Kutemui lelaki itu di Ruangl Tulip, menunggu isterinya yang
terkapar sakit. Ruang B1 itu selalu menarik perhatianku. Ketika
bersitumbuk mata aku lihat pandangannya ia tundukkan. .Aku jadi salah
tingkah. Wajahnya dan penampilannya biasa saja. Sederhana. Dengan celana
wall biru di padu dengan baju takwa putih. Wajahnya dihiasi jenggot
pendek yang tertata rapi, kulit sawo matang dan rambut ikal yang
dipotong pendek. Semua takaran itu biasa dan tidak ada ada yang
istimewa. Tapi yang menarik dari wajahnya adalah sepasang bola mata
teduh. Menatapnya bagaikan berjalan diatas telaga dengan angin yang
berhembus sepoi-sepoi. ketika matahari bersinar tak bersahabat.
Ada sesuatu yang lebih menarikku ke medan magnit, selain sorot matanya
adalah ketelatenannya merawat dan menunggui isterinya. Pasien di ruang
B1, Ny Indah Prihatiningsih. Dengan kasus penyakit cancer serviks
stadium 3 atau bahasa awamnya kanker leher rahim. Usia isterinya mungkin
lebih tua dari lelaki itu. Atau mungkin karena sakit yang dideritanya,
membuat wajahnya kelihatan lebih tua.
Aku bekerja di
Ruang Tulip ini sebagai petugas administrasi. Jadi tidak kontak langsung
dengan pasien seperti perawat. Sering aku dengar gunjingan tentang
keluarga pasien dari teman-teman perawat. Macam-macamlah, ada yang baik
dan buruk. Ada yang cerewet dan tak puas pada pelayanan dan banyak yang
merasa puas dengan setumpuk pujian. Begitulah nasib kalau bekerja di
bagian pelayanan. Selalu siap dengan kritik apapun. Meskipun custemer
servise sebagai motto rumah sakit ini telah kami terapkan. Pagi ini aku
dengar gunjingan tentang keluarga pasien B1.
“ Kalau
saja ada sepuluh keluarga pasien seperti suami bu Indah, pasti tugas
kita menjadi lebih ringan”. Suara mbak Sri memecah rutinitas pagi
setelah verbed.
“ Tempat tidur sudah tertata rapi,
steak laken, selimut nangring rapi. Seperti kita saja yang verbed, ya
mbak Sri,? “, Mbak titik menimpali obrolan mbak Sri.
“
Yang lebih membuat saya kagum, ketelatenannya merawat isterinya.Dari
menyuapi. Menyeka, mengganti baju, bahkan mengganti softeknya ia lakukan
sendiri, tadi lihat nggak Mbak isterinya sudah ia bedaki dan seulas
lipstik membuat wajahnya kelihatan segar dan nggak, kuyu seperti pasien
lain,”, sahut mbak Ratna,
“ Ya, ampyun....sampai sebegitunya.....”. Suara kocak mbak Titik membuat kami tersenyum.
“ Kalian percaya nggak, setiap malam ia menggelar sajadah, bertahajut,
disamping tempat tidur isterinya”. Kata mbak Sri lagi.
“ Benar, mbak. Aku sering melihatnya.pas jaga malam, waktu mengganti infus isterinya”. Timpal Mbak Ratna.
“ Sampai aku penasaran, aku ajak ngobrol bu Indah,. Ia bercerita kalau
suaminya itu adalah suami kedua, setelah di tinggal wafat suami
pertamanya. meninggalkan 3 anak yatim yang masih kecil-kecil. Jadi
sekarang suaminyalah yang menopang dan ikhlas merawat ketiga anaknya
seperti anak sendiri. Mulai biaya sekolah dan sebagainya....” sambung
mbak Ratna lagi
“ Subhanallah, “. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku
“ oalah mbak Dewi, sampeyan tak fikir gak nyimak obrolan kita, Lha wong
nggethu, kosenstrasi sama merinci pasien pulang, Mbak titik nyelethuk
dengan logat jawa medoknya....
“ Wis kerja, kerja. Kok
ngobrol terus “, lagi-lagi mbak Titik celetukannya, membuat obrolan
itu selesai dan kami kembali pada aktivitas kerja masing-masing.
Tiga hari setelahnya aku melihat status pasien B1 sudah tertata rapi
bersama satus-status pasien yang lain diatas mejaku. Ini menandakan
pasien diperbolehkan dokter pulang. Seperti biasa tugas utamaku adalah
merinci semua biaya, sejak masuk rumah sakit sampai keluar rumah sakit.
Setelah semua aku output/entry biaya dan tindakan pasien dan kuprint
rincian biaya. Setelah itu pasien tinggal membawa rincian ke kasir untuk
diselesaikan pembayaran adminitrasinya.
Lelaki itu datang kepadaku untuk segera menyelesaikan administrasi pulangnya.
“ Mbak Dewi, Ny Indah Prihatiningsih sudah di rinci?”, tanya lelaki
lirih seraya duduk .
Aku
terkejut, manakala ia memanggil namaku. Ah, dari mana ia tahu namaku,
kutepiskan curigaku. Mungkin ada perawat lain yang meberitahukan
penyelesaian administrasi di Mbak dewi, seperti biasanya namaku
disebut. Jadi kalau pasien pulang tinggal menemuiku.
“
Iya pak, ini sudah saya rinci. Total biayanya bisa dilihat dan
pembayarannya di kasir rawat inap ruangannya tiga pintu ke utara”,
tanganku menunjuk tempat itu.
“ Maaf, mbak Dewi lupa sama saya ya? “,
Bagai halilintar aku terkejut mendengar kalimat lelaki itu. Aku pandang lelaki itu, tapi dia tetap tertunduk.
“ Saya Ridho, mbak, saudaranya Mbak Rif’at. 18 tahun yang lalu saya
dan keluarga ke rumah mbak Dewi “, Suaranya pelan, tapi membuat tubuhku
menggigil seperti dialiri listri 1000 Volt.
Ya, Allah...ya Robbi.
Aku hampir tak percaya. Ingatan sekelebatan kembali ke masa lalu.
Lelaki itu adalah lelaki yang aku tolak pinangannya 18 tahun yang
silam.....................
......................................................................................................................................................
Sidoarjo, 26 Agustus 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar