Senin, 05 September 2011

Cerpen DILEMA SATRIA ( Kisah seorang ODHA )

     Jarum jam menunjukkan angka 12 tepat. Hawa dingin menyelimuti bangsal kamar no 14. Terlihat wajah kuyu dengan wajah dan bibir menghitam. Satria, pasien ruangan mawar merah, sendiri diruang itu hanya ditemani Sri isterinya. Jarum infus masih menancap dilengannya yang tinggal tulang. Selang 0ksigen masih menghias diwajah kuyunya. Nafasnya berat tapi lebih berat beban yang dipikulnya. Terlihat matanya yang gelisah tidak bisa terpejam sama sekali

      Diliriknya Sri, wanita soleha yang sedari kecil hidup di lingkungan pesantren , dinikahi 4 tahun yang lalu setelah petualangannya yang panjang dengan banyak perempuan. Sri tertidur disisi tempat tidurnya dengam posisi duduk dan kepala terbaring di kasur. Sepuluh hari ia sudah setia menunggu satria opname di bangsal kelas III ini. Tidur Sri tampak lelap sesekali ia berganti posisi kepala direbahkan kesamping kiri. Matanya tetap terpejam. Satria mengusap kepala isterinya. Rasa iba dan sayang berkecamuk didadanya.

     "Ya Allah, ampuni hamba....“, Satria bergumam lirih. Hampir mirip sebuah desah saja
     ” Sebenarnya bukan beban sakit ini yang hampir tak kuat hamba tanggung. Tapi menyatakan dengan jujur apa sakit hamba kepada isteriku “ Seraya mengusap kepala isterinya sekali lagi. Sri tetap tak bergeming mungkin karena rasa lelahnya menunggu suaminya selama 10 hari di rumah sakit. Satria menepis bayangan masa lalunya. Ketika wajah tampannya menebar pesona kesemua wanita. Ditunjang dengan kantongnya yang tebal buat merayu wanita. Karena dia anak tunggal seorang pengusaha tahu. Kedua orang tuanya terlalu memanjakan dia. Sehingga apa yang dia mau selalu ia dapat. Dan semua selalu benar dimata orang tuanya. Tidak ada yang salah walaupun kenakalannya dia sudah diluar kewajaran. Sampai ia bertemu dengan teman-teman yang menunjang kenakalannya menjadi lebih hebat. Tiap malam selalu begadang dengan pesta miras, narkoba dan astaghfirullah wanita. SMA ia habiskan dengan sia-sia. Petualangan cintanya dengan beragam wanita dari usia ABG sampai ke tante girang, dari kelas perek, mahasiswa, pelajar sampai wanita pengusaha sudah dikecapnya. Setelah selesai SMA ia tidak mau kuliah kerjaannya hanya nongkrong dengan teman segegnya. Pesta sabu, ganja, miras setiap malam ia gelar.

      Sampai suatu ketika ia overdosis di kost-kostan temannya. Orang tuanya baru tahu kalau dia sudah "SALAH ASUHAN". Syok dan kecewa membuat kedua orang tuanya mengalami serangan jantung. Yang akhirnya ketika Satria sedang berjuang dengan sakratul maut karena overdosis. Ayahnya berjuang dengan serangan jantung yang akhirnya berujung pada kematiannya. Disusul dengan kematian ibunya pula.

     Ketika satria pulih dan berangsur membaik, pecahlah tangisnya. Ketika diberitahu kalau kedua orang tuanya telah meninggal. Sesal yang mendalam yang tidak bisa ia gambarkan. Hampir ia mengakhiri hidupnya. Kalau saja teman ayahnya seorang ustad memberitahukan kalau ia diberikan nyawa kedua untuk memberikan kesempatan kalau ia bisa menebus semua kesalahannya.
      “ Tiga amalan manusia yang tidak terputus sampai ia meninggal itu ada 3 perkara: 1. Amal jariyah 2. Ilmu yang diamalkan 3. Doa anak yang soleh. “ Suara lantang H Ibrahim membuat pikirannya terbuka.
      " Satria, engkau diberi Allah kesempatan hidup kedua oleh Allah SWT, tetapi sebagai manusia yang berbeda. Dulu kamu hidup di jaman jahiliyah dan kini pergunakan kesempatan hidup keduamu untuk menjadi manusia yang lebih istiqomah. Doakan kedua orang tuamu agar diterima disisi Allah. Jadilah anak yang soleh. “, suara H Ibrahim pelan dan lembut membuka pikiran sehatnya.
      “ Ya Allah, ampuni hambamu ini. Terimakasih Abah Ibrahim telah memberiku siraman rohani . Setelah ini insyaAllah aku akan menjadi anak soleh yang selalu mendoakan ayah dan bunda. Semoga kau tempatkan kedua orang tua hamba di syurga. Amin...“ Diciumnya tangan H ibrahim sambil berurai air mata.

        Setelah itu Satria lahir sebagai manusia baru. Ia pergi jauh dari rumahnya mendalami agama disuatu pondok pesantren. Tiap malam ia menangis menyesali dosa-dosanya yang sudah diuntainya. Pondok pesantren Al Hidayahnya membawanya pada suatu pencerahan hidup. Disini ia telah menemukan ketenangan. Seperti aliran suara air ditengah oase. Batin dan jiwanya telah menemukan hakiki kehidupan. Sampai suatu ketika ia dipertemukan Sri. Salah satu santriwati di Pondok itu. Wajah yang manis dengan tatapan teduh mampu menyita seluruh hatinya. Pesona Sri terletak pada hakikat wanita muslimah sejati. Hidup Sri dinafaskan dengan apa yang sudah di aqidahkan oleh Qur,an dan Hadist

      Sri tahu gundah di hati Satria. Ia hanya menitipkan doa-doa yang harus di baca Satria untuk ketenangan hatinya.
Satria merasa tenang ketika hanya bertatap dengan Sri. Dan Sri selalu matanya tunduk tak berani menatap Satria. Akhirnya Satria memutuskan untuk melamar Sri dan Sri menerimanya.

      Dari perkawinan mereka lahir Putri yang berusia 2 tahun. Satria memilih hidup di lingkungan pondok. Ia berwirasawata membuka bengkel. Rejekinya mengalir bengkelnya mulai ramai. Hidup Satria seperti lengkap suda. Kebahagiaan dan ketenangan hidup ia nikmati. Setiap hari ia bersyukur atas limpahan rakhmatNya.

      Sampai suatu ketika dia sering merasa kurang enak badan. Flu gampang menyerangnya. Dipikirnya karena kelelahan bekerja dibengkel. Pada akhirnya dia mengalami demam hebat, disertai diare dan muntah-muntah. Kondisi badanya mengalami penurunan ketika batuk tak kunjung sembuh sampai mengeluarkan darah. Nafasnya sering sesak. Sampai serangan rasa sakit di dada yang membuatnya tak bisa bernafas. Batuk darah tak berhenti dari mulutnya, Akhirnya sampai ia dirawat di bangsal ini.

       Pagi tadi setelah visite dr Rizal menghampirinya ditemani seorang suster
      “ Bapak Satria, selain bapak dan isteri bapak apa ada keluarga lain yang bisa saya ajak bicara “, Suara pelan dr Rizal keluar sambil membolak-balik statusnya
      “ Tidak ada dok, saya tinggal hanya dengan isteri dan anak saya yang berumur 2 tahun. Kalau bicara tentang sakit saya biar sama saya saja dok. Karena isteri saya juga gak paham. Maklum kami orang desa “, jawab satria sambil menepiskan persaan cemasnya. Karena ia punya firasat. Pagi ini suster yang biasanya menyuntik dia. Mulai menjaga jarak. Handscoen mereka kenakan yang sebelumnya tidak mereka perlukan. Dua suster mulai berbisik ketika mulai menyuntik lengannya. Meski suaranya tak jelas tapi satria tahu dari matanya kalau ada sesuatu yang ganjil mengenai dirinya.
     “ Baiklah kalau begitu, tapi ini saya mohon bapak lebih tegar. Dari serangkaian pemeriksaan penunjang. Tes darah atau laborat bapak menderita sakit HIV “, suara dokter Rizal yang pelan tapi seperti halilintar di telinga Satria.
      “ Apa dok?….HIV, AIDS ya dok ? “, suara Satria tercekat serak rasanya.
       “ Benar Pak dan infeksinya sampai keparu-paru. Bapak terkena pneumoni kronis. Atau radang paru-paru “. Dokter Rizal berhenti sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya.
       " maaf Pak Satria sebelumnya saya ingin bertanya. Apa pak Satria pernah menjadi pengguna obat-obat terlarang? Atau pola hidup sexual bapak yang sering berganti pasangan?"
        Satria hanya mengangguk. Ia hampir tidak percaya dengan ucapan dokter Rozal tadi. 
       “ Bapak juga fahamkan, kalau bapak bisa menularkan penyakit ini pada keluarga bapak ? “. Tegas dokter Rizal. Satria hanya tercenung sampai tak bisa harus bicara apa.
        “ Pak Satria, tidak etis sebenarnya berbicara masalah diagnosa kepada bapak. Tapi karena kita tidak tahu harus bicara pada siapa lagi, tapi bapak harus tetap semangat melawan penyakit ini . Karena itulah yang bisa melawan penyakit ini. Saya tinggal visite pasien yang lain dulu P Satria”, Sambil menyerahkan status ke suster, dokter Rizal berlalu meninggalkan Satria.

       “ Bapak Satria infusnya mau saya ganti dulu pak, mau habis “, Suara suster Maya membuyarkan lamunan Satria. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul dua. Sri terbangun dari tidurnya. Dan bergegas berdiri.
         Setelah suster Maya meninggalkan bangsal Satria. Sri duduk menghampiri suaminya.
       “Maaf mas, saya tadi ketiduran. “, kata Sri dengan rasa bersalah.
        Satria tersenyum getir dan menggeleng.

       ” SRI MAS YANG HARUS MINTA MAAF, SAMPAI KAPAN MAS HARUS MENYIMPAN RAHASIA INI.....“ Satria hanya bisa berteriak dalam hati karena suaranya tercekat oleh bebannya yang berat….Berganti bayangan Putri anak semata wayangnya, bayangan Sri isterinya....
      “Sayang aku mau tidur sebentar ya “, bisik Satria dengan suara perih hampir berbisik

      "Lalilahaila anta inni kuntum minadzolimin…………".Satria tak berhenti berdzikir…..
        Mata satria terpejam. Setelah dzikir ia merasa tenang….Dzikir yang di ucapkan nabi Nuh ketika diperut ikan paus. Seperti itu harapan Satria. Pertolongan Allah akan datang ketika hambanya dalam cobaan
       Amiin


( Sidoarjo, 21 Desember 2010 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar