Bing
Bing
aku mendengar lagu hujan
ia menitipkan siluet kenangan
tentang rindu yang basah
hujan begitu murah hati
Ia berkatkan suasana sepenuhnya milik sepi
Petik rintiknya, menghembuskan kesyahduan abadi
dan dingin yang menyamun gigil malam
Bing
bila kau mencariku suatu hari
aku ada di antara jantung hujan
Sda 6/6/13
Tunggulah, di Tibet
pada matamu chuan han
dingin yang abadi, mount everest
kening seribu pagoda
jubah para dalai yang selalu mengatupkan salam " Amitabha"
Ah, kapan aku bisa sampai ke negerimu
berkendara liama, yang lucu
bila marah ia menyembur ludahnya
Tahukah engkau Chuan Han,
kotaku penuh semburan lumpur
tapi kami tak marah,
sebab air mata telah mengimpaskan segala duka
kemarahan suatu yang sia-sia bukan?
Suatu kali aku akan sampai ke kotamu
negeri ditangkai awan
segala keteduhan adalah pelabuhan duka
tunggulah!
Akan kubawakan setangkup lumpurdan
kita abadi di atas everest,
di puncak salju sebagai conello
Ice cream kesukaanku
Sidoarjo, 12 Juni 2013
Suluk Sepasang Beringin Kembar
Dulu tumbuh sepasang pohon beringin kembar depan pendopo
daunnya yang payung menjulurkan teduh jiwa
ia bahagia menjadi bagian duka rakyat
kesah tentang paceklik yang tak kunjung usai
Demang pendengar yang arief
bergegas ia menadah segala ratap wong alit
depan pendopo,tebar senyum tulus
tersungging di atas kumisnya yang melintang
beringin bagian sejarahmata hati rakyat
Usai suluk zaman bedoyo ,
berkibarlah lagu demokrasi
pesta baliho dan umbul-umbul di tegakkan
atas nama wakil rakyat
berjuta janji
berjuta mimpi
berjuta buih-buih dan jari mengangkat" Demi Tuhan, kamilah pundak rakyat"
nama demang hanya tinggal kenangan
Lantas apa yang terjadi?
sihir politik
bius buih-buih janji
ambisi pribadi
melupa khittoh semula
pundak rakyat yang di embannya
menjadi pundi rakyat yang di gembolnya
budaya baru mulai ditegakkan
budaya anti malu
budaya pencuri
budaya kedok dalam baju badut-badut berdasi
dalam igauan yang panjang
sepasang beringin tua depan pendapa
memandang hampa
bendera setengah pancang berkibar di langit nusantara
menunggu detik kematiannya
Sidoarjo 12 Juni 2013
Epos Ramayana
Sejarah adalah patahan kenangan
15 tahun dari mesin waktu
Drama ramayana, tergelar di pentas hidup
ia ada
mengetuk pintu jendela
pada lipatan yang tertutup rapatd
ari segala biru hitam
dari peraman luka-luka
" Apa khabarmu rahwana ?
"pernahkah dalam benakmu
Shinta memutar takdir
Sidoarjo 24 JUNI 2013
Meninggalkan Juni
Perahu masih terbata mengeja juni
terdampar di karang batu
menenggelamkan awan gulita
di sisa kanal usia
masihkah jauh sampai kepulauMu
pantaiku ingin menujuMu
mendekap suar
membuka jalan pada cahayaMu
menggelar wudlu ampunku
Sidoarjo 30 JUNI 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar