti?
tapak tapak kaki menjulangkan impian nisbi
pada kata purba yang belum rampung
kau kunyah dengan geligi susumu

lembar lontar mengisikkan jumawa
jambul bunga jambu
mengusik jejak dangkal

harusnya menyatukan humus
dengan umbut 
terlindas serpihan patahan kering ranting

Prasasti, kembalilah pulang
ke bilikmu taman abadimu
telanjang di antara batu-batu
pertama ada
dan datangmu

Sidoarjo, 22 Mei 2013


Dari Atas Genteng

Dari atas genteng rumah
suaramu menjatuhkan bintang

dari kelopak biru
memantul kilau daun
yang menggenang kaca rindu

dan kau sematkan puisi
di jantung binar bulan
menjadi taman rahasia
sepasang burung hantu

Sidoarjo 17 Mei 2013


Di Lautan Matamu

Di lautan bening matamu
aku menjelma ikan
berenang dan bermain
menggetarkan gelombang

Kau membuka cangkang kerang
mengajakku diam bersemayam

Mengerami rindu yang kian menua
untuk segera menetaskan pertemuan

(Sda, Mei 2013 )


Jingga

Aku jatuh jingga
untuk kesekian kali pada tubuh pohon, dimana 
menitipkan daun tumbuhku

Pada matamu yang rimba
kuberkelana di negeri ajaib

memahami rumput
sebagai gaib kata-kata
mendulangnyamenjadi biji-biji jiwa

dan bukan dongeng 
tentang langit bermahkotah keperakan
cahayanya fatamorgana
di penjuru 7 musim

Aku jatuh jingga
untuk kesekian pada rahim nurani
menemukan di bening matamu

Sda 14 Mei 2013


Bila

Bila langit adalah lengkung sayap
ia mengantarkan senja ranum
menemukan semesta sukma

Sda, 10 Mei 2013


Botol Wasiat Ibu

Ibu selalu menyimpan petuah dalam sebuah botol
Setiap hari ia mengisinya
mejadi pintalan kata-kata 

Sang anak mendengarnya hampir setiap menit
seperti berisik panciyang berbunyi setiap waktu

dan memutuskan ia membungkam saja telinganya
agartak mendengar pintalan kata-kata kusut ibunya

Suatu hari, di akhir hari ibunya
ia merasa kesepian
kesepian bocha yang lama tak mendengar musik yang indah
jiwanyapun mati rasa
kerinduan akan pintalan mantera ibunya

lantas iamencar-cari botol keramat kata-kata ibunya
tak menemu!

Ah, iapun teringat 
ya, ya. ibunya pernah melarungkan botol kata-katanya di laut
ia berlari sekencang kuda, menuju pantai

bertahun-tahun ia menunggu di pantai
botol wasiat ibunya,
entah kapan
di pulangkan ombak kepadanya

Sidoarjo,1 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar