Selasa, 02 Juli 2013

Puisi Puisi Juni 2013

Bing

Bing
aku mendengar lagu hujan
ia menitipkan siluet kenangan
tentang rindu yang basah

hujan begitu murah hati
Ia berkatkan suasana sepenuhnya milik sepi

Petik rintiknya, menghembuskan kesyahduan abadi
dan dingin yang menyamun gigil malam

Bing
bila kau mencariku suatu hari
aku ada di antara jantung hujan

Sda 6/6/13


Tunggulah, di Tibet

pada matamu chuan han
dingin yang abadi, mount everest

kening seribu pagoda
jubah para dalai yang selalu mengatupkan salam " Amitabha"

Ah, kapan aku bisa sampai ke negerimu
berkendara liama, yang lucu
bila marah ia menyembur ludahnya

Tahukah engkau Chuan Han,
kotaku penuh semburan lumpur
tapi kami tak marah,
sebab air mata telah mengimpaskan segala duka

kemarahan suatu yang sia-sia bukan?

Suatu kali aku akan sampai ke kotamu
negeri ditangkai awan
segala keteduhan adalah pelabuhan duka
tunggulah!

Akan kubawakan setangkup lumpurdan
kita abadi di atas everest,
di puncak salju sebagai conello
Ice cream kesukaanku

Sidoarjo, 12 Juni 2013


Suluk Sepasang Beringin Kembar

Dulu tumbuh sepasang pohon beringin kembar depan pendopo
daunnya yang payung menjulurkan teduh jiwa

ia bahagia menjadi bagian duka rakyat
kesah tentang paceklik yang tak kunjung usai

Demang pendengar yang arief
bergegas ia menadah segala ratap wong alit
depan pendopo,tebar senyum tulus
tersungging di atas kumisnya yang melintang
beringin bagian sejarahmata hati rakyat

Usai suluk zaman bedoyo ,
berkibarlah lagu demokrasi
pesta baliho dan umbul-umbul di tegakkan
atas nama wakil rakyat
berjuta janji
berjuta mimpi
berjuta buih-buih dan jari mengangkat" Demi Tuhan, kamilah pundak rakyat"
nama demang hanya tinggal kenangan

Lantas apa yang terjadi?
sihir politik
bius buih-buih janji
ambisi pribadi
melupa khittoh semula

pundak rakyat yang di embannya
menjadi pundi rakyat yang di gembolnya

budaya baru mulai ditegakkan
budaya anti malu
budaya pencuri
budaya kedok dalam baju badut-badut berdasi

dalam igauan yang panjang
sepasang beringin tua depan pendapa
memandang hampa

bendera setengah pancang berkibar di langit nusantara
menunggu detik kematiannya

Sidoarjo 12 Juni 2013

Epos Ramayana

Sejarah adalah patahan kenangan
15 tahun dari mesin waktu
Drama ramayana, tergelar di pentas hidup

ia ada
mengetuk pintu jendela
pada lipatan yang tertutup rapatd
ari segala biru hitam
dari peraman luka-luka

" Apa khabarmu rahwana ?
"pernahkah dalam benakmu
Shinta memutar takdir

Sidoarjo 24 JUNI 2013

Meninggalkan Juni

Perahu masih terbata mengeja juni
terdampar di karang batu
menenggelamkan awan gulita 
di sisa kanal usia

masihkah jauh sampai kepulauMu
pantaiku ingin menujuMu
mendekap suar
membuka jalan pada cahayaMu
menggelar wudlu ampunku


Sidoarjo 30 JUNI 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar