Gadis kecil dengan sorot mata bintang
Di telan tubuh ringkihnya
Sepucat nangka muda
Menunggu bidadari perinya
Mengajaknya pergi
Menaiki tangga istana
Bertahta permen warna warni
Membawa coklat kesukaannya
" Tapi bukan sembarang coklat "
Begitu kata bundanya
Sebab lidahnya terlalu kekal
6 tahun dicerca ARTV
Sampai tak pernah menikmati apa rasa manis itu
' Manis itu seperti petasan yang lumer dilidah
Membuat senyum tak hilang dari wajahmu "
Begitu kata teman bayangannya
Cuma teman imajinasinya !
Ya....tak pernah ia pahami
Ia tak punya teman sejatinya
Semua yang ia dekati menjauh
Apakah ini kutukan sejak ia dilahirkan
Karmapala simalakama orang tuanya
Selalu sendiri
Beralas lara
Gigil kesepian
Memberangus dunia kecilnya
Sorot gadis kecil kian memudar
Gelisah menunggu kereta permen
Bidadari peri menjemput
Kereta yang penuh teman-teman kecilnya
Celoteh riang dan lambaian ramah
Kesakitan menghilang
Batas waktu tersisa di ujung wadag
Menyentuh dinding sukma
Menyisakan air mata sang langit
Langkah kecilnya bergegas menuju kereta
Dia paham benar
Akan abadi pada waktunya
Seperti kata kedua orang tuanya
Yang sebentar lagi menyusulnya
Matahari menata diufuk
Lengkingan tangis pecah suara bundanya
Disebuah Rumah sakit
Bangsal kelas tiga
Mata kecil itu telah padam sorotnya
Tak paham akan dosa siapa ?
Karma siapa ?
.........................................
( Sidoarjo, 1 Desember 2011 )


Tidak ada komentar:
Posting Komentar