(Ketika kau berlari menembus gerimis. Dengan buncah amarah mudamu.
Perdulikan airmataku yang tertahan oleh bilur-bilur sesalku. Meredam
duka beranjak senja yang kelam..Aku tak bisa mencegah langkahmu
menerjang hujan . Menjauh dengan sisa batin jiwamu yang luka )
Memahami hati remajamu begitu sulitnya
Kristal yang pecah karena wejangku yang salah kau mengerti
Aku punguti dan coba satukan kembali
Kurekat dengan cinta kasih yang aku ambil dari sebagian nyawaku
Kau tak mengerti semua ini bunda lakukan karena sayang dirimu
Memahami jiwa remajamu begitu berat
Menggembala di padang yang telah aku cabuti dari duri dan kerikil
Agar kakimu tak luka karena tajamnya
Aku halau segala bayangan gelap yang coba membawa sesat arahmu
Kunyalakan obor yang terbuat dari semua bahagian dari tulang-tulang tubuhku
Yang ujungnya apinya abadi dengan mantera doa yang selalu melindungi nyalangnya
Menuntun jalanmu sampai ke cahaya gemerlapan
( Bayangan hujan yang menembus bajumu tanpa mantel. Terus menghantui dengan gelisahku
Aku
takut gigil dingin merutukimu. Diantara pucat bibirmu .Aku ingin
memelukmu dengan kehangatan sepenuh jiwaku. Tiga jam kau sudah diluar
berkawan hujan dan senja sudah beranjak kelam )
Jelang maghrib
Kau berdiri depan pintu dengan tubuh kuyub
Bibir biru, air mata yang tertelan basah hujan
“ Bunda maafkan aku “,
Luah rasa bahagia yang bisa terwakilkan oleh apapun
Nafas panjang dari kelegaan yang terbalut cemas seketika sirna
Aku peluk dengan segenap kehangatan yang memancar setiap pori tubuhku
Dalam rapalan doa yang kueja lewat bait-bait kalamNya
Mengertilah nak, bunda sayang dirimu
Sidoarjo 16/1/2012
( Amarah hanya menyisakan serpihan kesia-sian . Amarah semakin dalam masuk perangkap dari jamah solusi )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar