“ Neng. Aku tetap pada keykinanku. “, suara sahabatku yang biasanya lembut menjadi bernuansa Srikandi.
“ Walaupun onak dan duri menghalangi. Aku tetap memilih masku, seperti dirimu “, tegas sahabatku lagi
Sahabatku.........
Mengingatkan 16 tahun yang lalu. Ketika aku berkeyakinan dengan “
Laki-laki pilihanku “. Sungguh begitu lebar halangan yang aku tempuh.
Depanku jurang, sebelah jurang sungai yng deras. Depan lagi ngarai. Coba
bayangkan saja, apa kau bisa melewatinya??. Aku paham alasan
menentangku
Sungguh cinta bukan ilmu pasti yang
hasilnya sudah pasti. Teori relativitas einstein ternyata tak berlaku
untuk cinta. Matematika cinta 2x2 tidak harus sama dengan empat. Cinta
chemistry yang tidak ada penjelasan secara ilmiah. Ketika itu aku
percaya pada kata hatiku, menjalani tanpa logika atau bertubi alasan
pertanyaan kenapa? Mengapa? Sebab apa?. Satu fokus bagiku Menuju satu
muara “ Takdir “. Keputusan paling dewasa dari seorang AKU yang selalu
kekanakan, implusif dan ekspresif.
Tahukah
engkau sahabatku, apa arti keputusan dewasa?. Keputusan yang membuat
kau bertanggung jawab pada pilihanmu. Dengn segenap resiko dan
konsekwensinya. Suatu kali kita dihadapkan pada keputusan yang tersulit.
Bahkan harus menentang keputusan orang -orang tercinta. Sanggupkah kau
memikul sendirian semua lakon hidupmu?. karena itu bagian dari arti
KONSEKWENSI !
Berkaca 16 tahun bukan
seperti melalui jalan sutera yang segalanya halus dan mulus. Seperti
melakoni cerita dengan skenario yang kita pilih. Bahkan kurun rentang
waktu sekian tahun melahirkan banyak suluk. Dari suluk kamasutra,
ramayana. Mahabarata bahkan suluk Srikandi sampai gatot kaca. Berpuluh
suluk yang lahir dari perjalanan waktu.
16
tahun menyulam sutra. Semula jentik lalu larva berubah bentuk menjadi
kempompong yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Baru,bayi kupu-kupu.
Serupa rangkaian episode dari panggung permainan yang kita sulam. Dalam
cerita lakon yang kita pilih,
Sahabatku.........
Kalau kau melihat penghalang dari orang-orang tercinta. Bukan berarti
mereka tidak ingin melihatmu bahagia. Bahkan mereka ingin melihat
hari-harimu selalu bertabur bahagia. Dengan orang yang tepat, dimana
engkau sandarkan bahumu. Seperti adam yang menemukan rusuknya pada hawa.
Begitu sebaliknya. Percayalah kekuatan keyakinanmu akan pilihan hidup
harus engkau pertanggung jawabkan. Dihadapan Tuhan, dihadapan ayah bunda
dan orang-orang tercinta.
Ketika
keyakinan sudah kau topang tongkatnya. Kau pasti tahu ia akan menuntunmu
kejalan yang tak semua bisa indah dalam benakmu. Tak seindah pada
mimpi-mimpimumu. Siapkan jiwa raga untuk mengalami kejutan dari hal yang
tak terduga....
Sahabatku........
Sekian dulu suratku. Teriring doa semoga hari-harimu bertabur bahagia.
Sebentar lagi kau menuju gerbang takdir yang kau jalan. Jika memang dia
yang terbaik untukmu semoga dimudahkan......
Sahabatmu
PUTERI KERANG
Sidoarjo
3/1/2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar