1
Mungkin kau masih bertanya
apa muara dari semua ini, Jan, saat lelah hati
menyuruk perih sampai ke urat mimpi
tengah malam hujan meruntuki hati
kau terbangun dan harus menyusui anak-anak
sementara bapaknya entah bagaimana.
...
Apa pula yang bisa di harapkan dari lekaki
pengayuh angin, selain janji syurga kardusan?
...
Di seberang tanya itu, kusaksikan langit
melengkung bersih tanpa arakan-arakan awan
Ku usap debu-debu yang mengendap pada kisi-kisi jendela
juga pada lantai, nokhtah-nokhtahnya membentuk inskripsi
kecoklatan dan kuterjemahkan sebagai tafsir buta
atas kenyataan. Mungkin ia dari masa lalu yang jauh
semacam jejak-jejak yang tersisa
dari telapak kaki unta Ibn Batutah
atau rombongan para musafir yang baru pulang
dari Negeri Syam, kafilahnya terhempas badai
saat melewati istana angin
berjibaku dengan rindu tanpa alamat
dan keputusasaan. Begitulah, di Muscat
tempat para pelaut melempar sauh
dan mengusap wajahnya yang lusuh
dengan asap kemenyan terbaik--aka-akar Barkhoot
yang didatangkan dari lembah Salalah-- kesepiankupun
memuncak, meloncati menara-menara Babel
tempat orang-orang Farsi dan Sana’a beradu bintang
tentang siapa yang layak menduduki kursi Tuhan
dan menginjakkan kakinya
pada hamparan karpet hijau kitab suci
yang memperanak-pinakkan kebencian
sepanjang abad.
Duh, seperti inikah kerinduan itu
tak serupa Al-Maut yang menyembunyikan wajah pasinya
dalam rupa seorang dewi dari Al-Maqdis
mengenakan Abayya hitam
mengendap-endap di sela pintu dan jendela
lalu menyapa siapa saja yang dijumpainya
dengan geletar musim dingin menggidikkan
Ingin rasanya aku pergi bersamanya
terbang ke ufuk timur dimana matahari bertahta
untuk merebus segala penebusan
agar tak kudengar lagi kabar kelahiran
demi kelahiran baru
atas tubuh dan jiwaku
yang kian merapuh ini.
2
Apakah anak-anak telah tertidur, Jan?
Biasanya Sankan terbangun dan mencari senjata mainannya
Berjaga semalaman sampai pagi, dan urung sekolah lagi.
...
Dari balik gordin, kuintip lazuardi setipis alismu
menggurat di teluk yang diam
Garis yang memisahkan batas langit dan lautan
Hidup yang tak seharusnya berseteru
antara kedalaman dan keluasan.
Tapi perang terus berkecamuk
di dalam batin atau di seberang ranjang kita
di tanah-tanah warisan para Nabi atau dikutub diam
Seribu tahun kita belajar
jauh sebelum kuda-kuda pasukan Templar
menyeberangi laut Caspia yang beku, para serdadu
bertopeng baja menancapkan bendera berwarna darah
dan Afonso de Albuquerque atau si Rambut jagung lainnya
membangun benteng-benteng tanpa hati
sepanjang Gulf of Oman hingga Ternate atau Tidore
Kita telah menyaksikan betapa rapuhnya airmata
dibanding nafsu dan hasrat membinasakan sesama
dan kita hanya sanggup bersembunyi
dibalik senyum polos anak-anak kita
yang bermimpi menjadi Spongebob
tanpa lautan yang berpijar oleh ancaman
rudal-rudal berhulu ledak nuklir
yang tersembunyi di balik garis
keserakahan itu.
Sungguh, kurindu bau apek kamar kita
tempat anak-anak menyusun mimpi-mimpinya
sampai ngompol di celana...Kalembo ade.
3
Apakah anak-anak masih bermain hujan
Atau melemparkan diri pada ayunan di bawah
pohon mangga?
Tak ada hujan di sini.
Musim-musim telah lama berkarat
gunung gunung membiarkan punggungnya
tanpa selimut kabut
pasir-pasir gurun telah menyerapnya
hingga ketulang-sungsum sejarah
di bawahnya pohon-pohon terkubur
menjelma lelelahan emas hitam
yang diperebutkan para naga siluman
dari negeri antah berantah
Sementara buah-buah Pulm berwarna merekah
yang didatangkan dari India
tersaji indah hanya di supermarket.
Dari balik jaket tebalnya, para kuli minyak
yang baru datang dari pedalaman
akan menyembulkan kepala seperti kadal gurun
dengan giginya yang putih dan senyum udik
berebut menyantapnya, sekedar mengingatkan
masa kecil yang tergadai di kampung
halaman, saat mereka beradu gundu atau gasing
di gang-gang sempit sepanjang kota Madras, Mumbay
atau New Delhi yang dipenuhi lautan manusia. Mereka
bekerja tak mengenal waktu, tak membeli mobil
tapi memotongnya kecil-kecil agar bisa dimasukkan
ke dalam saku celana untuk oleh-oleh
bagi keluarga besarnya. Dalam pengaduan nasib,
sebelum memohon restu pada para Sanyasi,
mungkin mereka juga bertanya
bagaimana hidup mampu membuat pilihan
jika semua telah tergenapi?
4
Suara azdan mengambang dari sebuah corong masjid
entah di bilangan mana, seperti mengumandangkan
isyarat lain dari sisa kopi yang mulai dingin. Akupun menghela
nafas, sejenak meletakkan waktu, merebahkan diri serupa debu
pada dingin lantai pualam, dan menyerahkan segenap rindu
kepada pemilik azali-Nya.
Apakah waktu itu seperti undakan dan memiliki ujung
yang meruncing? Atau ia semacam gasing
yang dimainkan anak-anak, terus berputar
dan bergerak melinkar tak tentu arah?
Di sini, dalam kepingan do’a para peziarah
yang memutar arah kiblat masing-masing
kitapun hanya sanggup bertanya tentang arah pulang
dalam hati sendiri
dan menemukan sepotong rindu
tergeletak pada jantung
kesunyian
Muscat-Oman, 2 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar