Melukis Bulan
Aku hendak melukis garis-garis di kanvas malam
membentuk satu sketsa wajah
bulan yang puisi
udara begitu terbakar
hasrat melepuh oleh akan
tanganku menar-menari
di atas kuas cahaya
"ibu"
sontak suara lirih memanggil
dari sebuah bibir kecil
ialah lukisan abadi
yang belum kurampungkan
Kutinggalkan bulan
kutitipkan selembar pesan singkat
masih ada hari lain, sayang......
iapun faham
aku masih ingin melukis bulan yang puisi
Sidoarjo, 25/5/13
Knight
Di selembar papan hitam putih
permainan di mainkan
di antar deru kepungan dua benteng
Ratu hitam melangkah
mengapit langkah
Schak mat!
pada raja putih
Pion maju satu depa
membangun pertahanan
tameng pertaruhan nyawa raja
kuda putih melangkah gesit
langkah el,
:pion terselematkan
dan kuda putihpun terguling
sebagai tumbal
Sidoarjo, 24 Mei 2013
Pulang
Apa yang kau cari prasasti?
tapak tapak kaki menjulangkan impian nisbi
pada kata purba yang belum rampung
kau kunyah dengan geligi susumu
lembar lontar mengisikkan jumawa
jambul bunga jambu
mengusik jejak dangkal
harusnya menyatukan humus
dengan umbut
terlindas serpihan patahan kering ranting
Prasasti, kembalilah pulang
ke bilikmu taman abadimu
telanjang di antara batu-batu
pertama ada
dan datangmu
Sidoarjo, 22 Mei 2013
Dari Atas Genteng
Dari atas genteng rumah
suaramu menjatuhkan bintang
dari kelopak biru
memantul kilau daun
yang menggenang kaca rindu
dan kau sematkan puisi
di jantung binar bulan
menjadi taman rahasia
sepasang burung hantu
Sidoarjo 17 Mei 2013
Di Lautan Matamu
Di lautan bening matamu
aku menjelma ikan
berenang dan bermain
menggetarkan gelombang
Kau membuka cangkang kerang
mengajakku diam bersemayam
Mengerami rindu yang kian menua
untuk segera menetaskan pertemuan
(Sda, Mei 2013 )
Jingga
Aku jatuh jingga
untuk kesekian kali pada tubuh pohon, dimana
menitipkan daun tumbuhku
Pada matamu yang rimba
kuberkelana di negeri ajaib
memahami rumput
sebagai gaib kata-kata
mendulangnyamenjadi biji-biji jiwa
dan bukan dongeng
tentang langit bermahkotah keperakan
cahayanya fatamorgana
di penjuru 7 musim
Aku jatuh jingga
untuk kesekian pada rahim nurani
menemukan di bening matamu
Sda 14 Mei 2013
Bila
Bila langit adalah lengkung sayap
ia mengantarkan senja ranum
menemukan semesta sukma
Sda, 10 Mei 2013
Botol Wasiat Ibu
Ibu selalu menyimpan petuah dalam sebuah botol
Setiap hari ia mengisinya
mejadi pintalan kata-kata
Sang anak mendengarnya hampir setiap menit
seperti berisik panciyang berbunyi setiap waktu
dan memutuskan ia membungkam saja telinganya
agartak mendengar pintalan kata-kata kusut ibunya
Suatu hari, di akhir hari ibunya
ia merasa kesepian
kesepian bocha yang lama tak mendengar musik yang indah
jiwanyapun mati rasa
kerinduan akan pintalan mantera ibunya
lantas iamencar-cari botol keramat kata-kata ibunya
tak menemu!
Ah, iapun teringat
ya, ya. ibunya pernah melarungkan botol kata-katanya di laut
ia berlari sekencang kuda, menuju pantai
bertahun-tahun ia menunggu di pantai
botol wasiat ibunya,
entah kapan
di pulangkan ombak kepadanya
Sidoarjo,1 Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar