Moh Syahrier Daeng
Oh, angin sampaikanlah
salamku....
: bual-bual sejenak dengan pusi " ANGIN ", Fevi Machuriayati.
Perjalanan saya kali ini tanpa bekal rumus yang dibalut dalam kain sutra sastra, kecuali sekedar pengalaman panjang dari menyusuri pematang kehidupan. Mungkin ini kesilapan yang disengaja untuk mengolah puisi tanpa didukung oleh pemahaman tentang semiotik heuristik dan hermeneutik, tetapi saya yakin bahwa puisi untuk semua penikmat dan bukan hanya berkubang dalam kepentingan sastra untuk sastra. Maka izinkanlah saya mengembara bersama " angin " mengikuti geraknya hingga pada persinggahan antah berantah.
Dalam falsafah Timur sering disebut empat sumber (tanah, air, angin dan api) sebagai energi kehidupan. Saya mencoba memilih angin dengan segala ambigunya (penyimpangan arti), sebab angin dapat masuk di setiap gerak kehidupan yang disuatu waktu dapat menjadi sahabat bagi manusia,mahluk, tumbuhan-tumbuhan dan segenap isi alam dan terkadang pula angin menjadi malapetaka yang mengerikan.
Ah, saya jadi latah menginguti jejak Bengawan Penabur Kasih, tetapi apa salahnya mecoba berbagi rasa sebisanya. Tatap dan penamu asah (Ch,Catetan 1946).
ANGIN
oleh : Fevi Machuriyati
Apa yang kau harap tentang angin
Ia datang melewati lorong hatimu
Kadang hanya singgah sekedar menyapa
Berkabar basi atau sekedar meluangkan percakapan
Kadang bernyanyi serupa orkesta di taman hatimu
Kesejukan buai syair sampai menghujan ke pusara
Membawamu kepada musim bunga
Penuh mawar " Si Marwan "
Ah,
Angin kadang bikin ribut
Sekali-kali ia menikung
Mengipas api
Menghujam sembilu di dada
Tapi ia selalu pandai mengunci bibir
Di semua pintu
Hakku bukan ?
Angin selalu tak berarah
Datang dan pergi di kefanaan
Tak selalu ramah pada cuaca
Biarkan saja ia menyelesaikan inginnya
Sang penyair memulai puisi ini dengan tanya, kemudian dijawabnya sendiri sesuai pemaknaannya tentang "angin" dengan keterbatasan ruang, sebab angin adalah keluasan yang hampir-hampit tidak terhingga. Namun dibatasinya gerak angin itu pada suatu ruang yang disebutnya " hati " (ia datang melewati lorong hatimu).
Ketika angin memasuki rongga dada, maka ia menjelma menjadi ruh, nyawa, jiwa dan sejenisnya. Dan hatilah yang menjadi maha raja menggerakkan angin ke seluruh tubuh menjadi aktivitas. Lantas sejak kapan angin itu memasuki tubuh manusia ?
Pada saat terjadi pertemuan sel dan ovum di rahim ibu, terjadilah 4 proses tahapan yang masing-masing 40 hari = 160 hari hingga berbentuk jazad tanpa gerak. Oleh karena itu, bersama rahmat Illahi menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh. (QS.32:19). Angin/ruh Illahi itulah penggerak kehidupan, sehingga si manusia kecil bisa bermain bola, menendang ke kiri dan ke kanan dalam lingkungan bundar ibunya yang sempit. (hanya si ibu yang merasakannya, sedangkan si bapak hanya mendengar kisahnya dengan penuh harap).
Selanjutnya memasuki perjalanan angin di kefanaan yang hanya menikung pada dua arah, yaitu kefasikan dan ketaqwaan : " Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan " (QS.91:18). Dan jalan itu adalah pilihan, bebas tanpa bersyarat sebagaimana yang dituang dalam akhir puisi " biarkan ia menyelesaikan inginnya ".
Benarkan angin itu " kadang hanya singgah sebentar menyapa ?". Tentu saja, sebab kepergian angin dari jazad (kematian) tak terduga. Sewaktu-sewaktu ia pergi tanpa pamit dan tanpa mampu dicegah. Oleh karena itu, kepergian angin terkadang sangat menakutkan bagi mereka yang tidak siap. Sebaliknya menjadi kecintaan bagi mereka yang menyadari dan mengharapkan.
Agak sulit memang menjelajahi setiap kata/kalimat dalam puisi dan saya memang tidak mampu menelusuri relung-relung. Hanya ada 2 kalimat yang ingin saya garis bawahi. " Angin membawamu kepada musim bunga ", bahwa angin yang terpelihara dalam nafsul mutmainnah akan mendapat tempat khusus di sisi Allah yang penuh bunga (kelezatan dan keindahan). Sebaliknya angin yang liar akan " mengipas api, menghujam sembilu di dadar " (amarah,demdam, benci,iri, sombong dalam segala macam penyakit hati).
Bagi saya puisi ini cukup runut, kecuali ada kata yang belum saya pahami, yaitu makna " Si Marwan " dan " Hakku bukan ? " Apakah ada beda dengan kata HAQ ?
Sudah sampai pada batas, saya bisa bermain dengan angin. Senja semakin menepi untuk membaca angin yang pernah dilewatinya.
: bual-bual sejenak dengan pusi " ANGIN ", Fevi Machuriayati.
Perjalanan saya kali ini tanpa bekal rumus yang dibalut dalam kain sutra sastra, kecuali sekedar pengalaman panjang dari menyusuri pematang kehidupan. Mungkin ini kesilapan yang disengaja untuk mengolah puisi tanpa didukung oleh pemahaman tentang semiotik heuristik dan hermeneutik, tetapi saya yakin bahwa puisi untuk semua penikmat dan bukan hanya berkubang dalam kepentingan sastra untuk sastra. Maka izinkanlah saya mengembara bersama " angin " mengikuti geraknya hingga pada persinggahan antah berantah.
Dalam falsafah Timur sering disebut empat sumber (tanah, air, angin dan api) sebagai energi kehidupan. Saya mencoba memilih angin dengan segala ambigunya (penyimpangan arti), sebab angin dapat masuk di setiap gerak kehidupan yang disuatu waktu dapat menjadi sahabat bagi manusia,mahluk, tumbuhan-tumbuhan dan segenap isi alam dan terkadang pula angin menjadi malapetaka yang mengerikan.
Ah, saya jadi latah menginguti jejak Bengawan Penabur Kasih, tetapi apa salahnya mecoba berbagi rasa sebisanya. Tatap dan penamu asah (Ch,Catetan 1946).
ANGIN
oleh : Fevi Machuriyati
Apa yang kau harap tentang angin
Ia datang melewati lorong hatimu
Kadang hanya singgah sekedar menyapa
Berkabar basi atau sekedar meluangkan percakapan
Kadang bernyanyi serupa orkesta di taman hatimu
Kesejukan buai syair sampai menghujan ke pusara
Membawamu kepada musim bunga
Penuh mawar " Si Marwan "
Ah,
Angin kadang bikin ribut
Sekali-kali ia menikung
Mengipas api
Menghujam sembilu di dada
Tapi ia selalu pandai mengunci bibir
Di semua pintu
Hakku bukan ?
Angin selalu tak berarah
Datang dan pergi di kefanaan
Tak selalu ramah pada cuaca
Biarkan saja ia menyelesaikan inginnya
Sang penyair memulai puisi ini dengan tanya, kemudian dijawabnya sendiri sesuai pemaknaannya tentang "angin" dengan keterbatasan ruang, sebab angin adalah keluasan yang hampir-hampit tidak terhingga. Namun dibatasinya gerak angin itu pada suatu ruang yang disebutnya " hati " (ia datang melewati lorong hatimu).
Ketika angin memasuki rongga dada, maka ia menjelma menjadi ruh, nyawa, jiwa dan sejenisnya. Dan hatilah yang menjadi maha raja menggerakkan angin ke seluruh tubuh menjadi aktivitas. Lantas sejak kapan angin itu memasuki tubuh manusia ?
Pada saat terjadi pertemuan sel dan ovum di rahim ibu, terjadilah 4 proses tahapan yang masing-masing 40 hari = 160 hari hingga berbentuk jazad tanpa gerak. Oleh karena itu, bersama rahmat Illahi menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh. (QS.32:19). Angin/ruh Illahi itulah penggerak kehidupan, sehingga si manusia kecil bisa bermain bola, menendang ke kiri dan ke kanan dalam lingkungan bundar ibunya yang sempit. (hanya si ibu yang merasakannya, sedangkan si bapak hanya mendengar kisahnya dengan penuh harap).
Selanjutnya memasuki perjalanan angin di kefanaan yang hanya menikung pada dua arah, yaitu kefasikan dan ketaqwaan : " Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan " (QS.91:18). Dan jalan itu adalah pilihan, bebas tanpa bersyarat sebagaimana yang dituang dalam akhir puisi " biarkan ia menyelesaikan inginnya ".
Benarkan angin itu " kadang hanya singgah sebentar menyapa ?". Tentu saja, sebab kepergian angin dari jazad (kematian) tak terduga. Sewaktu-sewaktu ia pergi tanpa pamit dan tanpa mampu dicegah. Oleh karena itu, kepergian angin terkadang sangat menakutkan bagi mereka yang tidak siap. Sebaliknya menjadi kecintaan bagi mereka yang menyadari dan mengharapkan.
Agak sulit memang menjelajahi setiap kata/kalimat dalam puisi dan saya memang tidak mampu menelusuri relung-relung. Hanya ada 2 kalimat yang ingin saya garis bawahi. " Angin membawamu kepada musim bunga ", bahwa angin yang terpelihara dalam nafsul mutmainnah akan mendapat tempat khusus di sisi Allah yang penuh bunga (kelezatan dan keindahan). Sebaliknya angin yang liar akan " mengipas api, menghujam sembilu di dadar " (amarah,demdam, benci,iri, sombong dalam segala macam penyakit hati).
Bagi saya puisi ini cukup runut, kecuali ada kata yang belum saya pahami, yaitu makna " Si Marwan " dan " Hakku bukan ? " Apakah ada beda dengan kata HAQ ?
Sudah sampai pada batas, saya bisa bermain dengan angin. Senja semakin menepi untuk membaca angin yang pernah dilewatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar