Kita saling diam dalam bahasa kabut
Yang terwakilkan hanya lewat kakimu
Ya kakimu, rapat kupeluk, serupa selimut.
Menopang batang tubuhku
Berayun menuju rumah kolam
Tempat paling hijau , meleburkan makna kelam
Diantara ikan-ikan , memandang biru matamu
Berloncatan gundah sedari tadi menggunung di degup dada
Lalu kurebah dipelukanmu
( Selalu muncul kerinduan pada pelukanmu yang paling telaga )
( Sidoarjo, Okt ober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar