Rabu, 11 Januari 2012

Cerpen. Dongeng-dongeng Kangmas Pandu

Malam.......
Langit serupa jelaga pekat menghiasi lazuardi tanpa cahaya. Bulanpun angkuh hingga tak menampakkan batang hidungnya. Apalagi bintang yang cahayanya yang hanya dianggap kunang-kunang oleh bulan, mulai ber ego ria dari hedonisme sang Bulan. Bintangpun  tak sudi beriringan dengan bulan. Beginilah kalau alam tidak berharmonisasi pada kodrat garis Illahi. Yang lain merasa lebih tinggi diantara tertinggi di garis cakrawala. Gelap, suram aroma kota mati yang ditinggal mati di ranah leluhur oleh leluhurnya.  Malam yang membaca cuaca hatiku. Menunggu kangmasku, Pandu  pulang untuk mencari sebait dongeng yang ditembangkan untukku tiap malamnya. Seperti rutinitas ritual yang sehari-hari dilakukan. Bak rutunitas untuk buang hajat yang tidak pernah absen mengisi toilet-toilet rumah. Ah, agak sedikit menjijikkan untuk ungkapan malam ini. Barangkali ikut-ikut cuaca malam yang gelap tanpa harmonisasi. Gairah moddy terasa hambar tanpa kangmas Pandu
Ah, kangmasku belum jua pulang. Menunggu detik-detik jam bergerak terasa lamban. Berbanding lurus dengan detak jantungku yang  berpacu cepat  lewat ruang waktu

Aku melihat cicak tertidur setelah kenyang mengisi perutnya dengan nyamuk-nyamuk. Paling tidak aku perlu berterimakasih  kepadanya membantuku mengusir nyamuk-nyamuk nakal yang melahap darahku sebagai santapan makan malamnya . Berterimaksih lagi pada cicak yang menemaniku menunggu malam-malam gelisah.  Ah...mengingatkan kangmas Pandu yang selalu tak rela vampir-vampir  kecil  menghisap darahku saat aku  tertidur. Dengan setia ia melumuri tubuhku dengan minyak serai, sejenis minyak yang baunya dibenci oleh vampir-vampir kecil itu.

“ Kangmas Pandu “, bisikku dalam cemas.  Lewat waktu kau belum jua menampakkan dirimu. Aku menunggu sampai tertidur disofa yang selalu kita duduk berdua. Kau memangku diriku dengan bait-bait cerita yang terlontar dari bibir lengkungmu.  Dari romansa Ramayana. Percintaan yang tak lekang dikoyak waktu. Kau bilang kalau cinta Rama kepada Shinta adalah cinta sejati tapi sering aku protes kalau cinta sejati itu selalu menerima kekurangan Shinta dan mengerti bahwa apa yang terjadi pada Shinta bukan kesalahan Shinta semata. Tapi dari Rahwana yang terpesona pada kecantikan dan kelembutan Shinta. Sampai tak bisa menahan nafsu syahawatnya untuk menodai kesucian Shinta. Seharusnya Rama tak perlu menolak Shinta hingga shinta meleburkan dirinya masuk ke pelukan bumi. Ah..kangmas .....cerita itu meninggalkan luka di hatiku yang tidak bisa menerima akhir cinta yang tak berujung dengan tembang-tembang kebahagiaan. Mengapa harus perempuan yang jadi ego laki-laki. Coba kalau Rama yang melakukan penghianatan terpesona pada cinta....Kendedes. Pasti tak ada karma yang mengharuskan Rama menerjunkan diri kebumi seperti Shinta. Malah Rama akan menawarkan kepada Shinta dimadu apa diceraikan. Oala kangmas... kangmas...nasib perempuan serupa tangkai yang sudah layu lalu dibuang atau dibiarkan mengering begitu dipohon sampai jatuh terkulai menyentuh bumi. Kau cuma tersenyum mendengar cercauanku yang tidak menerima keadilan atas nama perempuan.
“ yayi, mana mungkinlah Rama terpesona pada Kendedes. Mereka hidup didemensi waktu yang berbeda. Ken dedes itu hidup dijaman Ken Arok “, seraya menjentikkan tanganmu dengan lembut sampai menyentuh ujung hidungku.
“ Kangmaaaaasssss, mengapa belum kau dongengkan cerita Kendedes dengan tuntas. Kemarin Cuma sepotong lalu kau mendengkur “, kesal bercampur gemas aku pukuli bahunya yang bidang. Bahu yang selalu menopangku untuk sampai terlelap dimalam-malam yang berurai madu.
“ Yayi...ampun jangan pukul aku, baiklah nanti aku lanjutkan ceritanya...tapi beri aku senyummu lagi ya. Karena wajahmu lebih indah dari seribu Kendedes.”, rayu kangmas Pandu lagi,
Aku tak kuasa kalau sudah kangmasku merayu. Luntur ruah semua amarah. Sampai tak tersisa hingga aku melupakan arti kemarahan.Dan disofa itu cerita Kendedes ia tuturkan dengan tuntas. Sampai kami tertidur dalam pelukan malam beraroma cinta

Bulan mulai mengintip di balik kelam lazuardi. Aku merasa ia mengejekku. Karena detik waktu terus merambah semakin cepat. Sebentar laku bulan hengkang digantikan langit surya. Aku melihat pandangan bulan nyinyir kepadaku . Seperti mengeja jantungku yang tak berhenti berdetak oleh suara membuncah resah, Mengapa kang mas Pandu  belum juga pulang. Tak biasanya untuk mencari bait sebuah dongeng sampai pulang sebegini larut. Aku masih duduk disofa memandang langit dari balik jendela. Dingin merayapi menembus kulitku yang tertutup sweater nilon. Kangmas Pandu....kau selalu memelukku dengan mesra ketika kurasa gigil malam yang menjilati sumsumku. Pelukan kangmas Pandu begitu hangat sampai mengusir gigil yang marah karena tak bisa menyentuhku. Aku tak butuh sweater atau mantel. Tapi kukuh tangan kangmas Pandu yang bisa mengusir rasa anyes itu. Berganti rasa hangat .

Lalu kau dongengkan lagi tentang bandung Bondowos dan Roro Jonggrang. Bandung yang Jumawa, Ambisius dan Berlaku banaspati. Wajahnya rupawan Cuma topeng nya saja, dari dalam dirinya yang berlaku angkara murka menjadi penakluk semua kerajaan. Mentasbihkan diri sebagai raja diraja. Loro Jonggrang putri jelita yang rendah hati. Luhur budi dan membenci laku adigung adiguna. Tak terbersitpun dihatinya untuk mencintai Bandung bandawasa.  Untuk menyiasati penolakan pinangan Roro Jonggrang memberikan satu syarat ia minta dibuatkan candi dengan seribu Arca dalam satu malam. Sebelum matahari terbit. Bandung bandawasa yang merasa jumawa sakti mandraguna menyanggupi persyaratan itu ,ia pun yakin pada kemampuannya.Memang dengan bantuan bala kurawa dari kaum jin Bandung Bandawasa telah menyelsaikan 999 arca sebelum fajar. Roro jonggrang tidak hilang akal muslihatnya. Dibuatlah fajar buatan dengan membakar jerami, seolah-olah fajar telah tiba dan  membangunkan ayam jantan berkokok.. Bandung merasa gagal menyelesaikan tugas itu. Tapi kemudian ia tahu siasat Roro Jonggrang. Dengan amarah yang meluap ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung. Menggenapi seribu patung candi Prambanan.
“ Kangmas, kalau dirimu seperti Bandung Bondowoso aku takkan mencintaimu”, suaraku manja seraya bergelayut dilengan kangmas Pandu.
“ Aku lebih suka kesederhanaan, melakoni hidup dengan legowo. Tresna yang didasari oleh manunggaling sang hayat. Tanpa peduli tahta, harta dan ketampanan “ ujarku kembali.
  “ Yayi, ketahilah aku juga mencintaimu , dan aku akan menyiapkan 1000 dongeng tiap malam untukmu “ 
“ Teruslah kangmas dongengkan aku tiap malam kisah dari babad tanah ini. Sebab dongeng kakangmas menjadi ruh kehidupanku. Tanpa dongengmu kakang aku akan lemas, lunglai dan segera sampa di gerbang azali “
Bulan kala itu mengintip dibalik langit. Seolah ingin melihat kemesraan kami. Aku jengah dibuatnya.
“ kangmas Pandu, kita tutup tirai itu. Rupanya ada yang cemburu melihat kita “, gumanku sedikit gusar.. Lalu kami berdua bermesra di balik tirai yang aman dari pandangan bulan.

 Detak jarum kian cepat berbanding terbalik dengan detak jantungku yang semakin melemah. Waktu sudah menunjukkan angka 3. Sebentar lagi fajar datang. Menapakkan  ujung kakinya diufuk. Tapi kangmas Panduku belum pulang dengan sebait dongengnya. Tubuhku semakin nanar dan bergelung dengan warna-warna yang semakin memudar lalu putaran serupa beliung menghentak mencopoti semua organku yang merapuh. Mataku  , hidungku. , lidah, telinga dan perasaanku. Sebelum wajahku tanpa bentuk dan tanpa rasa aku ingin bertemu dengannya.

 Kakang Pandu.........kau tidak merasa dikedalam jiwamu’, bisikku tertahan
 Tiba-tiba seberkas cahaya muncul didepanku. Cahaya yang bisa kutangkap dari sebelah mataku yang mengabur. Sosok gagah dengan baju beskap pengantin Jawa. Beskap berlengan harja, Kemeja berkerah dan bermanset. Dengan jarik sidomukti. Ia begitu tampan lebih tampan dari seribu Arjuna
“ yayi...yayi aku datang, “, Suara kakangmas Pandu lamat-lamat ditelingaku yang mulai habis indera dengarnya
“ Kakangmas!, .................kakangmas!”, kuhamburkan diriku memeluknya
Tiba-tiba bajuku sudah berganti,  baju kebaya beludu hitam. Jarik dengan motif sidomukti. Sanggul beruntai melati. Serasi dengan kangmasku Pandu, beriringan melangkah mengikuti cahaya itu. Tanpa wajah. Karena wajahku sudah rata !

“ Aku nyanyikan suatu tembang yayi penutup dongeng kita”,  ujarmu yang lamat-lamat dari satu telingaku yang sudah mulai meleleh.  ........

Aja turu sore kaki
Ana Dewa nganglang jagal
Nyangking bokor kancane
Isine donga tetulak
Sandang kelawan pangan
Yoiku bageyanipun
Wong melek sabar nerimo

Aja nganti kebanjur
Barang polah kang nara jujur
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik
Becik ngupaya iku
Pitutur engkang sayektos

Sidoarjo. 7/1/2012




Tidak ada komentar:

Posting Komentar