Malam.......
Langit
serupa jelaga pekat menghiasi lazuardi tanpa cahaya. Bulanpun angkuh hingga tak
menampakkan batang hidungnya. Apalagi bintang yang cahayanya yang hanya
dianggap kunang-kunang oleh bulan, mulai ber ego ria dari hedonisme sang Bulan.
Bintangpun tak sudi beriringan dengan
bulan. Beginilah kalau alam tidak berharmonisasi pada kodrat garis Illahi. Yang
lain merasa lebih tinggi diantara tertinggi di garis cakrawala. Gelap, suram
aroma kota mati yang ditinggal mati di ranah leluhur oleh leluhurnya. Malam yang membaca cuaca hatiku. Menunggu
kangmasku, Pandu pulang untuk mencari
sebait dongeng yang ditembangkan untukku tiap malamnya. Seperti rutinitas
ritual yang sehari-hari dilakukan. Bak rutunitas untuk buang hajat yang tidak
pernah absen mengisi toilet-toilet rumah. Ah, agak sedikit menjijikkan untuk
ungkapan malam ini. Barangkali ikut-ikut cuaca malam yang gelap tanpa
harmonisasi. Gairah moddy terasa hambar tanpa kangmas Pandu
Ah,
kangmasku belum jua pulang. Menunggu detik-detik jam bergerak terasa lamban.
Berbanding lurus dengan detak jantungku yang berpacu cepat
lewat ruang waktu
Aku
melihat cicak tertidur setelah kenyang mengisi perutnya dengan nyamuk-nyamuk.
Paling tidak aku perlu berterimakasih
kepadanya membantuku mengusir nyamuk-nyamuk nakal yang melahap darahku
sebagai santapan makan malamnya . Berterimaksih lagi pada cicak yang menemaniku
menunggu malam-malam gelisah. Ah...mengingatkan
kangmas Pandu yang selalu tak rela vampir-vampir kecil menghisap darahku saat aku tertidur. Dengan setia ia melumuri tubuhku
dengan minyak serai, sejenis minyak yang baunya dibenci oleh vampir-vampir
kecil itu.
“
Kangmas Pandu “, bisikku dalam cemas. Lewat
waktu kau belum jua menampakkan dirimu. Aku menunggu sampai tertidur disofa
yang selalu kita duduk berdua. Kau memangku diriku dengan bait-bait cerita yang
terlontar dari bibir lengkungmu. Dari
romansa Ramayana. Percintaan yang tak lekang dikoyak waktu. Kau bilang kalau
cinta Rama kepada Shinta adalah cinta sejati tapi sering aku protes kalau cinta
sejati itu selalu menerima kekurangan Shinta dan mengerti bahwa apa yang
terjadi pada Shinta bukan kesalahan Shinta semata. Tapi dari Rahwana yang
terpesona pada kecantikan dan kelembutan Shinta. Sampai tak bisa menahan nafsu
syahawatnya untuk menodai kesucian Shinta. Seharusnya Rama tak perlu menolak
Shinta hingga shinta meleburkan dirinya masuk ke pelukan bumi. Ah..kangmas
.....cerita itu meninggalkan luka di hatiku yang tidak bisa menerima akhir
cinta yang tak berujung dengan tembang-tembang kebahagiaan. Mengapa harus
perempuan yang jadi ego laki-laki. Coba kalau Rama yang melakukan penghianatan
terpesona pada cinta....Kendedes. Pasti tak ada karma yang mengharuskan Rama
menerjunkan diri kebumi seperti Shinta. Malah Rama akan menawarkan kepada Shinta
dimadu apa diceraikan. Oala kangmas... kangmas...nasib perempuan serupa tangkai
yang sudah layu lalu dibuang atau dibiarkan mengering begitu dipohon sampai
jatuh terkulai menyentuh bumi. Kau cuma tersenyum mendengar cercauanku yang
tidak menerima keadilan atas nama perempuan.
“
yayi, mana mungkinlah Rama terpesona pada Kendedes. Mereka hidup didemensi
waktu yang berbeda. Ken dedes itu hidup dijaman Ken Arok “, seraya menjentikkan
tanganmu dengan lembut sampai menyentuh ujung hidungku.
“
Kangmaaaaasssss, mengapa belum kau dongengkan cerita Kendedes dengan tuntas.
Kemarin Cuma sepotong lalu kau mendengkur “, kesal bercampur gemas aku pukuli
bahunya yang bidang. Bahu yang selalu menopangku untuk sampai terlelap
dimalam-malam yang berurai madu.
“
Yayi...ampun jangan pukul aku, baiklah nanti aku lanjutkan ceritanya...tapi
beri aku senyummu lagi ya. Karena wajahmu lebih indah dari seribu Kendedes.”,
rayu kangmas Pandu lagi,
Aku
tak kuasa kalau sudah kangmasku merayu. Luntur ruah semua amarah. Sampai tak
tersisa hingga aku melupakan arti kemarahan.Dan disofa itu cerita Kendedes ia
tuturkan dengan tuntas. Sampai kami tertidur dalam pelukan malam beraroma cinta
Bulan
mulai mengintip di balik kelam lazuardi. Aku merasa ia mengejekku. Karena detik
waktu terus merambah semakin cepat. Sebentar laku bulan hengkang digantikan
langit surya. Aku melihat pandangan bulan nyinyir kepadaku . Seperti mengeja
jantungku yang tak berhenti berdetak oleh suara membuncah resah, Mengapa kang
mas Pandu belum juga pulang. Tak
biasanya untuk mencari bait sebuah dongeng sampai pulang sebegini larut. Aku
masih duduk disofa memandang langit dari balik jendela. Dingin merayapi
menembus kulitku yang tertutup sweater nilon. Kangmas Pandu....kau selalu
memelukku dengan mesra ketika kurasa gigil malam yang menjilati sumsumku.
Pelukan kangmas Pandu begitu hangat sampai mengusir gigil yang marah karena tak
bisa menyentuhku. Aku tak butuh sweater atau mantel. Tapi kukuh tangan kangmas
Pandu yang bisa mengusir rasa anyes itu. Berganti rasa hangat .
Lalu
kau dongengkan lagi tentang bandung Bondowos dan Roro Jonggrang. Bandung yang
Jumawa, Ambisius dan Berlaku banaspati. Wajahnya rupawan Cuma topeng nya saja,
dari dalam dirinya yang berlaku angkara murka menjadi penakluk semua kerajaan.
Mentasbihkan diri sebagai raja diraja. Loro Jonggrang putri jelita yang rendah
hati. Luhur budi dan membenci laku adigung adiguna. Tak terbersitpun dihatinya
untuk mencintai Bandung bandawasa. Untuk
menyiasati penolakan pinangan Roro Jonggrang memberikan satu syarat ia minta
dibuatkan candi dengan seribu Arca dalam satu malam. Sebelum matahari terbit.
Bandung bandawasa yang merasa jumawa sakti mandraguna menyanggupi persyaratan
itu ,ia pun yakin pada kemampuannya.Memang dengan bantuan bala kurawa dari kaum
jin Bandung Bandawasa telah menyelsaikan 999 arca sebelum fajar. Roro jonggrang
tidak hilang akal muslihatnya. Dibuatlah fajar buatan dengan membakar jerami,
seolah-olah fajar telah tiba dan membangunkan ayam jantan berkokok.. Bandung
merasa gagal menyelesaikan tugas itu. Tapi kemudian ia tahu siasat Roro
Jonggrang. Dengan amarah yang meluap ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung.
Menggenapi seribu patung candi Prambanan.
“
Kangmas, kalau dirimu seperti Bandung Bondowoso aku takkan mencintaimu”,
suaraku manja seraya bergelayut dilengan kangmas Pandu.
“
Aku lebih suka kesederhanaan, melakoni hidup dengan legowo. Tresna yang
didasari oleh manunggaling sang hayat. Tanpa peduli tahta, harta dan ketampanan
“ ujarku kembali.
“ Yayi, ketahilah aku juga mencintaimu , dan
aku akan menyiapkan 1000 dongeng tiap malam untukmu “
“
Teruslah kangmas dongengkan aku tiap malam kisah dari babad tanah ini. Sebab
dongeng kakangmas menjadi ruh kehidupanku. Tanpa dongengmu kakang aku akan lemas,
lunglai dan segera sampa di gerbang azali “
Bulan
kala itu mengintip dibalik langit. Seolah ingin melihat kemesraan kami. Aku
jengah dibuatnya.
“
kangmas Pandu, kita tutup tirai itu. Rupanya ada yang cemburu melihat kita “,
gumanku sedikit gusar.. Lalu kami berdua bermesra di balik tirai yang aman dari
pandangan bulan.
Detak jarum kian cepat berbanding terbalik
dengan detak jantungku yang semakin melemah. Waktu sudah menunjukkan angka 3.
Sebentar lagi fajar datang. Menapakkan ujung
kakinya diufuk. Tapi kangmas Panduku belum pulang dengan sebait dongengnya.
Tubuhku semakin nanar dan bergelung dengan warna-warna yang semakin memudar
lalu putaran serupa beliung menghentak mencopoti semua organku yang merapuh.
Mataku , hidungku. , lidah, telinga dan
perasaanku. Sebelum wajahku tanpa bentuk dan tanpa rasa aku ingin bertemu
dengannya.
Kakang Pandu.........kau tidak merasa
dikedalam jiwamu’, bisikku tertahan
Tiba-tiba seberkas cahaya muncul didepanku. Cahaya
yang bisa kutangkap dari sebelah mataku yang mengabur. Sosok gagah dengan baju
beskap pengantin Jawa. Beskap berlengan harja, Kemeja berkerah dan bermanset.
Dengan jarik sidomukti. Ia begitu tampan lebih tampan dari seribu Arjuna
“
yayi...yayi aku datang, “, Suara kakangmas Pandu lamat-lamat ditelingaku yang
mulai habis indera dengarnya
“
Kakangmas!, .................kakangmas!”, kuhamburkan diriku memeluknya
Tiba-tiba
bajuku sudah berganti, baju kebaya
beludu hitam. Jarik dengan motif sidomukti. Sanggul beruntai melati. Serasi
dengan kangmasku Pandu, beriringan melangkah mengikuti cahaya itu. Tanpa wajah.
Karena wajahku sudah rata !
“
Aku nyanyikan suatu tembang yayi penutup dongeng kita”, ujarmu yang lamat-lamat dari satu telingaku
yang sudah mulai meleleh. ........
Aja
turu sore kaki
Ana
Dewa nganglang jagal
Nyangking
bokor kancane
Isine
donga tetulak
Sandang
kelawan pangan
Yoiku
bageyanipun
Wong
melek sabar nerimo
Aja
nganti kebanjur
Barang
polah kang nara jujur
Yen
kebanjur sayekti kojur tan becik
Becik
ngupaya iku
Pitutur
engkang sayektos
Sidoarjo. 7/1/2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar