Diliriknya Sri, wanita soleha yang sedari kecil hidup di lingkungan
pesantren , dinikahi 4 tahun yang lalu setelah petualangannya yang
panjang dengan banyak perempuan. Sri tertidur disisi tempat tidurnya
dengam posisi duduk dan kepala terbaring di kasur. Sepuluh hari ia sudah
setia menunggu satria opname di bangsal kelas III ini. Tidur Sri tampak
lelap sesekali ia berganti posisi kepala direbahkan kesamping kiri.
Matanya tetap terpejam. Satria mengusap kepala isterinya. Rasa iba dan
sayang berkecamuk didadanya.
"Ya Allah, ampuni hamba....“, Satria bergumam lirih. Hampir mirip sebuah desah saja
” Sebenarnya bukan beban sakit ini yang hampir tak kuat hamba
tanggung. Tapi menyatakan dengan jujur apa sakit hamba kepada isteriku “
Seraya mengusap kepala isterinya sekali lagi. Sri tetap tak bergeming
mungkin karena rasa lelahnya menunggu suaminya selama 10 hari di rumah
sakit. Satria menepis bayangan masa lalunya. Ketika wajah tampannya
menebar pesona kesemua wanita. Ditunjang dengan kantongnya yang tebal
buat merayu wanita. Karena dia anak tunggal seorang pengusaha tahu.
Kedua orang tuanya terlalu memanjakan dia. Sehingga apa yang dia mau
selalu ia dapat. Dan semua selalu benar dimata orang tuanya. Tidak ada
yang salah walaupun kenakalannya dia sudah diluar kewajaran. Sampai ia
bertemu dengan teman-teman yang menunjang kenakalannya menjadi lebih
hebat. Tiap malam selalu begadang dengan pesta miras, narkoba dan
astaghfirullah wanita. SMA ia habiskan dengan sia-sia. Petualangan
cintanya dengan beragam wanita dari usia ABG sampai ke tante girang,
dari kelas perek, mahasiswa, pelajar sampai wanita pengusaha sudah
dikecapnya. Setelah selesai SMA ia tidak mau kuliah kerjaannya hanya
nongkrong dengan teman segegnya. Pesta sabu, ganja, miras setiap malam
ia gelar.
Sampai suatu ketika ia overdosis di
kost-kostan temannya. Orang tuanya baru tahu kalau dia sudah "SALAH
ASUHAN". Syok dan kecewa membuat kedua orang tuanya mengalami serangan
jantung. Yang akhirnya ketika Satria sedang berjuang dengan sakratul
maut karena overdosis. Ayahnya berjuang dengan serangan jantung yang
akhirnya berujung pada kematiannya. Disusul dengan kematian ibunya pula.
Ketika satria pulih dan berangsur membaik, pecahlah tangisnya.
Ketika diberitahu kalau kedua orang tuanya telah meninggal. Sesal yang
mendalam yang tidak bisa ia gambarkan. Hampir ia mengakhiri hidupnya.
Kalau saja teman ayahnya seorang ustad memberitahukan kalau ia
diberikan nyawa kedua untuk memberikan kesempatan kalau ia bisa menebus
semua kesalahannya.
“ Tiga amalan manusia yang tidak
terputus sampai ia meninggal itu ada 3 perkara: 1. Amal jariyah 2. Ilmu
yang diamalkan 3. Doa anak yang soleh. “ Suara lantang H Ibrahim
membuat pikirannya terbuka.
" Satria, engkau diberi Allah
kesempatan hidup kedua oleh Allah SWT, tetapi sebagai manusia yang
berbeda. Dulu kamu hidup di jaman jahiliyah dan kini pergunakan
kesempatan hidup keduamu untuk menjadi manusia yang lebih istiqomah.
Doakan kedua orang tuamu agar diterima disisi Allah. Jadilah anak yang
soleh. “, suara H Ibrahim pelan dan lembut membuka pikiran sehatnya.
“ Ya Allah, ampuni hambamu ini. Terimakasih Abah Ibrahim telah
memberiku siraman rohani . Setelah ini insyaAllah aku akan menjadi anak
soleh yang selalu mendoakan ayah dan bunda. Semoga kau tempatkan kedua
orang tua hamba di syurga. Amin...“ Diciumnya tangan H ibrahim sambil
berurai air mata.
Setelah itu Satria lahir sebagai
manusia baru. Ia pergi jauh dari rumahnya mendalami agama disuatu
pondok pesantren. Tiap malam ia menangis menyesali dosa-dosanya yang
sudah diuntainya. Pondok pesantren Al Hidayahnya membawanya pada suatu
pencerahan hidup. Disini ia telah menemukan ketenangan. Seperti aliran
suara air ditengah oase. Batin dan jiwanya telah menemukan hakiki
kehidupan. Sampai suatu ketika ia dipertemukan Sri. Salah satu
santriwati di Pondok itu. Wajah yang manis dengan tatapan teduh mampu
menyita seluruh hatinya. Pesona Sri terletak pada hakikat wanita
muslimah sejati. Hidup Sri dinafaskan dengan apa yang sudah di aqidahkan
oleh Qur,an dan Hadist
Sri tahu gundah di hati Satria. Ia hanya menitipkan doa-doa yang harus di baca Satria untuk ketenangan hatinya.
Satria
merasa tenang ketika hanya bertatap dengan Sri. Dan Sri selalu matanya
tunduk tak berani menatap Satria. Akhirnya Satria memutuskan untuk
melamar Sri dan Sri menerimanya.
Dari perkawinan
mereka lahir Putri yang berusia 2 tahun. Satria memilih hidup di
lingkungan pondok. Ia berwirasawata membuka bengkel. Rejekinya mengalir
bengkelnya mulai ramai. Hidup Satria seperti lengkap suda. Kebahagiaan
dan ketenangan hidup ia nikmati. Setiap hari ia bersyukur atas limpahan
rakhmatNya.
Sampai suatu ketika dia sering merasa
kurang enak badan. Flu gampang menyerangnya. Dipikirnya karena kelelahan
bekerja dibengkel. Pada akhirnya dia mengalami demam hebat, disertai
diare dan muntah-muntah. Kondisi badanya mengalami penurunan ketika
batuk tak kunjung sembuh sampai mengeluarkan darah. Nafasnya sering
sesak. Sampai serangan rasa sakit di dada yang membuatnya tak bisa
bernafas. Batuk darah tak berhenti dari mulutnya, Akhirnya sampai ia
dirawat di bangsal ini.
Pagi tadi setelah visite dr Rizal menghampirinya ditemani seorang suster
“ Bapak Satria, selain bapak dan isteri bapak apa ada keluarga lain
yang bisa saya ajak bicara “, Suara pelan dr Rizal keluar sambil
membolak-balik statusnya
“ Tidak ada dok, saya tinggal hanya
dengan isteri dan anak saya yang berumur 2 tahun. Kalau bicara tentang
sakit saya biar sama saya saja dok. Karena isteri saya juga gak paham.
Maklum kami orang desa “, jawab satria sambil menepiskan persaan
cemasnya. Karena ia punya firasat. Pagi ini suster yang biasanya
menyuntik dia. Mulai menjaga jarak. Handscoen mereka kenakan yang
sebelumnya tidak mereka perlukan. Dua suster mulai berbisik ketika mulai
menyuntik lengannya. Meski suaranya tak jelas tapi satria tahu dari
matanya kalau ada sesuatu yang ganjil mengenai dirinya.
“
Baiklah kalau begitu, tapi ini saya mohon bapak lebih tegar. Dari
serangkaian pemeriksaan penunjang. Tes darah atau laborat bapak
menderita sakit HIV “, suara dokter Rizal yang pelan tapi seperti
halilintar di telinga Satria.
“ Apa dok?….HIV, AIDS ya dok ? “, suara Satria tercekat serak rasanya.
“ Benar Pak dan infeksinya sampai keparu-paru. Bapak terkena
pneumoni kronis. Atau radang paru-paru “. Dokter Rizal berhenti sebentar
kemudian melanjutkan kalimatnya.
" maaf Pak Satria
sebelumnya saya ingin bertanya. Apa pak Satria pernah menjadi pengguna
obat-obat terlarang? Atau pola hidup sexual bapak yang sering berganti
pasangan?"
Satria hanya mengangguk. Ia hampir tidak percaya dengan ucapan dokter Rozal tadi.
“ Bapak juga fahamkan, kalau bapak bisa menularkan penyakit ini pada
keluarga bapak ? “. Tegas dokter Rizal. Satria hanya tercenung sampai
tak bisa harus bicara apa.
“ Pak Satria, tidak etis
sebenarnya berbicara masalah diagnosa kepada bapak. Tapi karena kita
tidak tahu harus bicara pada siapa lagi, tapi bapak harus tetap semangat
melawan penyakit ini . Karena itulah yang bisa melawan penyakit ini.
Saya tinggal visite pasien yang lain dulu P Satria”, Sambil menyerahkan
status ke suster, dokter Rizal berlalu meninggalkan Satria.
“ Bapak Satria infusnya mau saya ganti dulu pak, mau habis “, Suara
suster Maya membuyarkan lamunan Satria. Dilihatnya jam sudah
menunjukkan pukul dua. Sri terbangun dari tidurnya. Dan bergegas
berdiri.
Setelah suster Maya meninggalkan bangsal Satria. Sri duduk menghampiri suaminya.
“Maaf mas, saya tadi ketiduran. “, kata Sri dengan rasa bersalah.
Satria tersenyum getir dan menggeleng.
” SRI MAS YANG HARUS MINTA MAAF, SAMPAI KAPAN MAS HARUS MENYIMPAN
RAHASIA INI.....“ Satria hanya bisa berteriak dalam hati karena suaranya
tercekat oleh bebannya yang berat….Berganti bayangan Putri anak semata
wayangnya, bayangan Sri isterinya....
“Sayang aku mau tidur sebentar ya “, bisik Satria dengan suara perih hampir berbisik
"Lalilahaila anta inni kuntum minadzolimin…………".Satria tak berhenti berdzikir…..
Mata satria terpejam. Setelah dzikir ia merasa tenang….Dzikir yang di
ucapkan nabi Nuh ketika diperut ikan paus. Seperti itu harapan Satria.
Pertolongan Allah akan datang ketika hambanya dalam cobaan
Amiin
( Sidoarjo, 21 Desember 2010 )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar