Sabtu, 27 Agustus 2011

Cerpen Lelaki Itu

   Kutemui lelaki itu di Ruangl Tulip, menunggu isterinya yang terkapar sakit. Ruang B1 itu selalu menarik perhatianku. Ketika bersitumbuk mata aku lihat pandangannya ia tundukkan. .Aku jadi salah tingkah. Wajahnya dan penampilannya biasa saja. Sederhana. Dengan celana wall biru di padu dengan baju takwa putih. Wajahnya dihiasi jenggot pendek yang tertata rapi, kulit sawo matang dan rambut ikal yang dipotong pendek. Semua takaran itu biasa dan tidak ada ada yang istimewa. Tapi yang menarik dari wajahnya adalah sepasang bola mata teduh. Menatapnya bagaikan berjalan diatas telaga dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi. ketika matahari bersinar tak bersahabat.
            Ada sesuatu yang lebih menarikku ke medan magnit, selain sorot matanya adalah ketelatenannya merawat dan menunggui isterinya. Pasien di ruang B1, Ny Indah Prihatiningsih. Dengan kasus penyakit cancer serviks stadium 3 atau bahasa awamnya kanker leher rahim. Usia isterinya mungkin lebih tua dari lelaki itu. Atau mungkin karena sakit yang dideritanya, membuat wajahnya kelihatan lebih tua.
            Aku bekerja di  Ruang Tulip ini sebagai petugas administrasi. Jadi tidak kontak langsung dengan pasien seperti perawat. Sering aku dengar gunjingan tentang keluarga pasien dari teman-teman perawat. Macam-macamlah, ada yang baik dan buruk. Ada yang cerewet dan tak puas pada pelayanan dan banyak yang merasa puas dengan setumpuk pujian. Begitulah nasib kalau bekerja di bagian pelayanan. Selalu siap dengan kritik apapun. Meskipun custemer servise sebagai motto rumah sakit ini telah  kami terapkan. Pagi ini aku dengar gunjingan tentang keluarga pasien B1.
            “ Kalau saja ada sepuluh keluarga pasien seperti suami bu Indah, pasti tugas kita menjadi lebih ringan”. Suara mbak Sri memecah rutinitas pagi setelah verbed.
            “ Tempat tidur sudah tertata rapi, steak laken, selimut nangring rapi. Seperti kita saja yang verbed, ya mbak Sri,? “, Mbak titik menimpali obrolan mbak Sri.
            “ Yang lebih membuat saya kagum, ketelatenannya merawat isterinya.Dari menyuapi. Menyeka, mengganti baju, bahkan mengganti softeknya ia lakukan sendiri, tadi lihat nggak Mbak isterinya sudah ia bedaki dan seulas lipstik membuat wajahnya kelihatan segar dan nggak,  kuyu seperti pasien lain,”,  sahut mbak Ratna,
            “ Ya, ampyun....sampai sebegitunya.....”. Suara kocak mbak Titik membuat kami tersenyum.
            “  Kalian percaya nggak, setiap malam ia menggelar sajadah, bertahajut, disamping tempat tidur isterinya”. Kata mbak Sri lagi.
            “ Benar, mbak. Aku sering melihatnya.pas jaga malam, waktu mengganti infus isterinya”. Timpal Mbak Ratna.
            “ Sampai aku penasaran, aku ajak ngobrol bu Indah,. Ia bercerita kalau suaminya itu adalah suami kedua, setelah di tinggal wafat suami pertamanya. meninggalkan 3 anak yatim yang masih kecil-kecil. Jadi sekarang suaminyalah yang menopang dan ikhlas merawat ketiga anaknya seperti anak sendiri. Mulai biaya sekolah dan sebagainya....” sambung mbak Ratna lagi
            “ Subhanallah, “. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku
            “ oalah mbak Dewi, sampeyan tak fikir gak nyimak obrolan kita, Lha wong nggethu, kosenstrasi sama merinci pasien pulang, Mbak titik nyelethuk dengan logat jawa medoknya....
            “ Wis kerja, kerja. Kok ngobrol terus “,  lagi-lagi mbak Titik celetukannya, membuat obrolan itu selesai dan kami kembali pada aktivitas kerja masing-masing.
            Tiga hari setelahnya aku melihat status pasien B1 sudah tertata rapi  bersama satus-status pasien yang lain diatas mejaku. Ini menandakan pasien diperbolehkan dokter pulang. Seperti biasa tugas utamaku adalah merinci semua biaya, sejak masuk rumah sakit sampai keluar rumah sakit. Setelah semua aku output/entry biaya dan tindakan pasien dan kuprint rincian biaya. Setelah itu pasien tinggal membawa rincian ke kasir untuk diselesaikan pembayaran adminitrasinya.
            Lelaki itu datang kepadaku untuk segera menyelesaikan administrasi pulangnya.
                 “ Mbak Dewi, Ny Indah Prihatiningsih sudah di rinci?”, tanya lelaki lirih seraya duduk .                                 
Aku terkejut, manakala ia memanggil namaku. Ah, dari mana ia tahu namaku, kutepiskan curigaku. Mungkin ada perawat lain yang meberitahukan penyelesaian administrasi  di Mbak dewi, seperti biasanya namaku disebut. Jadi kalau pasien pulang tinggal menemuiku.
            “ Iya pak, ini sudah saya rinci. Total biayanya bisa dilihat dan pembayarannya di kasir rawat inap ruangannya tiga pintu ke utara”, tanganku menunjuk tempat itu.
            “  Maaf, mbak Dewi lupa sama saya ya? “,
            Bagai halilintar aku terkejut mendengar kalimat lelaki itu. Aku pandang lelaki itu, tapi dia tetap tertunduk.
            “  Saya Ridho, mbak,  saudaranya Mbak Rif’at. 18 tahun yang lalu saya dan keluarga ke rumah mbak Dewi “, Suaranya pelan, tapi membuat tubuhku menggigil seperti dialiri listri 1000 Volt.
Ya, Allah...ya Robbi.  Aku hampir tak percaya. Ingatan sekelebatan kembali ke masa lalu.  Lelaki itu adalah lelaki yang aku tolak pinangannya 18 tahun  yang silam..................... ......................................................................................................................................................

Sidoarjo, 26 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar